H A P P Y R E A D I N G
“Jangan seperti hujan yang beraninya keroyokan. Tapi jadilah seperti petir, sendiri namun mematikan.”
🌻
Rafa marah.
Terlihat sangat jelas dari perubahan raut wajah lelaki itu. Bukan pada Nando ataupun yang lainnya, ia hanya marah pada dirinya sendiri. Berbagai pikiran kotor mulai masuk ke dalam otaknya, Rafa mulai menyalahkan dirinya sendiri lagi.
Sampai di sebuah gerbang hitam yang menjulang tinggi, Rafa langsung turun dari motor ninja hitamnya. Ia berjalan dengan tergesa, mulai merogoh sakunya untuk mencari kunci gerbang rumah mewah ini. Basecamp utama Ares dengan sejuta lebih kenangan yang dia ukir bersama teman-temannya.
Rafa membuka kedua pintu itu secara lebar. Hening, dingin dan senyap. Itulah kesan pertama yang Rafa dapatkan setelah menginjakkan tubuhnya di dalam rumah ini. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan utama ini. Tempat paling bersejarah selama ia menjadi anggota Ares.
Beberapa memori tentang kebersamaan mereka mulai berdatangan. Mata elangnya terhenti pada sofa yang menjadi tempat duduk dirinya juga keempat sahabatnya. Bayangan Arkan, Ethan, Gusti, dan Rio yang sedang tertawa keras bahkan sesekali mereka saling bertengkar. Lalu bayangan para anggota Ares yang selalu meramaikan rumah ini, mereka tertidur bersama, bermain bersama, dan bahkan hampir seluruh kegiatan mereka dihabiskan di rumah ini. Walau tidak banyak memberi manfaat, rumah ini sudah menjadi tempat mereka pulang. Semua hal dan memori kebersamaan mereka tercipta di tempat ini.
Rafa melangkahkan kakinya menuju kursi kebesarannya. Kursi yang akan sangat Rafa rindukan. Tidak terasa, waktu berjalan begitu cepat. Sudah satu tahun Rafa memimpin Ares, telah banyak yang ia korbankan untuk keluarga ini. Pandangannya jatuh kepada sebuah foto besar yang terpajang di dinding yang ada di hadapan lelaki itu, foto yang diambil satu tahun lalu. Foto Rafa bersama seluruh anggota Ares yang sedang mengenakan leather jacket kebanggaan mereka.
Bisakah Rafa melawan Nando berserta Fobos? Bisakah ia menyelamatkan nyawa teman-temannya itu? Rafa takut. Karena dia benar-benar sendirian kali ini. Tapi pemuda Arsenio itu menggeleng tegas. Dia pasti bisa.
Rafa langsung melangkah cepat menuju lantai dua. Memasuki sebuah kamar dengan stiker besar bertuliskan kata 'THE BOSS' yang ada di depan pintu itu. Tidak lama, ia keluar dengan pakaian berbeda. Kali ini, aura menyeramkan sangat terlihat jelas dari sang ketua Ares itu. Rafa melepas jaket kebanggaannya, kini dia hanya memakai pakaian serba hitam dari ujung kaki hingga kepalanya.
"Tunggu gue. Gue pasti datang untuk kalian," gumam Rafa pada dirinya sendiri, seolah ia sedang meyakinkan seluruh teman-temannya itu.
Rafa berhenti di sebuah ruangan yang selama ini selalu terturup rapat. Pemuda Arsenio itu meletakan jari telunjuknya kepada alat pendeteksi—Finger print— setelah berhasil melakukan identifikasi, pintu hitam itu terbuka secara otomatis. Rafa menarik nafasnya perlahan lalu memasuki ruangan misterius itu.
Ruangan rahasia, tempat menyembunyikan senjata ataupun barang berharga lainnya. Ruangan yang hanya bisa diakses oleh para ketua Ares. Dan Rafa salah satunya. Rafa melihat kembali berbagai foto yang dipajang di sini. Foto-foto ketua Ares dari awal masa pembentukannya, hingga foto dirinya sendiri yang terpajang secara gagah di posisi terakhir. Sebentar lagi foto ini akan menjadi gambar paling melegenda, karena akan ada foto Gibran yang dipajang di sampingnya. Menggantikan posisinya sebagai ketua.
KAMU SEDANG MEMBACA
BAD RAFA [COMPLETED]
Fiksi RemajaARES [1] : RAFA ARSENIO Ini tentang Rafa Arsenio, lelaki tampan pemilik mata segelap obdisian juga tatapan tajam seperti seekor singa jantan yang siap untuk menerkam lawannya. Ini tentang Rafa, sang ketua geng Ares yang banyak digilai oleh para kaum...
![BAD RAFA [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/180663704-64-k497706.jpg)