8.8 🌙

159 26 6
                                        

Saat sedang sibuk dengan pekerjaannya, tiba-tiba handphone Sehun berbunyi. Ia melihat si penelepon dan ternyata itu adalah nomor Senna yang sudah ia ketahui jauh dari sebelum mereka bertemu.

"Hallo?"

"Ya?"

"Ini aku Senna."

"Ah... Kenapa?"

"Kau sudah memikirkan tugasmu?"

Sehun menggeleng. "Belum. Aku bingung."

"Bingung? Kupikir kau akan mengamhil stock darahmu sebagai sempel."

"Aku bukan vampir yang meminum darah manusia, aku hanya minum darah hewan."

"Ah... Mianhae, aku tidak tahu."

"Gwaenchana. Kurasa kita harus bertemu untuk membicarakannya, karena pigmen darahmu juga berbeda dari manusia."

"Kau benar. Karena aku sedang diluar, bagaimana kalau aku ke rumahmu saja?"

Sehun mengangguk. "Akan kukirim alamatnya lewat pesan."

Sambungan telepon terputus.

Setelah mengirimkan alamatnya pada Senna, Sehun pun bergegas untuk merapihkan dokumen-dokumen pribadi miliknya, lalu keluar dari kamar dan duduk di ruang santai.



"Eoh? Ini dekat dari sini," gumam Senna.

"Apa?"

Senna menggeleng. "Ah. Sehun teman sekelompokku dan aku akan ke rumahnya."

Orang yang ada di hadapan Senna, yaitu Irene hanya mengangguk mengerti. "Kapan kau kesana?" tanya Irene.

"Santai saja. Eonni habiskan saja makananmu."

"Baiklah." Irene pun melanjutkan makannya, begitupun dengan Senna.

Setelah makan, mereka berdua pun keluar dari sana. Irene menghentikan langkahnya, lalu ia menatap Senna.

"Gomawo sudah mengantarku membeli perlengkapan wisuda," ucap Irene.

Senna mengangguk. "Ne eonni. Mianhae aku tidak seprofesional Sohyun atau Jennie yang ahli masalah fashion."

Irene terkekeh. "Jangan bilang begitu. Kita juga mendapat bantuan dari mereka lewat video call tadi, lagipula Sohyun kan tidak boleh keluar sendiri tanpa pengawal."

"Kau benar."

"Baiklah kau pergilah, aku takut temanmu itu sudah menunggu."

Senna mengangguk. "Aku pergi ya, eonni."

"Hm. Hati-hati!"

"Ne." Senna pun berlari kecil ke arah pinggi jalan untuk memanggil taksi.

Setelah membayar ongkos taksinya, Senna pun turun di depan pekarangan rumah Sehun yang luas itu.

Senna menekan bel interkom yang ada di samping pagar, lalu nampaklah wajah Sehun.

"Ini aku," ucap Senna.

Pintu pagar pun terbuka, werewolf cantik itu langsung saja melangkahkan kakinya masuk ke dalamnya.

Saat sampai di depan pintu utama, ia melihat Sehun sudah berdiri di pinggir pintu.

"Apa kau menunggu lama?" tanya Senna.

"Lumayan, wae?"

"Mian. Tadi aku sedang mengantar temanku membeli keperluan wisudanya."

"Ah... Baiklah. Silahkan masuk," ucap Sehun.

Senna pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah Sehun yang bergaya Eropa dengan kesan mewah dan elegan itu.

"Wah. Rumahmu bagus sekali," celetuk Senna.

Sehun terkekeh. "Yang tinggal juga bagus, kan."

"Astaga...."

Senna pun duduk di ruang santai, sementara Sehun pergi ke dapur untuk menuangkan minuman. Walaupun ia tidak bisa makan atau minum yang seperti manusia, di rumahnya tetap disediakan itu semua.

Sehun pun menghampiri Senna sambil mbawa segelas jus jeruk. Ia meletakkan gelas itu, lalu duduk di hadapan Senna.

"Gomawo," ucap Senna, lalu ia meminum minuman buatan Sehun itu.

Melihat Senna di hadapannya, tiba-tiba seulas senyum kecil terukir di bibir Sehun.

"Ah... Segarnya."

"Jadi bagaimana tugas ini?" tanya Sehun.

"Apa kita perlu mengambil darah dari rumah sakit?"

Sehun menggeleng. "Aku tidak mau, darah itu untuk mereka yang sangat membutuhkan."

"Kalau untukku, kau tinggal mengganti pigmen-pigmennya saja," ucap Senna.

"Baiklah."

"Lalu bagaimana denganmu?" tanya Senna.

"Tidak tahu. Jika membunuh manusia, kami bukan vampire seperti itu dan kami juga sudah lama tidak meminum darah manusia. Aku takut ini akan membuat nama kaumku ternodai, dan mereka dirugikan karenaku."

Senna pun menopang dagunya di atas meja. "Kalau begitu kita pikirkan masalahmu nanti saja, sekarang kau kerjakan tugasmu dulu saja."

Sehun mengangguk. Tugasnya adalah membuat makalah dengan sempel darah milik Senna.

"Aku akan mengambil peralatannya dulu," ucap Sehun, lalu ia naik ke atas kamarnya.

Senna tersenyum kecil saat Sehun sudah menghilang. "Kau vampire yang baik," gumam Senna.

Sehun yang sedang mengambil peralatannya pun tersenyum kecil saat mendengar perkataan Senna itu, lalu ia turun ke bawah.

Sehun yang sedang mengambil peralatannya pun tersenyum kecil saat mendengar perkataan Senna itu, lalu ia turun ke bawah

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Colab

Freakynan × andiiien1208

TBC...

dunkelheitCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang