Jepitan Rambut

82 8 0
                                        


Karena takut lebih salah lagi, Regina langsung keluar mobil, membawa jepitan rambut itu dan masuk ke rumahnya Heny. Jonathan masih bingung kalau sampai Megan tahu soal ini dan berharap mudah-mudahan Megan tidak menghafal semua barang-barangnya yang sering berserahkan di mobil.

***

Steve dan Iqbal sebenarnya kaget melihat reaksi Jonathan saat menarik tangan Regina, tapi mereka membiarkannya.

Steve mau menelpon Jonathan saat Jonathan mengantar Regina tapi Iqbal melarangnya. Tidak sampai satu jam Jonathan muncul. Steve dan Iqbal hanya tersenyum.

"Gimana tadi? Apa tuan putri mu tiba dengan selamat?, ia tidak diganggu orang kan?" tanya Steve menggoda, sebenarnya maksudnya Jonathan tidak mengganggu Regina

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Gimana tadi? Apa tuan putri mu tiba dengan selamat?, ia tidak diganggu orang kan?" tanya Steve menggoda, sebenarnya maksudnya Jonathan tidak mengganggu Regina.

Jonathan tidak bicara, hanya tersenyum sambil menikmati kejadian tadi di mobil. Iqbal dan Steve membiarkannya, mereka juga tak mau mengganggu kebahagiaan Jonathan.

***

Napas Regina terengah-engah saat masuk ke rumah Heny

"Kenapa Gina?.."

"aku tiba dengan selamat"

"Memangnya ada yang mengganggumu di jalan"

Regina menggelengkan kepala

"Tadi Jonathan mengantarku pulang"

"Jonathan siapa?..."

"A bout"

"Ha...kok bisa" Heny bertanya heran. Gina menceritakan bagaimana ia bertemu dengan ketiga cowok itu, walaupun ia masih heran kenapa Jonathan sampai menarik tangannya dan naik mobil.

"Katanya ia mau mengantarku setelah mendengar Oma membutuhkan obat itu" Regina melanjutkan ceritanya

"Wah, Jonathan baik sekali... kamu yakin ia bilang ini demi Oma ku?" Heny senyum bahagia, hatinya melonjak kegirangan.

"Apakah Jonathan tertarik denganku?" Heny bertanya-tanya.

"Aku bertemu dengannya di ruang musik dan di aula, apakah ia terpesona oleh kecantikanku, senyumku?" Heny terus berpikir dan merasa ia berkhayal seperti seorang putri yang dilamar seorang pangeran.

Regina pun sebenarnya bingung, tapi bukan itu yang jadi masalahnya sekarang. Ia harus segera menemukan jepit rambut yang sama dengan yang diinjaknya.

"Heny, berhenti berkhayal. Jonathan sudah punya pacar" kata-kata Regina langsung menghentikan khayalan Heny.

"Ah Gina.. kamu tidak mau melihat temanmu senang ya?" Heny merengek.

"Kamu bilang ia sudah punya pacar, siapa pacarnya?" Heny bertanya cemberut.

"Namanya Megan dan sepertinya Jonathan sangat takut padanya" Regina menjawab dengan meyakinkan.

"Ngak, ngak.. aku harus bisa bersaing dengan pacarnya" Heny meyakinkan dirinya.

"Jangan mimpi sayang, barang-barang cewek itu semuanya impor" kata-kata Regina memupuskan harapan Heny. Regina menceritakan soal jepit rambut itu dan berencana besok hari untuk mencari jepit rambut yang sama persis dengan milik Megan.

***

Keesokkan harinya..

"Pulang kampus kita ke mall ya" Regina meminta Heny menemaninya. Reaksi Heny sepertinya keberatan, apalagi tahu kalau yang dicari itu untuk Megan.

Melihat itu Regina menggodanya "Kalau kita tidak membelinya, kamu tidak punya alasan lagi bertemu Jonathan".

Heny langsung menarik tangan Regina "ya sudah, ayo ke mall".

Heny sepertinya sependapat dengan Regina.

Kurang dari tiga puluh menit kedua gadis itu berada di mall. Regina dengan teliti mencari jepit rambut di beberapa toko aksesoris wanita. Akhirnya ia menemukan yang mirip. Hatinya cukup lega setelah menemukan barang itu. Regina bertekad hari ini harus bisa menemukannya karena mulai besok ia sibuk dengan pekerjaan barunya.

***

Heny berjalan menuju kampus Fakultas Teknik. Setelah mendapat beberapa informasi, Heny menunggu di depan kelas dimana Jonathan belajar. Setelah pergantian jam Jonathan keluar ruang belajar dan Heny segera mencegatnya.

"Hai Jonathan..."Heny menyapa. Jonathan berbalik kearah suara itu.

"Aku mau berterima kasih karena sudah mengantar Regina pulang waktu membeli obat buat Oma. Omaku juga titip salam dan terima kasih katanya, ayah dan ibu juga bilang terima kasih" Heny bicara dengan malu-malu dan sepertinya berlebihan supaya bisa bicara lama dengan Jonathan.

Jonathan mendengarnya tapi seperti tak peduli. Matanya sibuk mencari-cari sesuatu atau seseorang.

"Mana temanmu?, aku masih punya urusan dengannya" Jonathan bertanya setelah tidak melihat Regina bersama Heny.

"o.. Regina punya pekerjaan baru jadi ia pulang duluan. Ia menitipkan barang ini"

Heny menyerahkan plastik berwarna ungu berisi jepitan rambut kepada Jonathan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Heny menyerahkan plastik berwarna ungu berisi jepitan rambut kepada Jonathan.

"Regina menyampaikan permintaan maafnya" Heny bicara dengan hati-hati. Ia takut Jonathan masih marah dengan Regina, mengingat betapa gelisahnya Regina malam itu.

"Aku rasa temanmu tidak menyampaikan permintaan maafnya, karena ia sudah minta maaf malam itu." Jonathan berbicara seolah-olah mengenal karakter Regina. Jonathan mengeluarkan jepit rambut yang di beli Regina.

Jangan lupa klik bintangnya n ditunggu komennya, .....

Gitarku dan CintakuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang