Terjawab Sudah

40 5 0
                                        


Regina segera melepaskan kotak makanan yang berisi puding dan mengejar Jonathan, ia tidak biasa menerima perlakuan seperti itu dari cowok yang mengaku pacarnya itu.

"Jo, Jo! Tunggu" Regina segera meraih tangan Jonathan

Jonathan tidak sanggup melihat Regina tapi dia marah karena Papinya, keadaan keluarganya dan Linda Ibu Regina

"Kenapa Jo? Apa aku salah lagi?" tanya Regina

"Mulai hari ini kita tidak usah bertemu. Kalau bertemu anggap kita ngak saling kenal" Jonathan mengatakannya dengan berat sambil melepas genggaman Regina dan pergi meninggalkannya.

Regina hanya terpaku, air mata yang tergenang di pelupuk mata akhirnya jatuh. Walaupun dia berusaha menahan perasaannya selama ini untuk tidak jatuh cinta pada cowok yang selalu memberinya perhatian, tapi hatinya tidak bisa berbohong lagi, ia menyukai Jonathan, mulai merindukannya dan merasa sakit ketika Jonathan seperti melepasnya.

"Kenapa, ada apa dengannya?" tanya Regina setelah melihat Iqbal dan Steve mendekatinya

"Maaf, kami tidak bisa menjelaskan, harus dia" Kata Iqbal yang juga sedih melihat kedua temannya.

***

Hari itu dilalui Regina dan Jonathan dengan berat, keduanya berjalan dengan pikiran mengambang, begitu banyak pertanyaan yang belum terjawab dan begitu dalam rasa sakit di hati yang tidak diobati.

"Hei kamu kenapa? Itu kantung matanya, kamu nangis?" tanya Heny

Regina hanya menangguk

"Ada masalah di rumah?"

Regina menggeleng

"Masalah kampus ngak mungkin" pikir Heny

"Dengan Nathan?" tebak Heny

Regina mengangguk

"Kenapa?"

Regina pun menceritakan sikap Jonathan kepadanya

"Mungkin perasaannya sudah berubah Hen?"

"Hmm, kalaunpun berubah se express itu pasti ada alasannya Gina.."

"Tapi aku ngak tahu" jawab Regina memelas

"Aku tanya deh sama teman-temannya"

"Ngak usah, mereka bilang harus dia yang bilang langsung masalahnya"

***

Dua hari telah berlalu, tidak ada pesan atau telepon dari Jonathan yang diterima Regina, Jonathan benar-benar memutuskan hubungan diantara mereka berdua .

Setelah menenangkan hatinya, Regina pun merasa kalau itu yang terbaik untuk mereka, ini seperti keinginannya semula kalau ia tidak mau berhubungan lebih jauh dengan Jonathan.

Saat memasuki kampus, Regina sempat melihat mobil Jonathan sejenak ada rasa rindu dihatinya, masih lekat diingatannya bagaimana Jonathan berusaha menarik perhatiannya dan perlahan membuatnya jatuh cinta

Regina menuju ke ruang kelas Jonathan, ia menunggu di depan kelas Jonathan sampai ia harus bolos kuliah, ia tidak mau terus penasaran dengan sikap cowoknya, ia harus tahu apa yang membuat Jonathan berubah.

Jonathan dan teman-temannya keluar dari ruang kelas mereka.

"Kita harus bicara Jo? Please" Regina segera mendekat dan bicara padanya

Jonathan yang sepertinya akan pergi menghindar dari Regina segera di cegat teman-temannya.

"Tan kalian perlu bicara, Gina juga berhak tahu kan?" Steve bicara dengan Jonathan.

Jonathan tidak menjawab dan hanya berjalan meninggalkan mereka. Steve menyuruh Regina untuk mengikutinya dari belakang dan dia menurut. Keduanya menuju bagian belakang kampus di samping ruang laboratorium.

Jonathan berhenti dan membalikkan badannya, ia tahu Regina mengikutinya dari belakang

"Aku ingin memastikan sesuatu padamu. Apa orang kaya yang dermawan yang menghadiahkanmu gitar Reynold namanya?" Jonathan bertanya

"Ia" Regina menjawab tapi belum mengerti maksud Jonathan

"Perhatian seperti apa yang diberikan laki-laki itu pada ibumu dan kamu sampai kamu menganggapnya seperti papamu?" Jonathan bertanya lagi

"Apa?" Regina mengangguk

"Kalian tidak tahu apa yang dirasakan istri dan anak-anaknya dengan perhatian spesialnya untuk kalian?" tiba-tiba Jonathan bicara keras padanya

"Maksudmu?" Regina masih bingung

"Aku tidak perlu menjelaskan, bukankah kamu cukup pintar untuk mendapatkan jawabannya?" Jonathan masih tidak bisa bicara terang-terangan dengan Regina tapi dia yakin cepat atau lambat Regina akan tahu sendiri.

Jonathan segera meninggalkan Regina. Regina pun mengerti apa yang harus dia lakukan untuk menjawab kegelisahannya

***

Regina masih mengikuti beberapa mata kuliah sebelum pulang. Walaupun dia tidak konsentrasi mengikuti kuliah tapi setidaknya ia dinyatakan hadir oleh dosen-dosennya. Regina segera menuju ke Rumah Makan Minahasa tempat mamanya bekerja.

"Ma bisa aku tanya? Apa Om Reynol marganya Sondakh?"

"Ia" Linda menjawab datar

"Haaaa" Regina menutup paksa kedua matanya

***

Please vote n klik bintangnya ya ... n pastikan follow ya...

Gitarku dan CintakuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang