H A P P Y R E A D I N G
"Karena tidak semua pertentangan berarti permusuhan."
🌻
Rafa mengernyit ketika melihat sebuah punggung yang sedang duduk santai membelakanginya saat ini. Bisa Rafa lihat dari jauh, punggung itu nampak bersandar dengan tenang sembari menikmati semilir angin yang menyapa dan membiarkan hening tercipta.
Rafa melangkah mendekat kepada lelaki yang berjarak beberapa meter darinya. Rafa langsung menghela nafasnya kasar ketika lelaki itu menoleh dan malah tersenyum menyapanya.
"Saya tahu kamu pasti datang ke sini," kata Pak Indra sembari melirik Rafa yang sudah berdiri di depannya, namun tak kunjung duduk di samping tempat duduknya.
Pak Indra terkekeh kecil ketika Rafa masih berada di posisi awalnya, tidak bergerak sama sekali dan malah menatapnya dingin. "Kamu bukan anak kecil yang harus saya perintahkan untuk duduk, bukan?" tanyanya sembari melirik kepada tempat kosong di sampingnya.
"Saya lagi mau sendiri." Ucap Rafa serius.
Pak Indra mengangkat sebelah alisnya. "Kamu ngusir saya secara halus?"
"Ya."
Pak Indra mengerjap pelan ketika mendengar jawaban Rafa, tapi setelahnya lelaki paruh baya itu tertawa bebas untuk menanggapi Rafa. "Kamu masih sama. Seperti Rafa yang dulu,"
Rafa memejamkan matanya rapat, mengingatkan dirinya sendiri untuk tidak bersikap kasar karena sosok yang di depannya ini adalah gurunya.
"Jadi, Bapak mau tetap di sini?"
Pak Indra mengangguk tanpa menoleh sedikit pun kepada Rafa. Ia mengambil sebuah kopi hangat yang memang sudah ia siapkan sedari tadi untuk dirinya dan juga Rafa. "Ambil," titah Pak Indra seraya memberikan satu gelas kopi kepada Rafa.
"Ambil, Rafa, saya mau bicara." ujar Pak Indra, kali ini nada suaranya terdengar lebih serius.
Rafa mendengus, mengambil satu gelas kopi yang semula berada di genggaman Pak Indra, dan duduk begitu saja di atas sofa. Membuat Pak Indra diam-diam melirik dan tersenyum tipis melihat itu.
"Gimana rasa kopinya?"
Rafa meneguk ludahnya beberapa kali, lelaki itu menoleh dan menatap Pak Indra datar. "Bapak mau racunin saya?" tanyanya sarkastik.
Pak Indra menggeleng. "Bukan, saya hanya memberitahu kamu, bagaimana rasa pahit yang sebenarnya."
Rafa mengernyit tidak mengerti. Membuat Pak Indra jadi mengangguk kecil dan menunjuk segelas kopi yang masih Rafa genggam dan sesekali lelaki itu teguk.
"Tadi kamu bilang, rasanya pahit bukan? Lalu mengapa masih kamu teguk?" tanya Pak Indra lagi.
Rafa mengangkat bahunya ke atas. "Karena saya tahu, rasa kopi bisa membuat pikiran seseorang menjadi tenang. Walau pahit, orang-orang selalu setia meneguk kembali cangkir kopi mereka. Berharap, suasana hatinya sedikit berubah ketika meminumnya."
Pak Indra mengangguk setuju. "Benar. Lalu apa bedanya kopi itu, dengan kopi yang ini?" ujar Pak Indra sembari menunjukkan segelas kopi berwarna cokelat muda kepada Rafa.
KAMU SEDANG MEMBACA
BAD RAFA [COMPLETED]
Roman pour AdolescentsARES [1] : RAFA ARSENIO Ini tentang Rafa Arsenio, lelaki tampan pemilik mata segelap obdisian juga tatapan tajam seperti seekor singa jantan yang siap untuk menerkam lawannya. Ini tentang Rafa, sang ketua geng Ares yang banyak digilai oleh para kaum...
![BAD RAFA [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/180663704-64-k497706.jpg)