Bertemu Megan

38 6 0
                                        

"Ayo ke tempat parkir. Aku akan minta Pak Soni sopir di restoran mengantarmu pulang. Aku harus ke rumah" Jonathan berjalan terburu-buru dan Regina pun mengikutinya bingung.

Panggilan Regina terhadapnya terus mengganggu sepanjang perjalanan pulang.

***

"Mi... Mami!" Sambil berlari masuk ke rumah, Jonathan memanggil ibunya.

"Kenapa?" Sahut Mey dari ruang keluarga.

"Aku mau tanya, apa Mami ingat seseorang yang pernah memanggilku Jo?"

"Kalau Oma dan Opa memanggilmu Yonatan, sepupu kamu dari pihak Mami panggil kamu Koko, dari pihak Papi memanggilmu Kakak atau Nathan, Tante sama Om kamu lainnya ada yang memanggil Yo. Mungkin teman-teman kampusmu atau teman sekolah. Memangnya apa yang spesial dengan panggilan itu?" tanya Mey yang ikut penasaran.

"Aku juga ngak ngerti Mi tapi ketika dia memanggil namaku, aku seperti teringat seseorang di suatu tempat. Tapi siapa?, dimana? Ah.." Jonathan kesal karena dia tidak bisa mengingat sesuatu yang mendebarkan hatinya.

"Dia siapa?" tanya Mey

Jonathan langsung masuk ke kamarnya tanpa mempedulikan pertanyaan ibunya dan mencoba mencari petunjuk, ia berusaha mengingat seseorang.

Mey hanya melihat tingkah anaknya itu dengan heran sambil geleng-geleng kepala.

***

Regina pulang diantar oleh Pak Soni, di satu sisi ia senang karena Jonathan berhenti mengganggunya di restoran, tapi disisi lain ia heran melihat tingkah Jonathan yang tiba-tiba meninggalkannya dengan alasan yang kurang jelas dan sangat disayangkan foto-foto di handphone Jonathan belum dihapus padahal itulah tujuannya bertemu cowok itu.

Ada yang lebih mendebarkan, Regina masih belum bisa menutup matanya malam itu, karena baru kali pertama ia menerima sebuah kecupan dari seorang cowok tapi sayangnya bukan dari kekasihnya.

"Apakah dia menyukaiku? kemungkinannya 1%, Atau hanya mempermainkanku karena aku menggores mobilnya dan pernah bermasalah dengannya? Kemungkinannya 99% .. Jangan ge er kecupan itu hanya kebetulan.... Atau hanya main-main mungkin? Tadi dia terlihat hanya main-main ya... ya.. dan mau menakuti aku aja... Ah... Benar-benar playboy, apa karena ia keren dan kaya bisa mempermainkan semua wanita... " Regina terus bicara sendiri. Ia bolak balik dengan pandangan serius sesekali mengembungkan pipinya.

Pikiran tentang Jonathan ditepisnya, Regina mengambil handphone dan chating dengan Heny

Regina : Hen, apa aku mabuk Jumat malam?

Heny : Sedikit

Regina : Kamu pulang bareng aku kan?

Heny : Iya, tapi aku turun duluan

Regina : Apa aku bertindak aneh di mobil

Heny : Memangnya kenapa?...

Regina : Enggak nanya aja

Heny : Kamu cuma tidur

Regina : ooo

Heny : Kita ketemu nanti ya.. ada yang mau aku omongin tapi enaknya kita ketemu cuma ngak mungkin hari ini aku lagi jalan sama Mami.

***

Hari Senin sore setelah pulang kampus, Heny mengajak Regina ke sebuah restoran mahal di kawasan Mega Smart.

"Kenapa kamu mengajakku ke sini. Ini kan mahal Heny?"

"Sesekali kita ke sini, tadi Mama bilang aku harus mentraktirmu karena kamu sudah menemaniku beberapa hari waktu orang tuaku keluar kota"

"Jadi kalau aku nanti minta ditemani nanti, apa aku harus mentraktirmu juga?" tanya Regina bercanda

"Ya ia lah..."

Dengan girangnya kedua gadis itu masuk restoran dan memesan tiga menu beserta minumannya

"Gina, kamu punya hubungan apa sama Jonathan" tanya Heny

"Memangnya kenapa Hen?"

"Ehmm, aku merasa aneh aja perlakuannya sama kamu..." Kata-kata Heny langsung dipotong ketika tiga orang cowok dan seorang cewek yang mereka kenal memasuki restoran itu.

Iqbal, Steve, Jonathan dan Megan. Dengan tampilan keren dan fashionable membuat hampir semua orang melirik ke arah mereka termasuk Heny. Bahkan beberapa gadis di restoran itu melihat iri ketika Megan berada diantara tiga cowok ganteng.

Berbeda dengan Regina yang melihat pemandangan itu, ia tertunduk dan berusaha menyembunyikan wajahnya dan untunglah tidak ada yang melihatnya. Regina ingin cepat-cepat pergi dari sana, ia tidak mau bertemu Jonathan tapi sayangnya mereka sudah memesan dan ia tidak tega meninggalkan Heny.

Regina dengan cepat berdiri dan menuju ke toilet berlama-lama disana, mencoba menenangkan pikirannya, ia mencuci tangan, menatap wajahnya dicermin, pipinya panas mungkin karena gelisah..

"Jepit rambutmu cantik, mirip dengan punyaku, kamu beli dimana?"
++++

Jangan lupa klik bintang nya, komen juga boleh

Gitarku dan CintakuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang