Sepertinya minggu pagi ini agak sunyi karena hujan turun agak deras. Mungkin sebagian orang pun malas untuk beraktivitas di cuaca dingin. Lebih enak kalau tidur. Begitupun dengan Rose yang masih terlelap dalam tidurnya padahal jam sudah menunjukkan pukul 09.38 tapi dia belum sadar dari alam mimpinya.
Bukk!! Bukk!! Bukk!!
"Rose, bangun nak. Udah siang ini!!" mama Rose berteriak dari luar sambil menggedor pintu kamar Rose yang terkunci.
"Nghh. Iya ma!" teriak Rose lesu karena masih mengantuk.
Rose dengan malas bangun dari kasurnya, dia mengucek matanya yang masih sembab akibat menangis semalaman. Kemudian Rose bergegas ke kamar mandi hanya untuk sekedar membasuh muka.
"Pagi ma, pa," sapa Rose kepada kedua orang tuanya kemudian duduk dimeja makan yang telah tersedia beberapa makanan disana.
"Besok udah ujian akhir ya?" tanya papa Rose.
"Iya pa."
"Kalau udah tamat mau kuliah dimana?"
"Belum terlalu mikirin itu pa, sekarang masih fokus buat persiapan ujian akhir."
"Oh ya sudah, kamu belajar yang giat biar nanti kalau udah masuk kuliah gak ribet lagi," celetuk mama Rose.
"Iya ma," jawab Rose pasrah.
Setelah makan, Rose hendak kembali ke kamarnya tetapi sudah di tahan duluan sama mamanya.
"Eh rose, tolong bawakan ini ke rumah Jimin," kata mama Rose menyuruh Rose mengantarkan kue bolu kukus ke rumah Jimin.
"Tapi ma–"
"Fapapa, ini salah satu cara." Mama Rose mengedipkan sebelah matanya.
Rose kemudian menelan ludah dan memandangi kue itu seakan berkata dalam hati, 'kenapa harus kayak gini caranya?'
"Lah malah bengong. Nih." Mama Rose membuyarkan lamunan Rose sembari menyodorkan kue tersebut.
"Kenapa gak mama aja sih yang anterin?"
"Udahlah, jangan banyak bicara. Anterin aja." mama Rose meletakkan piring yang berisi kue ketangan Rose dan pergi. Sedangkan Rose hanya bisa pasrah saja.
Dengan langkah gontai, Rose dengan terpaksa berjalan kaki ke rumah Jimin dengan nampan yang berisi kue di tangannya.
"Permisi!! Tantee!!" teriak Rose dari luar rumah sambil mengetuk pintu.
Tak perlu menunggu lama, akhirnya perempuan yang masih awet muda membukakan pintu. Siapa lagi kalau bukan mama Jimin.
"Loh tante kenapa? Tante abis nangis ada masalah apa?" tanya Rose panik melihat mama Jimin dengan mata sembab.
Akhirnya Rose di persilahkan masuk dan mengobrol di dalam.
"Rose, tante khawatir sama Jimin. Dia belum pulang sampai sekarang, tante udah coba telepon juga tapi gak di angkat-angkat. Tante khawatir," ucap mama Jimin penuh kekhawatiran.
"Rose, kamu gak tau dimana Jimin? Kenapa kalian gak pernah bareng lagi? Kalian berdua ada masalah apa?" lanjut mama Jimin bertanya.
Rose seketika tercekat mendengar pertanyaan itu. Secara pribadi dia memang tak akur dengan Jimin tapi dia tidak ingin melibatkan orang tua Jimin dalam masalahnya itu.
Rose kemudian menghela nafas panjang dan menceritakan dengan panjang lebar apa yang sebenarnya terjadi. Mulai dari Jimin yang berpacaran dengan Seulgi dan membuat mereka terasa jauh, Seulgi yang menuduh Rose dan Jimin yang membela Seulgi habis-habisan hingga sampai mengabaikan Rose. Semuanya Rose ceritakan tanpa ada yang disembunyikan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Just Friend [END]
De TodoFOLLOW SEBELUM MEMBACA. Bagaimana jika persahabatan yang di bina sejak lama perlahan akan hancur begitu saja hanya karena perasaan sepihak? Namun, siapa yang salah? Tidak ada. Nyatanya perasaan itu tumbuh begitu saja tanpa tahu kepada siapa ia singg...
![Just Friend [END]](https://img.wattpad.com/cover/164308822-64-k988851.jpg)