H A P P Y R E A D I N G
"Jangan lihat hujan dari apa yang jatuh, tapi lihat dari apa yang akan tumbuh." - Agus Noor
🌻
"Gue suka sama Alya," kata Davin to the point. "Ah ralat, gue cinta sama dia."
Dengan sebatang rokok yang terhimpit di kedua jarinya, Rafa menoleh menatap Davin datar. "Mood gue lagi bagus akhir-akhir ini, jadi tolong jangan mancing gue buat mukul wajah sialan lo itu." Peringat Rafa.
Kini keduanya sedang berada di area bar resort yang menjadi tempat penginapan mereka, Rafa ditemani dengan rokoknya, sedangkan Davin ditemani dengan secangkir kopi yang ada dalam genggamannya.
"Gue mundur," kata Davin.
Rafa mengangguk setuju. "Bagus kalau lo tahu diri."
Sontak Davin langsung berdecih. "Bukan, bukan karena gue merasa kalah dari lo. Tapi karena Alya,"
"Alya?"
Davin menghela nafasnya pelan, lelaki itu berjalan ke salah satu meja bar dan duduk begitu saja. "Alya udah suka sama lo dari kelas sepuluh." Ujar Davin.
Rafa yang semula sedang mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, jadi tersentak. "What the fuck?! Are you kidding me??" umpatnya.
"Menurut lo?" Davin memutar bola matanya malas. "Coba lo pikir, kenapa waktu itu gue harus repot-repot ngabisin lo di saat Alya nangis karena lo untuk pertama kalinya?"
"Vin, jangan bercanda." Datar Rafa.
Davin terkekeh sinis. "Lo baru nyadar sekarang? Biar gue kasih tau sesuatu."
"Dulu, waktu awal mos banget, ada seorang cewek yang mimisan dan jongkok waktu upacara pembukaan, lalu tiba-tiba ada seorang lelaki yang menjadi pahlawan, nyodorin tissue dan jadi tameng cewek itu saat di hukum senior. Pasti lo udah lupa kan? Karena menurut lo itu semua cuma angin lalu, tapi gimana sama Alya?"
Rafa terdiam di tempatnya, mengingat kembali masa-masa itu. Ingatannya langsung terlempar pada gadis pucat waktu itu.........dan ternyata, selama ini Alya orangnya?
Hari senin. Dimana upacara pembukaan sedang dilaksanakan.
Seorang gadis berwajah pucat, dengan tubuh mungilnya terus memegangi kepalanya yang mendadak sakit dan pening, karena tak kuasa menahannya lagi, gadis itu berjongkok agar tubuhnya tidak terkena pancaran sinar mentari.
Tes. Darah tiba-tiba keluar dari hidung mancung gadis itu, ia menoleh ke sisi kanan dan kiri, berniat mencari ketiga sahabatnya, Dinda, Salma, dan Davin. Namun hasilnya nihil, sampai sebuah tissue terjulur ke aranya.
"Cepet pake, gue halangin lo dari sinar matahari sama osis." Kata Rafa datar.
Gadis itu mengangguk menurut, menyumpal hidungnya dengan tissue agar darah tidak lagi keluar dari sana.
"Hebat banget, orang-orang pada kepanasan, lo bisa dengan seenak jidat lo neduh gini." Celetuk seorang senior yang berhasil memergokinya.
Rafa yang semula ingin tidak peduli, jadi berdecih kesal. "Eh lo santai aja dong, dia lagi sakit!"
Senior itu menoleh kepada Rafa, menatapnya tajam. "Di mana sopan santun lo sama senior? Jangan mentang-mentang kalian peserta didik baru jadi gue gak bisa lawan kalian."
KAMU SEDANG MEMBACA
BAD RAFA [COMPLETED]
Teen FictionARES [1] : RAFA ARSENIO Ini tentang Rafa Arsenio, lelaki tampan pemilik mata segelap obdisian juga tatapan tajam seperti seekor singa jantan yang siap untuk menerkam lawannya. Ini tentang Rafa, sang ketua geng Ares yang banyak digilai oleh para kaum...
![BAD RAFA [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/180663704-64-k497706.jpg)