14
"Tapi dia dimana? Aku tidak pernah melihat kamu dekat dengan cowok selain Andre dan Maikel teman band kita. Apa dia ada di kelas kita? Kampus kita?" tanya Heny sedikit memohon.
"Ehmmmm"
"Ayo jawab... jangan bikin penasaran Gina?
"Aku akan mengenalkannya sama kamu, tapi nanti" Regina menyingkirkan badan Heny yang menghalangi jalannya ke kasir.
"Aku ini teman baikmu, kita cukup dekat untuk membahas soal cowok kan Gina?" Heny terus memohon dan cemberut
Regina hanya tersenyum melihat Heny yang penasaran, ia belum bisa bercerita banyak soal pria yang telah memberikannya perhatian dan kasih sayang selama beberapa tahun terakhir
Buku Perkembangan Peserta Didik dibeli Regina kali ini. Buku itu akan membantunya menghadapi siswa-siswanya nanti di Harmonic School pikirnya.
***
Dari Gramedia keduanya menuju ke restoran cepat saji yang cukup ramai di kunjungi anak-anak muda di Kawasan Mega Mas. Dengan pemandangan laut dan tawaran berbagai macam jajanan menggoda siapa saja untuk menghabiskan waktu di sana apalagi di malam minggu.
Sambil menyantap paket MC Double dan Ice Latte Frape, Heny menatap tajam seseorang memastikan dia mengenal cowok itu.
"Bukankah itu Jonathan?" Heny bertanya sambil memandang ke sudut kanan ruangan itu. Regina menengok ke arah yang sama dengan Heny. Cowok dengan jaket warna coklat tua dan kaos hitam bergambar membuat kulit putihnya semakin kentara.
Baru kali ini Regina memperhatikan Jonathan dengan seksama.
"Dia tampan juga ya" pikirnya.
Regina biasa melihat cowok-cowok yang sering dianggap tampan oleh teman-temannya, tapi menurutnya Jonathan memang di atas rata-rata.
"Ah, kenapa itu yang diperhatikannya, ada yang lebih penting" Regina membuyarkan lamunannya.
Seorang cewek blasteran, rambut panjang tapi diikatnya kebelakang, anting berbentuk persegi, mengenakan blus biru tanpa lengan, kalungnya berjuntai indah dan sepatu boot rendah, cantik dan fashionable.
"Itu pasti Megan, pacarnya"
"Ha..., jangan membuatku patah hati Gina" kata Heny cemberut dengan nada hampir menangis.
"Mereka serasi kan? Lihat apa yang dikenakan cewek itu, kita tidak selevel. Barang-barang yang dipakainya impor, sama persis dengan orangnya" kata-kata Regina memupuskan harapan Heny.
"Gina..." Rengek Heny agar temannya tidak melanjutkan lagi kata-katanya
"Pantes saja tidak ada cewek di kampus yang diliriknya, pacarnya cantik, modis dan pasti orang kaya seperti dia" lanjut Regina tanpa peduli dengan perasaan Heny. Ia tidak mau temannya berharap pada orang yang salah
"Gina please deh"
"Jatuh cinta juga pake logika sayang..."
***
Hampir jam delapan malam setelah cukup lama memanjakan mata mereka di Mall, Regina dan Heny pulang ke rumah. Dalam perjalanan pulang Regina terus memikirkan Megan. Baginya wajar jika Jonathan begitu menyayangi gadis itu, bahkan Jonathan sangat kuatir ketika ada barang Megan yang rusak. Megan benar-benar cantik dan terlihat serasi dengan Jonathan
***
Senin jam 08.05
"Dia masih belum datang" Jonathan berguman sambil menunggu dimobilnya. Sengaja ia datang cepat jam 07.30 dan memarkir mobilnya depan pintu gerbang kampus Fakultas Ekonomi supaya bisa melihat kedatangan Regina.
Jam 08.45
Jonathan melihat jam tangannya. Makin tidak sabar ia keluar dari mobil, "Apakah mungkin Regina sudah masuk dan ia tidak melihatnya" pertanyaan itu keluar dari pikirannya.
Tiba-tiba ia melihat Heny. Jonathan segera mendekat dan menyapa. Heny sangat senang. Pagi-pagi begini Heny sudah disambut cowok yang selalu dipujanya, hatinya jadi berbunga-bunga.
"Dimana temanmu?"
"Mungkin belum datang, karena hari ini kuliah dimulai jam 9.45"
"Apa kau bisa menghubunginya? Ini penting."
Ditunggu bintang n komennya ya Reader...
KAMU SEDANG MEMBACA
Gitarku dan Cintaku
Teen FictionIni karya kedua saya di wattpad, semoga menikmati ceritanya ya.. Jonathan Leonardo Sondakh adalah mahluk sempurna, sosok tampan dengan limpahan kasih sayang dari keluarga utuh nan bahagia, sahabat-sahabat yang selalu ada, harta yang tidak perlu dita...
