Flashback on
Seulgi berlari menghampiri Jimin yang duduk sendirian di dalam kelas yang sudah sepi. Entah mengapa lelaki itu masih disana saat semua orang sudah pulang.
"Hiks, Jimin, kayaknya kita gak bisa lanjut hubungan ini lagi. K-kita putus aja," ucap Seulgi berlinang air mata.
"Loh, kenapa? Kok kamu tiba-tiba mutusin aku gitu sih? Aku punya salah?" tanya Jimin panik. "Tunggu, pipi kamu ... " Jimin semakin kaget saat melihat pipi Seulgi yang tampak memerah.
"Aku ... aku cuma gak mau jadi orang ketiga. Gara-gara aku, persahabatan kalian sampai hancur. Sebenernya aku juga gak rela mutusin kamu, tapi ngeliat Rose yang marah banget ke aku, itu bikin aku takut," rintih Seulgi masih mengeluarkan air mata.
Mendengar penuturan Seulgi, Jimin mengepalkan tangannya. Hal ini malah membuatnya semakin tidak bisa berpikir jernih.
"Kamu tenang, oke? Aku sayang sama kamu dan gak bakal lepasin kamu. Percaya sama aku, ya?" kata-kata itu terucap lagi dibibir Jimin. Sebelumnya dia pun pernah mengatakan itu tapi kepada orang yang berbeda, yaitu Rose.
"Udah, jangan nangis lagi. Aku bakal beresin semuanya sekarang!" tegas Jimin.
Flashback off
"Lo apa-apaan sih?!"
Rose menghempaskan tangan Jimin yang baru menariknya agak jauh dari tempatnya sebelumnya. Ia juga melihat Seulgi yang bersembunyi di belakang Jimin dan Rose paham apa yang terjadi sekarang.
"Mau lo apa sih, Rose?" tanya Jimin dengan nada rendah.
"Ya apa?" tanya Rose kembali sambil menyipitkan matanya karena panas dan dirinya merasa pusing.
"Wah, sekarang lo pura-pura gak tau? Setelah lo maki-maki Seulgi, lo gak ngerasa bersalah gitu? Dan bahkan lebih buruknya lagi lo nampar dia!" ucap Jimin sambil menunjuk Seulgi.
Rose memandang Jimin dan Seulgi jenuh sambil menghela nafas. "Jim, lo gak tau dia ini aslinya kayak gimana, dia ini gak sepolos yang lo lihat. Dia itu munafik, Jim!" tekan Rose.
"Udah cukup, Rose! Gak ada gunanya juga lo jelasin, karena gua udah tau semuanya. Lo harusnya malu karena udah mencoba jadi perusak di hubungan orang!" ucap Jimin menekankan kata 'perusak'.
Rose hanya tersenyum miring kemudian berkata, "lo terlalu naif sampai gak sadar siapa sebenarnya yang perusak di sini!" ucap Rose juga menekankan kata 'perusak'.
"Gua bener-bener gak nyangka, ternyata lo ... " Jimin menggantungkan kalimatnya sambil menatap Rose dingin.
"Munafik!"
Bugh!
Sebuah pukulan keras menghantam wajah Jimin sampai membuat tubuhnya linglung.
Bugh!
Pukulan kedua yang ia dapatkan membuatnya langsung tersungkur.
"Sebrengsek itu kah lo jadi cowok?" geram Jungkook sambil menarik kerah baju Jimin dan kembali memukulnya.
Bugh!
"Ternyata lo pengecut yang suka ngebentak cewek. Apa lo gak punya rasa malu? Dia itu sahabat lo, Jimin! Sahabat yang katanya bakalan lo lindungi dari orang jahat. Dan sekarang, lo sendiri yang jadi orang jahat itu!" tekan Jungkook tajam.
Sementara itu, Jimin sama sekali tidak melakukan perlawanan. Ia merasa bersalah dan sangat pantas menerima itu semua.
Rose pun menangis melihat perkelahian itu. Ia juga tidak bisa melerainya. Tubuhnya dipenuhi keringat dingin, kakinya lemas dan pandangannya sudah berkunang-kunang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Just Friend [END]
SonstigesFOLLOW SEBELUM MEMBACA. Bagaimana jika persahabatan yang di bina sejak lama perlahan akan hancur begitu saja hanya karena perasaan sepihak? Namun, siapa yang salah? Tidak ada. Nyatanya perasaan itu tumbuh begitu saja tanpa tahu kepada siapa ia singg...
![Just Friend [END]](https://img.wattpad.com/cover/164308822-64-k988851.jpg)