Ini karya kedua saya di wattpad, semoga menikmati ceritanya ya..
Jonathan Leonardo Sondakh adalah mahluk sempurna, sosok tampan dengan limpahan kasih sayang dari keluarga utuh nan bahagia, sahabat-sahabat yang selalu ada, harta yang tidak perlu dita...
Jonathan : informasi tentangnya membuatku makin merasa bersalah
6
"Bro, biasanya setelah pulang dari showroom langsung kumpul lagi sama kita-kita" Steve menyapa Jonathan yang duduk diruangannya.
Jonathan agak sibuk dengan handphonenya, ia sedang chatingan dengan Rio personel A Bout band dari Fakultas Teknik jurusan IT (teknologi informasi). Tapi ia gusar karena belum ada balasan chating-an dari Rio.
"heloooo" Steve merasa tidak iabaikan oleh Jonathan.
"Kita dititipin sesuatu sama Rio.." Iqbal mencoba memancing perhatian Jonathan.
"Mana, berikan padaku!" Tiba-tiba Jonathan melonjak dari kursinya. Steve dan Iqbal tertawa mengejek.
"Jadi amplop ini yang bisa membuat kamu merasakan kehadiran kami?" Steve geleng-geleng kepala.
"Ayo berikan padaku" Jonathan berlari ke arah Steve untuk mendapatkan amplop ditangan Steve.
"Tunggu dulu Bro.. ini bukan dari Rio, aku yang mendapatkannya sendiri" Steve pamer.
"Kok bisa, aku kan minta tolong sama Rio"
"Rio bilang ilmunya tidak akan digunakan untuk mencuri data orang lain"
"Ah.. itu kan bukan mencuri, hanya mencari tahu, apa susah buatnya membantu teman sendiri" Jonathan agak cemberut
"Karena itulah misinya diserahkan padaku, dan misinya berhasil" Steve tersenyum bangga
"Pasti kamu merayu salah satu tenaga tata usahanya sampai dapat informasi itu kan?" Iqbal menebak.
Steve membalasnya dengan menggelengkan kepala.
"Pasti ia menggunakan uang pelicin untuk salah satu tenaga admin" Jonathan menebak juga.
Steve menggelengkan lagi kepalanya, dan senyum-senyum sendiri.
"Jadi kalian berdua penasaran? godanya lagi.
Jonathan dan Iqbal masih menatap Steve.
"kalau masih penasaran itu urusan kalian, bukan urusanku" Steve bergaya seperti Regina, sampai kedua temannya kesal dan mengejarnya.
Akhirnya Jonathan berhasil mendapatkan amplop itu.
"Jadi aku minta tolong sama Om Widodo tenaga administrasi di Fakultas Ekonomi. Ia diterima menjadi pegawai atas rekomendasi Ayahku. So, jangan berpikir macam-macam lagi, aku sudah berada di jalan yang benar sekarang.." Steve menyakinkan teman-temannya.
Dua lembar kertas berisi biodata Regina ada tangan Jonathan. Ia membacanya seperti seseorang yang mendapat surat cinta, serius tapi senyum sendiri.
"Jadi namanya Regina, teman-temannya memanggil Gina.." Jonathan berguman, sambil terus membaca.
Informasi bahwa Regina adalah mahasiswa pindahan dari Jakarta, alamatnya sekarang, pekerjaan orang tua, dan informasi lainnya sangat lengkap langsung masuk ke memorinya
"Ha... ayahnya sudah meninggal?" tanya Jonathan dengan terkejut.
"Makanya kamu jangan seenaknya sama anak orang, kamu itu sudah menzolimi anak yatim.." Iqbal mencoba membuat Jonathan merasa bersalah.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ya, Jonathan merasa sedikit bersalah untuk apa yang dilakukannya pada Regina setelah tahu latar belakang keluarga Regina. Baginya Regina termasuk gadis yang kuat tapi sedikit angkuh. Apa mungkin ia terlihat kuat karena merasa pintar dan bertalenta? Atau hanya ingin terlihat kuat karena hidup tanpa ayah? Jonathan menebak-nebak dalam hatinya.
"Hei.. aku tidak sepenuhnya merasa bersalah. Waktu pemilihan band pendamping aku masih memilih dengan objektif. Sebenarnya band mereka tampil dengan baik, hanya saja vokalisnya memiliki suara yang lebih cocok untuk bernyanyi solo, malah backing vokalnya dengan suara yang agak berat itu lebih cocok jadi vokalisnya, itu salah satu pertimbanganku" Jonathan mencoba menjelaskan sekaligus mengurangi rasa bersalahnya.
"Kalau pertimbangan itu, aku sependapat dengan Jonathan" Iqbal membela sahabatnya sambil menepuk tangan Jonathan
"Tapi bukan itu kan yang kamu katakan waktu di aula, jadinya mereka bisa berpikiran lain" Steve membalas.
Mereka bertiga agak terdiam dan berpikir, dan mencoba membenarkan bahwa pilihan mereka soal band pendamping itu tidaklah salah.
"Ayo ke cafe..." Steve mengajak kedua temannya ke arah kawasan Mega Mall. Karena sudah sekitar jam 22.00 tidak banyak cafe lagi yang buka.
Ketiganya segera keluar dari rumah Jonathan dan masuk ke mobil. Regina dan semua tentangnya masih terus melekat dipikiran Jonathan. Sesekali diperjalan mereka, Jonathan hampir berhenti karena melihat gadis yang seperti Regina. Iqbal bingung melihat tingkah Jonathan. Tiba-tiba Steve meminta supaya mobil dihentikan.
"Jonathan kamu kenapa? Sini aku yang bawa" Steve langsung pindah ke belakang kemudi menggantikan Jonathan
Setelah memarkir kendaraan mereka bertiga berjalan ke arah Cafe Domi. Sepintas Jonathan melihat seorang gadis mirip dengan Regina berjalan ke arah mereka, ia pasti berkhayal pikirnya, tapi semakin dekat ia merasa tidak salah lagi itu pasti Regina. Jonathan bingung apakah harus memanggil Regina, mencegatnya, atau pura-pura tidak melihat.
Jangan lupa klik bintangnya n ditunggu komennya, .....