Seorang gadis cantik ikut tertawa mendengar candaan dari temannya. Mereka sedang ada di taman yang lumayan indah dan cuaca hari ini sedang bagus. Karena mereka tidak ada jam kuliah lagi, mereka memutuskan untuk bersantai di taman kampus.
"Sohyun-ah. Aku ingin main kerumahmu," ucap seseorang yang baru saja datang.
Gadis itu yang ternyata adalah Sohyun pun menggeleng tegas. "Nyonya Jennie kau masih ada kelas nanti siang."
Wanita yang dipanggil Jennie itu menghela nafas kasar sambil duduk di samping Sohyun. "Bosan sekali kuliah ini," keluh Jennie.
"Makanya belajar biar cepat lulus."
Mereka sudah lengkap berlima sekarang, ada Sohyun, Yeri, Senna, Jennie, dan Irene.
"Iya aku tau. Irene yang pintar dan akan segera lulus," ucap Jennie.
"Jennie eonni juga pintar, hanya malas saja," celetuk Yeri.
"Yak!! Aku tidak setua itu!!!" rutuk Yeri karena ia selalu dipanggil eonni oleh Sohyun, Yeri, dan Saeron yang merupakan maknae line di squad mereka.
Jennie tidak suka dipanggil kakak karena dia merasa masih pantas menjadi maknae, ia hanya menganggap Irene paling tua sendiri.
Mereka berlima langsung tertawa saat Yeri berlari dan tanpa tentu arah, lalu akhirnya Yeri menabrak salah satu lelaki dengan badan besar karena itu.
"Joseonghabnida. Aku tidak sengaja," ucap Yeri sambil menunduk.
Lelaki itu membuka maskernya. "Tuan? Hyung, apakah aku setua itu?" tanya lelaki itu dengan teman dia sebelahnya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Yeri langsung melihat ke arah samping, lalu melihat lelaki yang dipanggil hyjng ini langsung menatap orang yang ia tabrak tadi.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"kau memang seperti kakek-kakek," celetuknya.
Yeri hanya menonton mereka dengan tatapan bingung.
Sehun menghela napasnya, lalu ia mengangguk. "Oke aku maafkan," ucap pria berbadan besar itu.
Yeri membungkuk. "Ghamsamnida." Lalu ia pergi dari hadapan mereka berdua menuju teman-temannya.
"Kenapa kau lama sekali?" tanya Irene.
Yeri menggaruk kepalanya. "Aku menabrak seseorang."
Semuanya mengerutkan kening sambil memberikan tatapan bertanya kepada Yeri, kecuali Sohyun yang hanya terfokus pada handphone nya.
"Siapa?" tanya Jennie penasaran.
Yeri menggeleng sambil duduk di samping Irene. "Aku tidak tahu, mungkin mahasiswa pindahan atau teman ayahmu Sohyun. Badannya besar tapi wajahnya terlihat muda," jelas Yeri.
Sohyun tersenyum paksa. "Aku tidak tahu dan tidak perduli," ucapnya.
"Padahal menurutku mereka tampan," celetuk Yeri.
"Kau serius?!!!" ucap mereka bertiga secara bersamaan.
Yeri mengangguk. "Tentu saja!! Bahkan anak kecil pun akan mengakui ketampanan mereka."
"Sohyun-ah. Apakah kau tidak ingin membantu eonnimu ini?" tanya Irene.
Sohyun mengernyit, lalu menatap Irene. "Untuk apa?"
"Aku akan segera lulus, apakah kau akan membuatku terus menyediri?" tanya Irene dengan suara sendu.
Sohyun mendegus. "Aish. Lelaki di dunia ini banyak."
"Aku menginginkan salah satu dari mereka, tolong aku yaaa?" ucap Irene sambil memohon.
"Apakah kita tidak mendapatkan jatah?" tanya Senna
"Adik kecil harus fokus dengan kuliah, adik Senna, Sohyun, dan Yeri harus tetap sabar. Aku dan Irene yang akan mendapatkan mereka," ucap Jennie.
Mereka bertiga memutar bola mata malas, padahal tadi ia marah jika dipanggil 'eonni' oleh maknae line.
"Baiklah untuk Jennie yang lebih tua," celetuk Yeri sambil menekankan kata 'tua.'
Yeri sudah lebih dahulu lari sebelum Jennie membalasnya.
"YAKK KIM YE RIM!!!!!" jerit Jennie dengan suara membahananya sambil berlari mengejar Yeri.
14.00 KST.
Mereka sebuah sudah berada di rumah besar milik Sohyun, kecuali Jennie yang masih memiliki kelas.
"bagaimana aku bisa mencari tahu mereka? Nama pun tidak tahu," gumam Sohyun.
Mereka sedang berada di ruang komputer dengan wifi yang kencang tentu saja.
"Apa perlu kita cuci otak Yeri dan mendapatkan skema wajah mereka?" tanya Sohyun dan langsung membuat Yeri menatap takut ke arah sohyun.
Yeri mendelik. "Kejam sekali kau!" ucap Yeri tak terima.
"Apa kau tidak melihat name tag atau semacamnya?" tanya Irene.
Yeri diam sejenak kemudian ia tersenyum. "Aku ingat salah satu dari mereka tadi membawa handphone."
"Lalu?" tanya Saeron yang ikut penasaran.
"Dia memanggil rekannya dengan sebutan hyung," lanjut Yeri tanpa merasa bersalah.
"YERI!!!!" teriak mereka secara bersamaan.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.