21 - cinta yang harus diungkapkan

1.8K 303 71
                                        

Kibum diseret pulang. Dibawa masuk rumah lalu dihempaskan di ruang tengah.

Donghae teramat kesal dengan perilaku adiknya. Merusak properti orang lain dengan sengaja. Melampiaskan marah tanpa kontrol seperti barusan. Betapa brutal dan tidak beradab.

"Kau kehilangan otakmu, hah?! Jika mereka tidak terima kau bisa dilaporkan!"

"Peduli sekali." Decih Kibum menantang. Dia berusaha bangkit dari sofa tapi Donghae mendorong kembali dadanya hingga usahanya sia-sia.

Kibum menatap geram kakaknya. "Kau ini kenapa, hyung? Kau lebih membela mereka ketimbang eomma dan aku? Kau buta dengan penderitaan eomma selama ini? Kau buta dengan kondisi keluarga kita yang seperti ini?! Lalu sekarang mereka akan bercerai!! Itu artinya sudah tidak ada harapan lagi!! Keluarga ini sudah hancur!!"

Kibum meremas rambutnya. Terisak. "Kenapa sulit sekali hanya untuk bahagia...heks."

Donghae menurunkan emosi. Duduk disebelah Kibum. Mengusap tengkuk adiknya lalu beralih menarik kepala Kibum menyandar di bahunya.

"Kibum, hyung peduli padamu. Hyung menyayangimu."

Kibum menjauhkan diri. Menatap kakaknya tidak terima. "Omong kosong! Kau membela terus anak haram itu! Kau tidak peduli pada keluargamu sendiri, hyung!"

Emosi Donghae hampir meledak lagi. Namun sebisa mungkin menahan diri. "Dengar Kibum. Kyuhyun bukan anak haram. Dia memiliki orang tua yang memiliki ikatan yang syah. Bukan perselingkuhan seperti yang kau kira."

"Jadi maksudmu mereka menikah diam-diam?!"

Donghae menggeleng setengah frustasi. Dia tidak bisa menyebut Kyuhyun anak kandung Yeonsa secara gamblang karena memang bukan itu kenyataannya. Kyuhyun adiknya juga. Adik kandungnya. Seibu seayah, serahim di waktu yang sama dengan Kibum.

Namun apa daya. Demi menjaga ibunya dari jeruji besi dia masih harus bersabar.

'Tuan Kim memang sudah meninggal. Tapi surat perjanjian itu dilindungi hukum. Aku tidak bisa gegabah, Hae. Mengambil Kyuhyun kembali tidak akan semudah itu.'

"Keluarga kita memang sudah hancur sejak lama, Kibum. Bahkan sebelum kau lahir. Aku melihat sendiri mereka bertengkar dan kehilangan kedamaian."

"Itu karena wanita itu, kan. Si Cho jalang itu!"

"Jaga mulutmu, Kibum! Mereka orang baik. Kau tidak pantas menyebut mereka begitu,"

"Mereka pantas!"

"Dengarkan aku dulu!" Hardik Donghar menahan lengan Kibum yang hendak beranjak. "Aku menyayangi Kyuhyun. Benar. Karena aku memiliki alasan. Jadi kau pun sebaiknya berhenti menyebutnya anak haram. Dia bukan anak haram! Sebelum kau menyesal, jangan meneruskan kebencianmu. Jangan seperti eomma. Jangan, meniru sifat eomma dalam hal satu itu. Kau tidak pernah tahu, kegelapan seperti apa yang akan kau hadapi jika kau masih seperti ini."

Kibum diam. Kalimat Donghae yang tegas dan menekan tertangkap baik di telinganya. Dia terpaku pada sepasang mata kakaknya yang menyiratkan sebuah isyarat. Kibum tidak paham tapi penasaran.

"Appa akan mengurus semuanya. Termasuk masalah perceraian mereka."

Kibum menunduk. "Aku tidak ingin mereka bercerai." Lirihnya.

"Berdo'a."

Donghae mengusap rambut belakang Kibum. Meminta maaf telah sempat memukulnya. Bagaimana lagi, hanya itu cara untuk menghentikan Kibum. Terkadang Donghae takut Kibum menjadi seperti ibu mereka. Tidak mendengarkan orang lain dan terburu-buru bertindak dengan emosi. Itu tidak baik. Donghae sudah merasakan dampaknya sendiri.

BondTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang