Cla Pov
Setelah berapa lama aku menangis akhirnya aku merasa lebih tenang.
Aku melihat Alvaro yang masih berada disampingku.
"kita pulang ?" tanya Alvaro.
Aku menangangguk.
Rissa Calling
"iya Ris." jawabku.
"iya, aku kerumah kamu sekarang." ucapku lalu menutup telponnya.
"Al, aku harus kerumah Rissa. Kamu boleh turunin aku didepan aja." ucapku sambil menatap Alvaro yang sedang fokus menyetir.
"aku anterin. Alamatnya dimana?" tanya Alvaro sambil terus menatap ke depan.
Aku tau gk ada gunanya membantahnya.
Aku menyebutkan alamat Rissa.
"Makasih ya Al." ucapku sambil memandang Alvaro sejenak.
Dia tersenyum.
"kalau ada apa-apa hubungi aku ya Cla. Aku siap kapan aja." ucapnya padaku.
Aku mengangguk lalu keluar.
Setelah kulihat mobil Alvaro melaju kemudian aku masuk ke pekarangan rumah Rissa.
Rissa membuka pintu rumahnya.
Segera aku memeluknya dan menangis lagi.
"udah... Masuk dulu ah " ajak Rissa.
Setelah sampai di kamar Rissa, akhirnya aku menceritakan semua kejadian hari ini.
Berulang kali Rissa mengucapkan kata-kata untuk menghiburku, namun masih saja aku merasa sedih.
"Cla. Gini ya sekarang kamu udah tau kan semuanya. Rasa penasaran selama ini udah terjawabkan." ucap Rissa.
"rasa penasaranku hilang, kini rasa bersalahku datang Ris." ucapku sendu.
"oke... Sekarang ini kamu masih punya waktu. Putra kan masih ada. Kamu bisa tebus rasa bersalah kamu sama dia. Jadi stop sedih-sedihan. Sekarang fokus memperbaiki kesalahan kemarin. Oke." saran Rissa.
Akhirnya perkataan Rissa kali ini membuatku merasa lebih baik.
Aku mengangguk setuju.
---------
Pagi ini aku merasa kurang enak badan karena kemarin terlalu banyak menangis.
Aku menikmati sarapanku dengan tenang.
"Cla....kamu baik-baik saja?" tanya mama melihat raut wajahku.
Meski aku sudah menutupi wajahku dengan make up, mama tetap tau apa yang kurasakan.
"Cla baik-baik aja kok ma." jawabku sambil tersenyum.
"kalau kamu sakit, istirahat aja dulu." sambung mama.
"Cla gk pa-pa kok ma." ucapku meyakinkan mama.
"yaudah kalau kamu gk pa-pa. Oh iya kemarin nak Braga datang waktu kamu gk dirumah." ucap mama.
"ngapain ma?" tanyaku penasaran.
"ngundang, nanti malam dia bertunangan." ucap mama.
"kok dia gk nelpon sih." ucapku lalu mencari ponselku.
"katanya sih sama mama, dia bakal nelpon kamu." jawab mama.
"astaga...." ucapku melihat panggilan Braga.
Aku baru sadar semenjak kemarin aku tak ada mengecek handphoneku lagi.
"yaudah... Nanti kamu datang sama nak Alvaro kan Cla?" tanya mama sambil tersenyum memastikan.
"kalau Alvaro gk sibuk ya ma." jawabku.
"jiah... Masak kamu udah punya pasangan masih sendiri kepesta orang sih Cla. Mama kan juga pengen ngenalin calon mantu mama sama temen-temen mama." sungut mama.
Arg... Permintaan mama semakin membuatku pusing.
"iya.. Iya... Nanti Cla bujukin Al deh. Tapi kalau memang ada kegiatannya yang gk bisa ditinggal ya dia gk mungkin dipaksa kan ma." jelasku.
Aku berangkat seperti biasa.
Badanku terasa meriang.
"Kemana aja sih neng gk masuk kemarin?" tanya Dimas.
Aku menatap Dimas sedih.
"ada apa sih. Kenapa muka digituin Cla?" tanya Dimas masih bercanda.
"Dim. Aku serius ini lagi sedih." sungutku.
"maaf.. Maaf... Kenapa ??? Ada apa Cla?" tanya Dimas mencoba serius.
Lalu aku menceritakan semuanya sedetail-detailnya.
Berulang kali air mataku kembali jatuh.
Dimas berjalan mendekatiku lalu memelukku.
"udah dong Cla. Rissa bener. Sekarang waktunya kamu itu perbaiki semua. Jangan menyalahkan diri terus. Ntar kamu malah jadi sakit lagi." ucap Dimas.
Aku masih menangis.
"ehem.." tiba-tiba Alvaro sudah berada didekat kami.
Sontak Dimas melepas pelukannya melihat tatapan atasannya memandang tak suka.
"eh.. Pak Alvaro." ucap Dimas gugup.
Alvaro hanya menjawab dengan senyuman.
"saya permisi dulu pak." pamit Dimas.
Alvaro berdiri disampingku. Aku menatapnya sendu.
Dia tak berkata apa-apa, hanya saja dia mengangkat tangannya dan meletakkan diatas kepalaku lalu mengelus kepalaku.
"aku tau Dimas itu sahabat kamu, tapi aku mau aku yang selalu ada buat kamu bukan orang lain. Mungkin kamu belum bisa nerima aku tapi aku bakal terus menunggu." Ucap Alvaro sambi tersenyum padaku, kemudian dia beranjak pergi.
"Al." panggilku.
Dia menoleh.
"maaf." ucapku dengan lemah.
Dia lalu terseyum lalu melanjutkan langkahnya.
Namun setelah beberapa langkah dia kembali membalikkan badannya lalu menatapku.
"nanti malam kita ke pesta pertunangan Braga dan Tania ya, kamu udah dapat undangannya kan." ucap Alvaro.
Aku mengangguk.
----------------------------------------
KAMU SEDANG MEMBACA
Please Now !!! (COMPLETED)
RomanceSegala cara sudah kulakukan namun tak kunjung juga aku mendapatkan jodoh. Apalagi cara yang akan kulakukan ? Dapatkah aku menemukan laki-laki impianku ? Aku ingin berteriak "Tolong tunjukkan jodohku saat ini Tuhan !!!" Menyimpan rasa ? Heh... Sudah...
