14. HARI HANCUR RAFA

27.8K 2.3K 93
                                        

H A P P Y   R E A D I N G

Angkasa yang kokoh itu terbelah, menjadikanku sepotong garis yang kehilangan titiknya."

🌻

Ethan dan Gusti hanya bisa diam memperhatikan kedua kakak beradik yang kini sedang terisak sembari memeluk nisan yang masih sangat baru itu.

"Udah mau hujan, kita balik sekarang." Ajak Ethan sembari menepuk pelan bahu Rafa.

Rafa tidak menjawab. "Raf, jangan kayak gini," Ethan masih mencoba membujuk Rafa untuk pulang.

"Nggak. Gue mau nungguin eyang disini!"

Ethan menghela nafas pelan. "Ada Aura yang harus lo tenangin, ikut gue balik!" titah Ethan sembari melirik Aura yang ada di samping Rafa.

"GUE BILANG NGGAK YA NGGAK!" sentak Rafa sedikit berteriak.

Ethan yang semula berusaha menahan emosinya, jadi tersulut dan memukul rahang tegas Rafa, membuat Rafa tersungkur seketika.

"Bego, tolol, gak gini caranya nyampein duka! Eyang juga pasti gak suka liat kalian gini! Sekarang lo mau apa? Mau diem di sini? Silahkan diem sampai lo mati sekalipun, eyang gak akan kembali!" desis Ethan tajam.

Gusti yang melihat itu jadi menarik Ethan mundur dan membantu Rafa untuk bangun. "Than, udah. Kita lagi berduka!" peringat Gusti.

"Aura, lo balik sama mereka." Rafa menunjuk Ethan dan Gusti dengan dagunya.

Aura yang masih menangis sembari menatap nisan kakeknya itu, jadi mendongak. "Ck, gue mau balik kalau lo juga balik!"

"Nggak bisa." Kata Rafa.

"Lo gak balik, gue juga sama!"

"Jangan keras kepala Aura," ujar Rafa masih berusaha sabar.

Aura mendengus. "Lo juga jangan nyiksa diri lo sendiri!"

"Gue mau pergi ke suatu tempat. Sebelum malam datang, gue udah balik. Janji!" tegas Rafa yang langsung pergi dari hadapan Aura, Ethan, dan Gusti.

"Ayo balik Ra!" ajak Gusti yang kini sudah merangkul bahu lemas milik Aura.

Aura memandang sekilas nisan eyang tersayangnya itu, lalu mengangguk dengan berat hati.

🌻

Di sisi lain, Arkan dan Rio yang kini memakai pakaian serba hitam, dengan berani mendatangi sekolah. Kini keduanya sedang berada di depan Laboratorium Fisika.

"Loncat aja yo, kita kan tinggi!" saran Arkan.

"Malu tolol!"

Arkan berdecak pelan. "Demi Rafa yo, buru ah ikutin aja saran gue!" kata Arkan yang kini sudah melompat-lompat berusaha mengambil perhatian seseorang yang ada di dalamnya.

"Lewat pintu aja,"

"Nggak bisa yo, lo tau Bu Asni kayak gimana kan? Bantu gue sedikit lah yo, kaki lo kan panjang!" kesal Arkan sembari berdecak pelan.

BAD RAFA [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang