Tangisan Rose semakin menjadi-jadi dipelukan Jimin. Hoodie yang dipakai Jimin pun basah gara-gara air mata Rose. Rose menyembunyikan wajahnya didada Jimin.
Setelah beberapa menit menangis, akhirnya Jimin mengajak Rose duduk disebuah bangku taman didekat situ. Mereka berdua memandang kedepan dengan tatapan kosong dan dengan pikiran masing-masing. Belum ada yang membuka pembicaraan.
Lihat, bahkan langit malam ini sangat cerah. Ada bulan dan banyak bintang diatas sana. Bahkan bumi pun tidak sepihak dengan suasana hati Rose.
"Makasih." Jimin menoleh ke arah Rose yang baru saja mengucapkan kata itu. Jimin tidak salah lihat kan? Rose baru saja tersenyum ke arah Jimin dengan matanya yang sembab. Jimin masih memandangi Rose dalam-dalam.
"Makasih, kali ini lo berhasil buktiin ke gua kalau lo itu bisa datang saat gua butuh banget sandaran seperti sekarang," lanjut Rose.
Jimin tersenyum sambil menghela nafas panjang mengalihkan pandangannya kebawah.
"Maafin gua yang selalu buat lo sedih." tiba-tiba kata maaf itu kembali keluar dari mulut Jimin.
"Maafin gua yang udah buat lo jadi gini."
"Maafin gua, disaat lo butuh gua selalu gak ada."
"Maafin gua yang selalu nyakitin lo."
"Maafin gua yang udah ingkarin janji bakal jaga lo dengan baik."
"Maafin gua yang gak bisa jadi orang yang baik buat lo."
"Gua bener-bener khilaf waktu itu. Gua juga gak tau kalau Seulgi bisa sebejat itu."
"Plis kasih gua kesempatan satu aja, gua bakal jaga lo baik-baik."
"Gua janji ba–"
"Udah. Gak perlu berjanji lagi. Cukup buktiin!" potong Rose.
"Hm." Jimin berdehem pelan.
"Tapi kamu mau kan maafin saya?" sambung Jimin.
"Pffftt bhahahaha!" tawa Rose meledak seketika saat mendengar kata-kata Jimin barusan. Bukan tanpa alasan, sejak kapan orang didepannya itu menjadi sopan begitu.
"Kenapa kamu ketawa? Gak ada yang lucu kok," ucap Jimin sambil mengerutkan dahinya.
"Cara bicara lo haha. Alay banget njir, pasti semenjak pacaran sama Seulgi nih kan?" Rose masih tertawa.
"Kirain kamu udah gila," Jimin memutar bola matanya malas. Tapi cukup jujur, dia senang sekarang.
"Gila apaan?"
"Soalnya barusan kamu nangis, eh malah ketawa kayak orang kesurupan."
"Sembarangan lo Jim! Udah deh, gak usah formal gitu bicara lo. Gak cocok"
"Hahaha yaudah sih. Lo dari dulu emang gak pernah berubah ya?"
"Gak berubah gimana maksudnya?"
"Masih sama kayak dulu, cem mak lampir, hahaha."
Rose memasang poker face, dia dikatai mak lampir. Seolah tatapannya itu mengisyaratkan ke Jimin belum pernah digampar palanya ya?
"Garing banget sih lo. Gak lucu tau gak!"
"Serah! Yang penting lo udah maafin gua."
"Emang iya?" Rose mengerutkan keningnya.
"Ya iyalah," balas Jimin percaya diri.
"Ah, perasaan gua belum bilang tuh kalau mau terima maaf lo," goda Rose.
"Jahat banget sih lo kutu monyet!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Just Friend [END]
RandomFOLLOW SEBELUM MEMBACA. Bagaimana jika persahabatan yang di bina sejak lama perlahan akan hancur begitu saja hanya karena perasaan sepihak? Namun, siapa yang salah? Tidak ada. Nyatanya perasaan itu tumbuh begitu saja tanpa tahu kepada siapa ia singg...
![Just Friend [END]](https://img.wattpad.com/cover/164308822-64-k988851.jpg)