"Rose mana sih? Dari tadi belum keluar juga!" kesal Jimin yang sedari tadi menunggu Rose.
"Bukannya tadi dia perginya sama Hanbin?" celetuk Seulgi yang menemani Jimin di sana.
"Nah itu dia. Masalahnya, Si Hanbin udah pulang duluan dan malah nitipin Rose ke gua. Mana HPnya gak aktif lagi." Jimin lanjut mengeluh.
"Sabar aja, gak lama lagi pasti dateng kok," ucap Seulgi sambil tersenyum hangat.
Beberapa menit berselang, akhirnya Rose muncul juga. Hanya saja, ia tidak sendiri, melainkan bersama Jungkook.
"Lo dari mana aja sih? Kok lama? Gua nungguin lo tau!" cecar Jimin.
"Kenapa lo gak duluan aja? Kan gua perginya ama Hanbin tadi," kata Rose berusaha tenang.
"Dia udah pulang duluan. Ayo buru, apa lo mau jalan aja?" ucap Jimin buru-buru sambil membuka pintu mobilnya.
Sementara Rose masih diam di tempatnya, tak bergeming sama sekali. Hal itu membuat Jimin Heran dan memperhatikan Rose dengan intens.
"Nada bicara lo bisa diperbaiki gak? Dia cewek loh, gak baik lo ngomong gitu!" Jungkook menengahi. "Biar gua yang anterin Rose pulang.
Mendengar perkataan itu, Jimin menghela nafas pendek sembari menatap Jungkook tak suka. Pria yang lebih tinggi darinya itu selalu saja menjadi penengah. Jimin tidak suka itu.
"Yaudah. Gua minta maaf," kata Jimin menatap Rose. "Pulang bareng gua ya?" sambungnya.
"Gapapa kok, lo duluan aja. Gua sama Jungkook. Btw selamat ya kalian, semoga langgeng," ucap dengan senyum terpaksa dan suaranya yang agak bergetar.
Tanpa menunggu tanggapan Jimin, Rose langsung pergi dari sana. Tidak sanggup berlama-lama melihat Jimin dan Seulgi. Dan tentang Jungkook? Entahlah, ia tak ingin memikirkan itu sekarang.
Jimin yang melihat Rose pergi begitu saja merasa heran. Ia cukup sadar jika ada sesuatu yang terjadi, hanya saja ia tidak cukup peka untuk mengetahui bahwa dirinya sendiri lah penyebabnya.
🌹¤¤¤¤¤¤¤¤🌹
"Rosee!! Banguun! Kamu udah telat tuh!" Mama Rose berteriak membangunkan Rose yang masih terlelap dalam mimpinya.
"Ngghh," Rose akhirnya terbangun dan langsung melihat jam dinding dengan pandangannya yang masih agak memburam.
"Astaga mamaa! Rose udah telat!" rose kaget setengah mati menunjukkan jam udah pukul 07.11 sedangkan gerbang sekolah Rose tutup pukul 07.15.
Rose langsung lompat dari kasurnya kemudian bergegas ke kamar mandi. Setelah siap-siap, dia langsung keluar dan betapa terkejutnya dia saat menemukan seseorang yang sedang duduk di kursi teras rumahnya. Seperti biasa, dia seseorang yang tidak asing.
"Jimin?" Rose terkejut.
"Eh, keluar juga lo. Ayo cepetan. Kita harus siap dijemur di lapangan," kata Jimin yang sedari tadi menunggu Rose.
Jimin kemudian berdiri dari duduknya dan berjalan keluar dari pekarangan rumah Rose. Rose yang mengekor dibelakang sudah paham. Melihat tidak ada kendaraan yang dibawa Jimin, artinya mereka naik bus lagi.
Saat di Bus, Rose sangat tersiksa. Keadaan bus saat itu sangat penuh dan ia terhimpit diantara ibu-ibu berbadan besar. Sial sekali, belum lagi jika nanti harus menerima hukuman di sekolah.
Jimin yang melihat Rose terhimpit, langsung menarik Rose ke arahnya. Sontak, Rose terkejut dengan perlakuan Jimin yang tiba-tiba. Aneh menurutnya, karena biasanya Jimin paling sering menari diatas penderitaannya.
Sialnya lagi, jantungnya malah berdetak tak karuan.
'Ingat Rose, dia punya Seulgi' batin Rose menyadarkan dirinya.
***
Sekarang Rose dan Jimin sudah ada di depan pintu kelasnya. Mereka berdua tampak terengah-engah. Mereka habis lari tergopoh-gopoh setelah membujuk pak satpam dengan rayuan racun Jimin.
"Rose! Jimin! Kenapa kalian telat!?" tanya pak Seungri.
