04. Kencan bersama Braga

4.4K 217 1
                                        

Cla pov

Aku sampai pada pukul 18.57

Aku menghembuskan nafasku lega.

Aku tak terlambat pikirku.

Segera aku masuk ke dalam restoran tempat kami akan bertemu.

"mbak reservasi atas nama Braga." ucapku pada seorang waiters.

"oh, mari nona." ucapnya menunjuk jalan.

Kemudian kami sampai disebuah meja tepat di pinggir ruangan.

Waiters tadi mempersilahkanku dan pamit pergi.

Kulihat seorang lelaki sedang sibuk dengan ponselnya.

"ehem..." aku berdehem karna dia tak menyadari kedatanganku.

Dia tersentak dan menatapku.

"kau sudah datang rupanya." ucapnya lalu berdiri mengulurkan tangannya.

"Braga." lanjutnya.

Kujabat tangannya yang terulur.
"Claretta." jawabku.

"silahkan duduk." ucapnya. Lalu memanggil waiters.

"kau mau pesan apa ?" tanyanya sambil menatap menu makanan.

Aku sedang tak berselera makan.

Kejadian beberapa saat lalu membuatku ingin makan eskrim.
Biasanya aku melampiaskan emosiku dengan memakan eskrim.
Namun itu tak ada dalam menu.

Kututup menu makanannya.
"samakan denganmu saja." ucapku.

Dia mengangguk lalu menyebutkan pesanannya.

"katakan apa yang kau inginkan dari pertemuan ini." ucap Braga to the point.

Aku kaget mendengar pertanyaanya.

"apa maksudmu?" tanyaku balik.

"ya. Aku tau orang tua kita berencana menjodohkan kita. Tapi sayang Claretta aku sudah memiliki pacar." ucapnya langsung.

Kali ini aku benar merutuki mama.
Bagaimana bisa mama tak mencari tahu dulu.

"kau tenang aja, aku tak bermaksud menerima perjodohan ini." jawabku.

"baguslah. Kukira kau berharap banyak dari perjodohan ini." ucap Braga.

Pesanan kami datang.

"baiklah kita makan saja dulu." ucap Braga.

Kami makan dalam hening. Sesekali kulihat Braga memainkan ponselnya.
Braga sangat memenuhi kriteria para wanita.
Dia sangat rupawan. Sukses.
Dan kutahu dari mama dia sangat penyayang keluarganya.
Mungkin karna itu dia tak berani menolak permintaan mamanya akan perjodohan ini.

"kau tampak sibuk." ucapku disela makanku

"tidak. Aku hanya membalas pesan dari beberapa teman." jelasnya lalu melanjutkan makannya.

Kami telah selesai makan. Saat ini Braga sedang mengangkat telpon.
Aku memandang keluar.
Sangat indah.
Aku tersenyum memandangnya.

"indah bukan." ucap Braga ketika sudah kembali duduk.

"kau sudah selesai." ucapku tersadar.

"ya begitulah." jawabnya.

"lalu bagaimana kelanjutannya pertemuan ini ?" tanyanya.

Apa-apaan laki-laki ini seakan tak ingin berhubungan denganku, selalu memastikan kelanjutan pertemuan kami.
Dia pasti sangat mencintai pacarnya.

"kau yang putuskan. Kan kau yang punya pacar. Kau yang menolak terlebih dahulu pada tante Friska." ucapku.

Karna akupun tak mau ambil resiko ketika mama tau perjodohan ini batal.
Bisa-bisa mama marah besar dan mungkin-mungkin mengeluarkanku dari KK.

"Gk. Gk. Gk boleh gitu dong Cla. Bisa-bisa mamaku marah padaku." sahutnya

"aku juga. Aku tak berani." timpalku.

"astaga. Apa yang harus kita lakukan." ucapnya.

Kami saling terdiam memikirkan jalan keluarnya.

"ah. Aku punya cara." ucap Braga ketika mendapat ide.

"Gimana ? Gimana?" tanyaku penasaran.

"kita berteman saja gimana?" tanyanya.

"ide macam apa itu." protesku tak mendapat titik terang.

"kau sabar dulu Cla. Kita berteman saja. Nanti kalau pulang mama kita otomatis tuh nanyain. 'gimana sayang ? Gimana pertemuannya lancar? Kamu suka? Terus kapan kalian ketemuan lagi? Blablabla.' pasti mereka ngomong gitu. Nah kita tinggal jawab aja 'ma, jangan terlalu terburu-buru. Kita mutusin temenan dulu.' udah dengan jawaban itu mama -mamanya kita gk akan nanyak lebih. Percaya deh." jelas Braga.

Aku tersenyum puas atas penjelasan Braga sambil manggut-manggut mengerti.

"iya bener. Itu jurus terjitu." sahutku semangat.

"kau jangan sampai jatuh cinta dengan kepintaranku Cla." ucap Braga percaya diri

"cih... Jangan besar kepala Braga. Aku tak suka menjadi perusak hubungan orang." kesalku.

Dia tertawa mendengar jawabanku.

"oke. Berarti kamu setuju ya. Jangan sampai kau mengatakan yang tidak-tidak pada tante Karin." ucap Braga memastikan.

"iya loh Bra. " jawabku. Kemudian aku tersenyum geli karna panggilanku.

"kenapa? Ada yang salah?" ucap Braga mengerutkan keningnya.

"Maaf. Maaf. Aku merasa lucu memanggilmu dengan Bra." jelasku hampir tertawa.

"huh. Kau sih kenapa tidak dengan Braga saja atau ga. Orang-orang juga biasanya begitu." sungut Braga.

"iya maaf deh Ga. " ucapku.

Braga memanggil waiters dan membayar makanan kami.

"katanya teman. Biarkan aku membayar setengahnya." ucapku ketika waiters membawa kartu kredit Braga.

"ada-ada aja Cla. Aku lelaki jadi wajar dong bayarin kamu." jawabnya.

"aku bukan pacarmu Ga. Jadi biarkan aku membayar setengahnya." ucapku lagi.

"hei. Apa cuma pacarku saja yang wajar kubayarin saat makan." serunya.

"bisa jadi." sahutku.

"baiklah anggap saja malam ini kau pacarku." godanya.

"aku bukan selingkuhanmu Braga." kesalku.

Dia tertawa lagi.

"Ok Ok . Maaf. Kalau gitu kita harus bertemu lagi agar kau bisa membalas membayar makan malam ini." tawarnya

"Ok. Aku setuju." sahutku lalu tersenyum.

Akhirnya kami keluar dari restoran itu.
"thanks ya Ga buat makan malamnya." ucapku ketika sudah diparkiran.

"never mind. Ingat kau masih punya utang traktir makan loh, ini gk gratis." canda Braga

Aku tertawa mendengarnya.

"kau tenang saja, aku bukan orang yang mengingkari janji." ucapku membuka pintu mobilku.

"kau yakin tak ingin diantar?" tanya Braga lagi.

"aku bisa pulang sendiri Ga. Kau tak perlu khawatir." jawabku.

"Okelah. Kalau begitu hati-hati ya. Salam sama tante Karin." ucap Braga melambaikan tangannya.

Kalau dipikir-pikir Braga sangat baik. Dan aku nyaman berbincang dengannya.
Aku menggelengkan kepalaku.
Tidak. Tidak. Aku tak mau menjadi perusak hubungan mereka.
Apalagi dari tadi aku menangkap Braga sangat mencintai pacarnya.

Kenapa begini ya Tuhan saat aku menemukan orang yang membuatku nyaman dia malah sudah memiliki kekasih.

---------------------------------------

Please Now !!! (COMPLETED)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang