55 - bukan untuk terakhir

1.8K 228 37
                                        

"Bantu aku."

Changmin mendesah lelah. Melirik malas Kyuhyun di atas kasurnya, duduk menyandar tembok.

"Aku tidak tahu di mana mamamu."

"Gunakan koneksimu. Lakukan sesuatu dengan posisimu itu, Changmin. Itu pasti perkara kecil bagimu. Ya?"

Changmin mendecih. "Berapa?"

"Apanya yang berapa?"

"Kau pikir berurusan denganku gratis? Gunakan jasaku, bayar."

"He? Tapi kita teman."

Changmin menatap Kyuhyun remeh. Kemudian menggeleng prihatin. "Sudahlah. Jangan seperti anak ayam hilang induknya. Frustasi lalu mati."

Kyuhyun menghela nafas keras. Menjatuhkan diri ke samping. Memeluk bantal Changmin yang satu-satunya. "Aku bukan anak ayam itu. Nasib saja yang sama." Lirihnya.

Changmin menggeser tubuhnya hingga menyandar ke dipan. "Bukannya kau berada di keluarga kandungmu? Tidak suka?"

Dengan melihat langit-langit kamar Kyuhyun menjawab, "yang kulakukan adalah beradaptasi. Mereka tidak membiarkanku tinggal di rumah mama sendirian. Aku masih ingat apa kata mama, jangan jadi anak durhaka. Berbuat baiklah dan buat mereka senang. Jadilah aku tinggal bersama mereka."

Changmin menepuk kakinya cukup keras. Kyuhyun mengaduh lalu menendang punggung Changmin.

"Yang kutanya kau senang tidak di sana? Mereka keluarga kandungmu. Kau tidak memiliki perasaan khusus semacam itu?"

Kyuhyun tidak langsung menjawab. Sudah 1 tahun lebih dia bersama mereka. Selama itu mereka tidak sekalipun mengecewakannya. Sebaliknya dia benar-benar dirawat dengan baik. Sangat baik. Bagai barang berharga, begitu mereka memperlakukannya.

Bohong jika dia bilang tidak senang. Dia suka. Diperlakukan dengan begitu nyaman dan diberikan tempat yang aman. Kyuhyun tentu senang. Bahagia juga mungkin.

Mungkin.

Karena dia akan lebih bahagia jika ada mama juga. Dia bahagia sekarang. Tapi masih mengharapkan kepulangan Yeonsa. Ada tempat di hatinya yang tidak bisa diisi atau digantikan oleh yang lain.

"Salah, ya jika aku masih menginginkan mama? Aku merasa begitu buruk karena lebih merindukan orang lain dari pada ibuku sendiri. Tapi apa dayaku."

Changmin paham. Sangat paham. Dia memilih untuk tidak melanjutkan pembicaraan. Membiarkan Kyuhyun untuk saat ini hingga kembali tenang. Begitu hampir setiap kali Kyuhyun datang padanya. Sedikit terbuka akan hatinya yang merindu. Sedikit mengeluh dan merajuk.

###

"Jahat..." Kyuhyun berujar dengan derai air mata. Setelah upaya menolak Yeonsa yang hendak mendekat. Dia menjaga jarak jauh dari mama di depannya.

"Kyu, mama minta maaf." Dan Yeonsa masih berusaha meminta maaf.

"Kan, bisa kasih kabar! Tapi mama tidak melakukannya! Mama lebih memilih aku berpikir yang tidak-tidak. Menyiksaku dalam perasaan seorang anak yang dibuang. Merasa tidak benar-benar berarti. Mama tidak tahu bagaimana sesaknya di sini." Kyuhyun menebah dadanya sendiri. Terisak sampai sulit bernafas. Namun Kyuhyun tetap melanjutkan kalimatnya. Mengungkapkan bagaimana perasaannya selama ini. Yang begitu baik disembunyikannya.

"Sakit sekali. Aku menunggu. Menunggu. Dan mama datang sekarang. Di depanku. Tidak, ma!" Kembali Kyuhyun menolak saat Yeonsa maju selangkah. Maka dia mundur dan Yeonsa hanya bisa menahan langkah lainnya. "Mama dengar dulu. Aku belum selesai." Mengusap matanya yang bertumpuk digenangi air mata dengan punggung tangan.

BondTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang