Jimin berjalan sarkas keluar dari kelasnya. Matanya memerah berkaca-kaca. Dia berlari menuju parkiran kemudian melajukan mobilnya menerobos keluar sekolah.
Entah apa isi kepalanya saat itu, ia sendiri pun tidak mengerti. Sekarang ia hanya ingin membolos dan menenangkan pikiran. Jimin memilih untuk ke pantai. Setidaknya hanya tempat itu yang ia pikirkan sekarang.
Sesampai di pantai, ia memilih memarkirkan mobilnya kemudian berjalan-jalan menyusuri pantai membiarkan sepatunya menapaki pasir halus yang ada di sana. Setelah berjalan-jalan sebentar, Jimin memutuskan untuk duduk tak peduli celananya kotor terkena pasir.
"Apa gua yang jauhin diri gua sendiri dari Rose?"
"Apa gara-gara Seulgi gua berubah?"
"Kenapa seakan gua gak rela lihat Rose sama Jungkook?"
"Apa gua selama ini udah terlalu jahat buat Rose?"
Pertanyaan demi pertanyaan ia ajukan sendiri untuk dirinya. Walaupun tidak ada jawaban yang didapatkan, setidaknya ia sudah mengeluarkan separuh dari pikiran-pikiran yang mengganggunya belakangan ini.
"Eh, Jimin?"
Suara gadis yang tidak asing di telinga Jimin membuat Jimin berbalik.
"Kak Jisoo?" Jimin sama terkejutnya melihat Jisoo yang ternyata memanggilnya.
"Ada masalah apa? Kok kelihatannya frustasi banget," tanya Jisoo tak mengalihkan pandangannya.
"Bukan apa-apa kak," jawab Jimin sambil menunduk.
"Coba deh lo cerita sama gua. Kali aja gua bisa kasih solusi," kata Jisoo sembari berjongkok disamping Jimin.
Jimin kemudian menghela nafas panjang
"Sebenernya gua bingung sama perasaan gua sendiri kak. Gua sekarang gak baikan sama Rose dan gua pun udah punya pacar tapi kenapa seakan gua gak rela lihat Rose makin deket sama Jungkook," curhat Jimin.
Jisoo diam sejenak. Tatapannya yang tadi menatap Jimin langsung teralihkan pada pemandangan di depannya. Pas sekali suasananya apalagi bunyi desiran ombak seperti soundtrack saat Jimin mencurahkan pikirannya.
"Hahaha, kalian lucu deh. Sama-sama sayang tapi sama-sama punya gebetan. Kalian gak rela lihat satu sama lain punya gebetan tapi kalian sendiri gak tega ngelepas gebetan kalian masing-masing." Jisoo tertawa receh.
"Lah, emang Rose sayang sama gua?" tanya Jimin.
"Ya iyalah, orang dia cerita."
"Tapi dia keliatan baik-baik aja. Tapi gua kok gak bisa ya?" herannya.
"Cewek emang susah ditebak. Mereka bisa bersikap biasa aja padahal dalem hatinya udah banyak hal-hal abstrak yang pengen dikeluarin, tapi susah. Jadi demi kebaikan bersama lebih baik dipendam." Jisoo kini tersenyum simpul seolah itu menggambarkan dirinya juga.
"Terus sekarang gua harus apa kak?" tanya Jimin.
"Lo bisa milih. Lo pilih ego lo dan tetap seperti ini atau buang ego lo jauh-jauh dan perbaiki hubungan kalian kayak semula lagi. Selalu ada pilihan dalam hidup dan diri lo sendiri paling tau yang mana pilihan terbaik," papar Jisoo.
"Kalau gitu gua bakal pikirin lagi kak, makasih sarannya," ucap Jimin. "Eh, kak jisoo kok bisa ada di sini?" sambung Jimin bertanya.
"Cuma jalan-jalan sih. Awalnya gua kira pantai ini rame tapi pas gua sampe, ternyata gak ada orang tapi kebetulan gua lihat lo di sini. Soalnya besok gua udah mau balik lagi ke Jepang," kata Jisoo.
"Seriusan udah mau balik ke Jepang? cepet banget," kata Jimin.
"Hehe, iya nih. Btw ini masih jam sembilan. Lo bolos ya?" tanya Jisoo curiga.
KAMU SEDANG MEMBACA
Just Friend [END]
RandomFOLLOW SEBELUM MEMBACA. Bagaimana jika persahabatan yang di bina sejak lama perlahan akan hancur begitu saja hanya karena perasaan sepihak? Namun, siapa yang salah? Tidak ada. Nyatanya perasaan itu tumbuh begitu saja tanpa tahu kepada siapa ia singg...
![Just Friend [END]](https://img.wattpad.com/cover/164308822-64-k988851.jpg)