H A P P Y R E A D I N G
🤸
Rafa berjalan santai menuruni satu persatu tangga untuk menuju lantai bawah. Cowok itu sudah membawa tas sekolahnya, malam ini ia sudah berjanji pada Alya untuk belajar bersama. Sebenarnya Rafa malas, sangat-sangat tak berminat untuk belajar. Jika gadisnya tidak memaksa dan mengancam, mungkin Rafa akan langsung menolak mentah-mentah ajakan itu. Tapi bujukan Alya Senja Gabriella benar-benar mampu melemahkan Rafa, alhasil dengan setengah niat yang ia punya Rafa akan pergi ke rumah Alya, tentunya setelah berkumpul sebentar dengan para anggota Ares.
Bagaimanapun juga, Rafa mempunyai tugas yang cukup banyak sebagai ketua, ia harus mengontrol rumah Ares yang menjadi markas utama setiap harinya. Pagi-pagi sekali Rafa selalu menyempatkan diri berkunjung dan mengecek keadaan rumah Ares sebelum menjemput Alya dan berangkat bersama. Siangnya, cowok itu akan melakukan beberapa tugas juga mengatur strategi jika suatu waktu mereka diserang secara tiba-tiba. Sore hari, adalah waktu luang Rafa yang dipakai untuk bersama Alya. Malamnya, ia kembali lagi ke markas walau hanya sekedar mengabsen beberapa anggota yang hadir dan melakukan jaga. Selalu seperti itu setiap harinya, tak pernah terlewat bagai film lama yang terus diputar kembali.
Rafa tersedak kala Aura melewatinya begitu saja, cowok itu jadi tersadar akan berita yang sempat tersebar tadi siang di Jakarta Highschool. Dengan gerakan cepat Rafa menaruh gelasnya di atas meja makan dan menarik rambut sang adik agar gadis itu bisa menghentikan langkah dan menerima segala bentuk pertanyaannya.
"IH SAKITTT, BILANGIN MAMA NIH?!" keluh Aura berteriak mengancam, tangan kanannya mencengkram kuat lengan Rafa yang menjambak rambutnya. Sedangkan di tangan kirinya ada ponsel yang terus menerus menyala menampilkan beberapa notifikasi.
Rafa berdecak sebal, melepas jambakan itu dan memegang kedua bahu Aura agar gadis itu tidak kabur ke mana-mana.
"Tadi sore lo nembak Davin?" tanya Rafa mengintrogasi lewat tatapan matanya. Cowok itu menunduk agar wajahnya tepat berada di depan Aura yang memang lebih pendek darinya. Ditatap seperti itu jadi gelagapan sendiri, ia menggigiti bibir bawahnya kelu dengan pandangan yang terus menghindar dari kedua manik mata Rafa.
"Fitnahhhhh!" elak Aura dengan wajah gugupnya.
Rafa mendengus. Merogoh saku celana jeans hitamnya, mengotak atik ponselnya tanpa melepaskan kukungannya pada pundak Aura. Rafa menunjukkan sebuah video berdurasi satu menit itu pada Aura. "Mau ngelak gimana lagi, hm?" Rafa mengangkat dagunya menatap sang adik dengan tidak percaya.
"IYA! GUE NEMBAK KAK DAVIN AH, PUAS LO?!" ujar Aura berterus terang menepikan segala rasa kekhawatirannya, karena rasanya mengelak pun percuma.
Rafa menurunkan kedua lengannya. Cowok itu menghela napas panjang dan menggelang tak percaya menatap Aura. "Lo ngapain sih oon?" Rafa menyentil gemas dahi Aura.
"Ya nyatain cinta lah! Gak baik memendam perasaan terlalu lama!" bela Aura pada dirinya sendiri.
Rafa meneguk ludahnya kasar. Sulit memang berbicara pada Aura si keras kepala. Siang tadi, saat Rafa pergi membolos bersama empat sahabat gilanya, ia mendapat kabar bahwa Aura menembak Davin tepat di tengah lapangan utama Jakarta Highschool. Rafa kira Aura hanya main-main dan memilih untuk tidak mempedulikannya. Tapi tadi, saat Rafa pergi mengecek sendiri kamar Aura, ia langsung dibuat terkejut karena banyaknya poster Davin yang terpajang pada dinding kamar Aura. Bukan sampai di situ saja, Aura bahkan mencetak beberapa kaos polos dengan wajah Davin yang tertempel di tengahnya. Hal yang langsung membuat Rafa menepuk jidatnya frustasi di detik pertama.
KAMU SEDANG MEMBACA
BAD RAFA [COMPLETED]
Teen FictionARES [1] : RAFA ARSENIO Ini tentang Rafa Arsenio, lelaki tampan pemilik mata segelap obdisian juga tatapan tajam seperti seekor singa jantan yang siap untuk menerkam lawannya. Ini tentang Rafa, sang ketua geng Ares yang banyak digilai oleh para kaum...
![BAD RAFA [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/180663704-64-k497706.jpg)