Hari ini Rose dan Jimin bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Mulai dari pagi-pagi buta, Jimin yang mengurus semua keperluar sekolah Rose mulai dari buku, alat tulis, dan lain-lain.
"Jimin, tolong ambilin tas gua di sono dong," suruh Rose sambil menunjuk tasnya di atas nakas.
"Bentar," ucap Jimin lalu bangkit mengambilkan tas Rose kemudian memakaikannya dipunggung gadis tersebut.
"Udah, ayo turun."
Jimin kemudian memapah Rose turun ke lantai bawah dengan susah payah. Tetapi Jimin menganggap ini sebagai cobaan, dan ia berusaha tabah.
"Ribet banget astaga," protes Jimin yang kini sudah duduk di meja makan bersama mamanya dan tentu saja Rose juga.
"Hehe, maap," ucap Rose sambil nyengir tak berdosa.
"Ma, Papa mana?" tanya Jimin saat melihat kursi Sang kepala keluarga kosong di sana.
"Papa udah berangkat dari tadi pagi," jawab mama Jimin, "oh ya, Rose kaki kamu gimana?" lanjutnya beralih menatap gadis yang duduk di depannya.
"Ini udah mendingan daripada kemarin tante, tapi masih sakit sih," jawab Rose sambil melihat kakinya
"Oh gitu. Jimin kamu harus jagain Rose ya? Turutin semua apa yang dia minta, kalo gak, uang jajan kamu mama potong," tegas mama Jimin.
"Iya ma," ucap Jimin pasrah dan Rose hanya tersenyum senang menatap Jimin. Jimin tidak bisa membayangkan akan serepot apa dirinya disekolah nanti. Mungkin mudah saja jika mereka sekelas, tetapi tidak, kelas mereka bahkan tidak berdekatan.
Sesudah makan, mereka berdua langsung menuju ke sekolah mengendarai mobil. Baru pagi begini, tenaganya sudah terkuras karena harus membantu Rose berjalan.
Padahal semalam Jimin sudah berusaha membujuk Rose agar tidak usah bersekolah, namun ia tetap kekeuh ingin pergi ke sekolah.
Setelah Jimin memarkirkan mobil, ia kemudian keluar kemudian membuka pintu mobil lalu memapah Rose.
"Pelan-pelan," ucap Rose.
"Iya," balas Jimin dengan nada tidak mengenakkan.
Sepanjang koridor mereka berdua menjadi pusat perhatian, bukan karena Jimin yang membantu Rose tapi karena keadaan kaki Rose yang di perban membuat beberapa siswa bertanya-tanya kenapa bisa seperti itu.
"Aduh, Jimin! Lo ikhlas gak sih?!" bentak Rose saat Jimin membawanya dengan terburu-buru.
"Gua ikhlas kok, maaf," ucap Jimin.
"Santai aja dong, belum bell juga."
Jimin hanya bisa menghela nafas pasrah. Dia harus sabar. Jika tidak, maka uang jajan berharganya yang menjadi konsekuensi.
Di kelas Rose...
"Ya ampun, Rose! Gua kira lo gak sekolah," ucap Lisa yang melihat Rose dan Jimin memasuki kelas. "Biar gua aja yang bantu dia, Jim," lanjutnya lalu membantu Rose berjalan menuju bangkunya.
"Kayaknya kaki lo belum sembuh, ngapain sekolah sih kalo masih sakit?" kali ini Jungkook angkat bicara.
"Hehe, ini udah mendingan daripada kemarin, kok."
"Tapi tetep aja. Lo ke sini sama siapa?" tanya Jungkook.
"Kambing lo! Emang gua makhluk ghoib apa? Bisa-bisanya lo gak lihat gua bersusah payah nganterin Rose!" bentak Jimin.
"Oh, maap. Lo terlalu pendek soalnya, hahaha!" tawa Jungkook meledek.
"Ketawa aja sepuasnya, takutnya taik lo keluar kalo nahan tawa," balas Jimin.
KAMU SEDANG MEMBACA
Just Friend [END]
RandomFOLLOW SEBELUM MEMBACA. Bagaimana jika persahabatan yang di bina sejak lama perlahan akan hancur begitu saja hanya karena perasaan sepihak? Namun, siapa yang salah? Tidak ada. Nyatanya perasaan itu tumbuh begitu saja tanpa tahu kepada siapa ia singg...
![Just Friend [END]](https://img.wattpad.com/cover/164308822-64-k988851.jpg)