"Anu pak, saya kesiangan," jawab Rose cepat.
"Alasan kamu pasaran, gak ada yang lebih berkelas apa? Seperti mandi kembang tujuh rupa lalu membentang karpet merah kemudian berjalan layaknya seorang putri raja," kata pak Seungri yang membuat Rose cengo. Apa maksudnya coba.
"Kalo kamu? Alasan kamu terlambat apa?" lanjut pak Seungri menatap Jimin.
"Saya nungguin Rose, pak," kata Jimin santai.
"Hm menarik. Jadi kalo misalkan Rose sudah menikah, kamu tetap nunggu dia? Tau sendiri kan menunggu itu tidak enak?" kata pak seungri
"Tau pak."
Detik berikutnya, pak Seungri tampak berpikir beberapa saat. Matanya menerawang ke arah Jimin dan Rose.
"Ck ck ck, gelap masa depan," tutur pak Seungri membuat Jimin dan Rose memandang heran satu sama lain. "Ya sudah, kalau begitu sebagai hukuman, kalian silahkan berdiri di lapangan basket sampai jam pelajaran saya selesai!" finish pak Seungri.
Tak ingin menjadi murid durhaka yang ilmunya tak berfaedah, alhasil Jimin dan Rose menuruti perkataan pak Seungri. Mereka kini sudah berada di lapangan basket.
Matahari pagi mungkin tak apa. Vitamin D akan berguna bagi tubuh mereka. D is for Dehidrasi.
"Pak, saya gak bawa buku sastra!" sahut Jungkook berbohong
"Susul mereka!" pungkas pak Seungri sambil menunjuk ke pintu keluar.
Dengan senang hati, Jungkook keluar dari dalam kelas, menuju lapangan basket. Ia sengaja, tak ingin membiarkan Rose berdua dengan Jimin.
"Jungkook, lo ngapain di sini?" tanya Rose heran saat Jungkook tiba-tiba berdiri ditengah-tengah, diantara Rose dan Jimin.
"Gua gak bawa buku sastra, lagi pula lo kasian sendiri di sini," tutur Jungkook.
Perkataan Jungkook langsung membuat Jimin menoleh sambil berkata, "sendirian? Lo anggep gua apa woi?"
"Lo kan punya pacar, jadi gak sendirian dong. Ya 'kan?" finish Jungkook membuat Jimin bungkam.
Suasana saat itu sangat canggung. Masing-masing berkutat dengan pikiran sendiri. Matahari pun sudah semakin meninggi dan belum ada tanda-tanda pak Seungri akan mengakhiri kelasnya.
Jungkook memperhatikan Rose yang sedari tadi menghapus peluhnya. Ekspresi lelah sangat kentara pada wajah Rose.
"Lo gapapa, Rose?" tanya Jimin yang juga memperhatikan Rose dari tadi.
"Lo pucat, ayo gua bawa ke UKS," ujar Jungkook langsung memegang tangan Rose.
"Gua gapapa kok. Tenang aja" tolak Rose sambil berusaha tersenyum
"Yakin gapapa?" Jungkook memastikan.
"Iya, santai aja."
"Ck, pak Seungri lama banget dah keluarnya. Mana ini matahari panas banget lagi," keluh Jimin.
"Ya emang panas, kalo gak panas bukan matahari namanya," ucap Jungkook.
"Gua tau kali, orang gua cuma ngeluh." Jimin menimpali.
"Jangan suka ngeluh deh lo. Gak baik. Gini aja lo udah ngeluh, gimana nasib lo kelak di neraka nanti? Baru panas matahari aja udah letoy," sungut Jungkook.
"Sembarangan lo! Emang tuhan udah nentuin apa?"
"Belum sih, tapi udah jelas."
Kepala Rose tambah pening mendengar oceham dua cowok itu. Mereka mengoceh hal-hal yang tidak penting, rasanya ada api tersulut di ubun-ubun Rose.
"kalian ini bisa diem dikit ga sih?! Kalo kalian terus terusan ngoceh gak jelas kalian–"
Bruukkk
Tbc
Pendek yah hehe.
.
Terus vote & komen yah.
Kasih saran kalau ada kekurangan
Makasih.
KAMU SEDANG MEMBACA
Just Friend [END]
DiversosFOLLOW SEBELUM MEMBACA. Bagaimana jika persahabatan yang di bina sejak lama perlahan akan hancur begitu saja hanya karena perasaan sepihak? Namun, siapa yang salah? Tidak ada. Nyatanya perasaan itu tumbuh begitu saja tanpa tahu kepada siapa ia singg...
![Just Friend [END]](https://img.wattpad.com/cover/164308822-64-k988851.jpg)