H A P P Y R E A D I N G
“Sesuatu menjadi berharga bukan karena harganya. Namun karena kenangan yang dimilikinya.”
🌻
Alya membuka kedua matanya secara perlahan. Gadis cantik itu mengerjap beberapa kali sembari melihat langit-langit atap ruangan serba putih itu. Cahaya lampu yang menyilaukan, membuat matanya sedikit menyipit. Namun ekor mata indah itu menangkap sebuah siluet tubuh yang sudah tidak asing lagi bagi dirinya.
Alya langsung menggerakan tubuhnya untuk bangkit dan mendudukan dirinya di atas ranjang rumah sakit. Gadis itu menoleh ke arah Rafa yang juga sedang menatapnya, namun pemuda Arsenio itu tidak kunjung membuka suara. Rafa hanya diam sembari menikmati iris hitam Alya yang menenangkan. Suasana hening pun tercipta di antara keduanya.
"Gimana keadaan lo?"
Alya tersenyum kecil. "Gue udah baikan sekarang," katanya sembari mengangguk beberapa kali untuk meyakinkan Rafa.
"Syukur kalau begitu," Rafa sedikit menunduk dan menarik nafasnya lama. Ia memejamkan matanya sekilas, lalu menatap Alya dengan garis wajah yang berubah. "Boleh gue genggam tangan lo?" pinta Rafa penuh harap. Alya pun langsung menjawab dengan anggukan kecil.
Rafa membawa lengan Alya ke dalam genggaman miliknya. Ia sedikit mengeratkan pautan tangan itu. "Maaf ya, Al."
"Untuk?"
"Semuanya."
Alya kembali menarik nafasnya panjang. Berusaha menahan diri agar bulir bening itu tidak jatuh kembali. "Gue juga minta maaf ya, Rafa?" ujarnya seraya menatap manik hitam milik Rafa
Rafa tersenyum. Kenapa rasanya canggung sekali untuk berbicara dengan gadisnya sendiri?
"Kenapa sih, Al? Kenapa nyembunyiin semuanya dari gue?" satu pertanyaan lolos begitu saja dari mulut lelaki tampan itu.
"Karena gue gak mau lo ngerasa sakit lagi," Alya menjeda ucapannya beberapa saat. "Lo tahu? Kenapa gue gak pernah terlihat sama lo sebelum ini? Karena gue ingin luka lama kita gak terbuka lagi. Gue hanya ingin lihat lo dari jauh, memastikan lo udah bisa ketawa lagi udah cukup buat gue..."
Air mata Alya mulai menetas secara perlahan. "Gue gak pernah meminta lebih. Tapi hari itu, lo datang dan menghancurkan pertahanan gue. Gue gak bisa nahan diri gue sendiri. Tau gimana sakitnya bersandiwara di depan orang yang menjadi alasan kita untuk memakai topeng hidup selama ini? Sakit Rafa. Rasanya sangat sakit waktu lihat lo masih pakai kalung kunci itu, waktu dengar lo cerita tentang Princess dan keluarga lo. Rasanya lebih sakit ketika gue sendiri orang yang diceritakan sama lo. Orang yang menjadi luka utama lo."
Tangis Alya semakin meluruh, membuat Rafa jadi menggenggam lebih kuat tautan lengan mereka. "Tentang penyakit ini, gue sendiri gak yakin apa gue bisa bertahan atau enggak. Gue hampir menyerah, saat orang lain bebas melakukan apapun gue cuma bisa diam dan memperhatikan. Saat mereka bisa makan makanan favorit mereka, gue cuma bisa senyum miris..."
"Rasanya gue mau marah sama Tuhan. Kenapa harus gue? Gue gak kuat jalanin semuanya sendirian. Gue gak bisa, kenapa Tuhan gak ngambil nyawa gue juga hari itu? Hari di mana semua keluarga gue dibunuh." Alya terisak kencang, membuat Rafa tidak bisa menahan dirinya lagi untuk memeluk gadis yang sangat ia cintai ini.
Rafa memejamkan matanya rapat. Setetes air mata itu keluar ketika mendengar betapa sulitnya Alya selama ini. Alya masih menangis di dalam dada bidang Rafa, seolah ia sedang menumpahkan segala bebannya selama ini kepada Rafa.
KAMU SEDANG MEMBACA
BAD RAFA [COMPLETED]
Teen FictionARES [1] : RAFA ARSENIO Ini tentang Rafa Arsenio, lelaki tampan pemilik mata segelap obdisian juga tatapan tajam seperti seekor singa jantan yang siap untuk menerkam lawannya. Ini tentang Rafa, sang ketua geng Ares yang banyak digilai oleh para kaum...
![BAD RAFA [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/180663704-64-k497706.jpg)