Suara langkah kaki Rose memecah keheningan di rumahnya pagi itu. Sejak kemarin, suasana hatinya tidak baik. Seharusnya ia sudah harus membiasakan diri dan tidak peduli lagi, tetapi ia tidak bisa. Tanpa sepatah kata, Rose berangkat sekolah naik angkutan umum seperti biasa.
Saat di sekolah, di sepanjang koridor menuju kelasnya, tak hentinya sorot mata tertuju padanya. Rose merasa bingung sekaligus risih dengan pandangan aneh mereka.
"Eh itu Rose."
"Hati-hati deh sama dia."
"Dia tukang bully."
"Kasian Seulgi, padahal dia anak baik."
Mendengar percakapan beberapa siswi, Rose akhirnya paham keadaan. Jadi hal ini yang dimaksud Lisa. Gosip tidak berdasar yang tertuju padanya. Sepersekian detik berikutnya, Rose mempercepat langkahnya. Ia berniat menghampiri Lisa dan Irene lalu akan menjelaskan segalanya bahwa dirinya tidak salah.
Kebetulan, Lisa dan Irene berdua tengah berbincang di dekat pintu masuk kelas.
"Lisa, Irene! Gua mau jelasin tentang gosip itu. Itu cuma gosip, gua sama sekali gak salah disini. Gua cuma korban plis percaya sama gua," kata Rose memelas.
"Bentar. Lo tenang dulu, oke?" ucap Irene yang agak bingung karena Rose bicara terlalu cepat.
"Yakin cuma gosip? Tapi ini udah nyebar satu angkatan. Kalo bener itu gosip, gak mungkin Jimin segitu marahnya ke lo," timpal Lisa.
"Kalian kenapa sih? Hanya karena banyak yang ngomong gitu terus kalian ikutan percaya juga? Terutama lo, Lis. Lo paling percaya sama gua!" balas Rose meninggikan nada suaranya.
Saat itu Irene hanya tersenyum kecut dan Lisa memalingkan pandangannya malas. Kemudian Lisa menarik Irene masuk ke kelas membiarkan Rose sendirian di luar sana. Situasinya semakin berantakan dan Rose tidak bisa mengatasinya jika sendirian.
"Jangan nyerah, Rose." tiba-tiba dari belakang ada yang menepuk bahunya.
"Jennie?"
Jennie tersenyum lembut seolah mengerti betul perasaan Rose. Gadis dingin itu tidak percaya gosip. Rose bersyukur masih ada yang mempercayainya sekarang.
"Lo ingat kan, gua selalu ada di pihak lo," kata Jennie membuat Rose mengangguk sembari tersenyum hangat.
Mumpung jam pertama belum dimulai, Rose berjalan menuju taman belakang sekolah yang seperti sudah menjadi tempatnya menenangkan diri ketika ada masalah.
"Rose," panggil Jungkook yang tiba-tiba ada di sana. Lelaki itu selalu muncul ketika Rose membutuhkan sandaran.
"Hm?" Rose menoleh melihat Jungkook dengan tatapan yang kosong.
"Kok lo gitu sih? Kenapa gak cerita kalo ada masalah?" tanya Jungkook yang pasti sudah mendengar gosipnya.
Rose memilih bungkam, enggan menjawab pertanyaan Jungkook.
"Maaf. Gua cuma gak mau ngerepotin," ucap Rose singkat.
"Tolong, berhenti simpan sendirian masalah lo. Lo harus cerita kalo ada sesuatu. Jangan dipendam, nanti jadi penyakit," balas Jungkook.
"Maaf," lirih Rose. "Gua boleh pinjam bahu lo buat bersandar?" sambungnya bertanya.
Tak perlu menunggu jawaban, Jungkook langsung membawa kepala Rose ke bahunya untuk bersandar. Jungkook paham betul kalau Rose butuh sandaran sekarang. Di situasi seperti ini, Rose memang lemah.
"Udah, gapapa kok," kata Jungkook mengelus surai kecoklatan milik Rose. "Gua besok berangkat ke jepang," sambung Jungkook tiba-tiba.
"Hah, ngapain?" Rose terkejut mendengar ucapan Jungkook dan langsung kembali ke posisinya semula sembari menatap Jungkook bingung.
"Pertukaran pelajar. Emang lo gak tau?" tanya Jungkook.
Rose menggeleng. Jangankan tentang pertukaran pelajar, gosip yang sudah menyebar beberapa hari saja ia baru tahu.
"Bareng siapa aja?" tanya Rose kembali.
"Hm lupa namanya, anak kelas 10 sama kelas 11 jadi masing-masing perwakilan per angkatan gitu," jelas Jungkook.
"Oh gitu ya," ucap Rose sambil manggut-manggut paham.
•••
Jam istirahat pertama, Jimin dan Seulgi berada di kantin sekarang. Dua sejoli itu tidak pernah lepas belakangan ini bahkan hubungan mereka sudah menjadi rahasia umum.
"Jimin, kamu gak makan?" tanya Seulgi saat Jimin hanya diam tak menyentuh makanan di hadapannya.
Jimin pun tak menanggapi pertanyaan Seulgi. Pikirannya dipenuhi hal-hal lain yang sepertinya sudah bersarang dan bertambah hari demi hari
"Jimin!" sekali lagi Seulgi kembali memanggil Jimin.
"Eh, iya kenapa?" tanya Jimin yang baru tersadar dari lamunannya.
"Mau makan apa enggak?" tanya Seulgi.
"Oh iya, mau kok," jawab Jimin seadanya.
Hari ini sekolah dipulangkan cepat karena ada rapat. Rose kini sudah berada di parkiran menunggu Jungkook yang tengah mengeluarkan mobilnya. Jungkook menawarinya untuk mengantarnya pulang dan Rose menerimanya.
"Jungkook!" panggil Lisa saat Jungkook turun dari mobilnya hendak memanggil Rose.
"Kenapa Lisa?" tanya Jungkook.
"Boleh nebeng gak? Soalnya supir gak bisa jemput terus Jennie sama Irene juga udah pulang duluan bareng Taehyung sama Yoongi. Boleh ya? Kan kita searah," Lisa memelas.
Rose yang melihat itu langsung menghampiri mereka berdua. Karena jarak mereka tidak terlalu jauh, Rose bisa mendengar itu. Dan ia memilih untuk mengalah. Suasana akan lebih canggung jika ia bertemu dengan Lisa.
"Jungkook, gua duluan ya? Udah di jemput soalnya. Maaf ya," kata Rose bohong.
"Lah tumben," heran Jungkook.
"Duluan ya, bye!" Rose melambaikan tangan kemudian buru-buru meninggalkan Jungkook dan Lisa di parkiran.
Rose berlari sekencang mungkin ke tempat persinggahan bus agar Jungkook tidak melihatnya. Sialnya hari ini dewi fortuna tak berpihak padanya. Seseorang yang tidak ia harapkan tengah duduk di sana.
Itu adalah Jimin dan hanya ada mereka berdua di halte. Dan tiba-tiba turun gerimis hingga Rose lebih meneduhkan dirinya.
Lama kelamaan, hujan turun dengan derasnya sementara bus belum ada yang berhenti. Ditambah dengan angin kencang membuat hidung Rose memerah karena kedinginan. Sejak kecil ia tidak pernah tahan dengan suhu dingin. Rose pun menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya agak merasa lebih hangat.
Kemudian Rose memejamkan matanya, dan dia merasa ada sesuatu yang hangat menempel di tubuhnya. Ternyata, Jimin memasangkan jaketnya pada Rose.
Rose langsung mematung melihat Jimin yang sudah sedekat itu. Jantungnya kembali berpacu tajam. Jujur saja dia rindu Jimin. Pikirannya berputar mengingat kembali bagaimana biasanya ia dan Jimin selalu menunggu bus berdua di halte.
"Pake, bisa-bisa nanti lo flu kalo kedinginan," ucap Jimin sedangkan Rose hanya diam, otaknya masih mencerna kejadian barusan. Sekilas Rose melihat leher Jimin, hatinya masih bisa tersenyum melihat liontin itu masih setia di tempatnya.
Mereka terlarut dalam pikiran masing-masing. Jimin masih dengan perasaannya yang kacau sedangkan Rose? Tiba-tiba ia memikirkan ulang tahunnya dua hari kedepan. Di ulang tahun sebelumnya, ia selalu merayakannya bersama teman-temannya dan tentu saja Jimin tak pernah absen.
Namun, sekarang Rose membuang jauh-jauh pikiran itu. Dengan keadaannya sekarang, itu kemungkinan kecil ulang tahunnya akan normal seperti tahun-tahun sebelumnya. Ia tidak begitu berharap banyak.
To Be Continued...
KAMU SEDANG MEMBACA
Just Friend [END]
RandomFOLLOW SEBELUM MEMBACA. Bagaimana jika persahabatan yang di bina sejak lama perlahan akan hancur begitu saja hanya karena perasaan sepihak? Namun, siapa yang salah? Tidak ada. Nyatanya perasaan itu tumbuh begitu saja tanpa tahu kepada siapa ia singg...
![Just Friend [END]](https://img.wattpad.com/cover/164308822-64-k988851.jpg)