"Kang Seulgi."
"Hah?" Lisa terkejut mendengar jawaban Jungkook. "Jadi selama ini dia .... " Lisa menggantungkan kalimatnya dan Jungkook mengangguk seolah tahu apa yang gadis itu pikirkan.
"Ya, seperti yang kita duga sebelumnya," jawab Jungkook mantap.
"Gila ya! Wah kebetulan banget, udah lama gua pengin lihat tuh anak menderita," kata Lisa mengepalkan tangannya.
"Tenang, kita perlu susun rencana dulu."
"Caranya gimana?" tanya Lisa.
"Jadi pertama-tama pas kejadian liburan di villa Irene kemaren. Kan kecurigaan kita muncul di situ tuh, gua yakin banget kalo Seulgi yang lakuin semua itu ke Rose." jelas Jungkook. "Kita harus ke villa itu. Pasti ada bukti yang tertinggal di sana. Waktu itu kita gak sempat cek CCTV yang ada di sana," sambung Jungkook.
"Lah, emang di villa itu ada CCTV?" tanya Lisa dengan tampang polos.
"Nah, itu gua gak tau juga. Nanti gua tanya Irene deh." Jungkook berkata dengan santainya sambil menyeruput minuman yang sebelumnya ia pesan.
"Oalah! Gua kira lu udah pastiin ada CCTV di sana," celoteh Lisa.
"Lo bisa kan bantu gua?" tanya Jungkook kembali.
"Ya jelas bisa dong, gua gak mungkin biarin Seulgi nyakitin Rose. Tapi kita cuma berdua? Kenapa ga ajak yang lain juga?" tanya Lisa.
"Ya, kita cuma berdua. Kita gak usah ajak yang lain, takutnya nanti masalahnya makin ribet kalo kita banyak," ucap Jungkook masih dengan tatapan yang serius.
"Ehm. Ya terserah lo aja sih. Yang intinya gua siap bantu dengan senang hati kok," ucap Lisa agak gugup. "Tapi kan, kalo mau ke situ harus kasih tau Irene dulu. Gimana dong?" lanjut Lisa.
"Masalah itu biar gua yang urus. Lo tenang aja. Gua bakal kabarin kalo kita udah mau mulai," kata Jungkook.
"Oke lah," jawab Lisa sekenanya.
"Yaudah, kalo gitu yok balik ke Rose!" ajak Jungkook.
___________________
Jimin sekarang berada di balkon kamarnya. Sudah beberapa hari berlalu sejak kejadian itu, dia tidak pernah mendengar kabar sedikit pun tentang keadaan Rose. Ia tahu bahwa Rose sedang tidak baik-baik saja, tetapi memikirkan perbuatannya, pasti Rose sudah tidak peduli dan sudah sangat membencinya.
Ada perasaan khawatir sebenarnya, tetapi pikiran Jimin sekarang kacau. Ia frustasi karena dirinya sendiri yang tak tahu harus apa.
"Jimin, kok belakangan ini rumah Rose sepi?" mama Jimin tiba-tiba muncul dan membuyarkan lamunan Jimin.
"Gak tau ma," ucap Jimin tak bersemangat.
"Anak mama kenapa sih, kok kayak gak semangat? Ada masalah? Coba cerita ke mama. Belakangan ini mama gak pernah dengar cerita kamu," ucap mama Jimin lembut menyadari ada perubahan perilaku pada putranya.
Jimin menghela nafas. Dia tidak mungkin menceritakan semuanya ke mamanya. Dia takut mamanya akan marah jika tahu perbuatannya pada Rose.
"Kok diem aja?" mama Jimin kembali bertanya.
"Gapapa ma, semuanya baik-baik aja kok," ucap Jimin tersenyum setengah hati.
"Kalau kamu ada masalah dan butuh tempat cerita, jangan segan-segan bilang ke mama ya? Mama bakal dengerin semua kok," balas mama Jimin sambil mengelus rambut Jimin.
"Iya ma."
Drt! Drt!
Getar singkat menandakan ada notifikasi berupa pesan yang masuk di ponsel Jimin.
KAMU SEDANG MEMBACA
Just Friend [END]
DiversosFOLLOW SEBELUM MEMBACA. Bagaimana jika persahabatan yang di bina sejak lama perlahan akan hancur begitu saja hanya karena perasaan sepihak? Namun, siapa yang salah? Tidak ada. Nyatanya perasaan itu tumbuh begitu saja tanpa tahu kepada siapa ia singg...
![Just Friend [END]](https://img.wattpad.com/cover/164308822-64-k988851.jpg)