Malam harinya, tim syubban pun bersiap-siap untuk mengisi acara di Alun-alun Bandung yang tak terlalu jauh dari rumah Desiva.
Setelah selesai perfom, mereka tak langsung pulang dan memutuskan untuk pergi berjalan-jalan di pasar malam yang berada disana.
Sepanjang perjalanan Desiva saling berbagi obrolan dengan Shelia dan Mba Gita. Sesekali mereka tertawa karena lelucon yang mereka buat.
Tiba-tiba...
Bruuggh.
"Aduhhhh"
Desiva mendengar suara seseorang yang terjatuh didepannya.
Saat dilihat..
"Azmi? Ngapain kamu duduk disitu?" tanya Desiva saat melihat Azmi yang tengah duduk ditanah.
"Udah tau jatoh, malah nanya lagi. Dasar ukhty jutek gimana sih." jawab Azmi yang meringis kesakitan.
"Hah? Eh iya ya," ucap Desiva menahan tawa.
Azmi berdiri sambil membenarkan tatanan sarungnya.
"Lagian kenapa bisa jatoh sih, padahal kan gak ada yang nabrak. Kaya anak kecil baru bisa jalan aja," ledek Shelia.
"Aku abis lari tadi, terus ini ni, sarungnya kebelit, jadi jatoh deh," jawab Azmi sambil mengibas-ngibaskan sarungnya.
"Jadi kamu keseripet sarung?" tanya Desiva.
Belum sempat Azmi menjawab, tawa Desiva, Shelia dan Mba Gita sudah pecah.
"Kok malah diketawain sih?" ucap Azmi tak terima.
"Hahahahaha,"
"Kamu jadi santri udah berapa tahun sih? Pake sarung sampe belibet gitu. Hahaha, kocak tau gak." ucap Shelia masih terus tertawa.
"Terus aja ngetawain. Ni pantat sakit tau gak," ucap Azmi dengan muka yang konyol.
Mereka bertiga masih terus tertawa. "Jatoh lagi gih Mi, aku belum liat loh jatohnya gimana," pinta Mba Gita meledek.
"Jahat banget kamu Mba. Masa udah sakit gini disuruh jatoh lagi, nambah sakit dong." Azmi merengek.
"Udah udah kasian Azmi nya," lerai Desiva.
"Iya deh iya, maafin kita ya mi, hahaha." ucap Shelia meminta maaf.
"Minta maaf tapi masih ngetawain, ck sebel." cibir Azmi.
Azmi melenggang pergi menghampiri Aban dan Ahkam yang berdiri tak jauh di belakang Desiva.
"Kak, Ban. Naik itu yuk," ajak Azmi menunjuk salah satu wahana pontang panting.
"Emang kamu berani mi?" tanya Aban meledek.
"Berani dong. Dulu Azmi pernah kok naik itu." seru Azmi menepuk dada menyombongkan diri.
"Bener nih? Yaudah ayo, siapa takut." Aban mendahului Azmi menuju wahana tersebut.
Mereka bertiga pun menaiki wahana tersebut dengan perasaan yang campur aduk.
Setelah wahana tersebut berhenti, mereka turun. Azmi berjalan sempoyongan menghampiri yang lainnya.
"Kenapa mi? Kok mukanya pucet? Katanya berani," tanya Kak Dimas sedikit meledek.
"Ternyata ada peningkatan Kak," jawab Azmi.
Kak Dimas mengerutkan keningnya. "Peningkatan apanya mi?" tanyanya bingung.
"Dulu waktu masih kecil, kalo Azmi naik itu udahnya suka langsung muntah. Tapi sekarang nggak, cuma pusing dikit aja. Berarti Azmi ada peningkatan," jelasnya sumringah.
