TIGA

8.5K 646 5
                                        

         TIGA

"Woy, ma bro! Akhirnya lo dateng juga. Tumbenan lo bisa kumpul bareng kita-kita?"

Terdengar sapaan hangat sekaligus sindiran yang dilontarkan Eric ketika Abi memasuki sebuah apartemen.

Pemuda tampan dengan kemeja putih itu hanya melirik acuh pada sang sahabat yang memang selalu suka untuk menyindirnya.

"Sengaja gue dateng karena gue tahu lo semua pasti kangen sama gue," ujar Abi santai. Abi mengambil posisi duduk di sebelah Daniel yang tengah mengutak-atik ponselnya. "Ngerjain apa lo?" tanyanya melihat ekspresi Daniel.

Daniel, pemuda tampan dengan wajah putih dan ekspresi datar serta kacamata minus menghiasi matanya melirik sejenak pada sosok Abi.
"Gue lagi cari informasi tentang adek gue," ujarnya menjelaskan secara singkat.

"Belum ada info apa pun?" Abi menatap Daniel dengan sebelah alis terangkat.

Abi tahu jika selama ini Daniel tengah mencari keberadaan ibu dan adiknya yang sudah menghilang beberapa tahun yang lalu.

"Belum," balas Daniel singkat.

Abi kemudian tak bertanya lagi. Pemuda itu mengalihkan perhatiannya pada sosok tampan yang tengah duduk termenung dengan beban pikiran yang terlihat dari ekspresi wajahnya.

"Lo kenapa, Im?" Abi bertanya pada sosok tersebut. Sosok bernama Ibrahim Kinanta yang sering di panggil Baim menoleh dan menatap Abi sedih.

"Gue mau di jodohin sama Enyak gue. Pusing gue," keluh Baim dengan frustrasi.

"Wah, selamat dong kalau begitu. Lo enggak perlu cari jodoh lagi karena jodoh lo udah datang sendiri," kata Abi memberi selamat.

"Kalau ceweknya baik dan cantik sih, gue udah pasti mau. Ini cewek yang mau di kawinin sama gue beratnya aja hampir setengah ton."

Baim mendapat lemparan bantal sofa dari Eric ketika mendengar pernyataan berlebihannya.

"Gue ini ngomong fakta, no hoaks, no bokis, dan no tipu-tipu!" jerit Baim frustrasi.

Di antara ke empat sahabatnya tidak ada satu pun mereka yang percaya dengan ucapannya. Hal tersebut kontan membuat Baim ingin menangis histeris.

"Lebay!" teriak Eric dan Abi kompak. Sementara Baim hanya bisa mendengkus lirih menatap kesal pada kedua sahabatnya.

"Lo mau kemana, Dan?" Eric bertanya menatap Daniel yang tengah berdiri dari posisi semula.

Daniel menoleh dan menjawab singkat, "gue mau jemput Darrel di bawah."

"Darrel itu siapa, sih?  Kok di jemput Daniel segala?" sinis Baim yang kini sudah kembali ke alam normal.

"Darrel itu kembaran Daniel yang juga sahabat elo. Untungnya gue enggak begitu kenal sama Darrel," balas Eric menghela napas lega.  Segera setelah itu Abi melempar Eric bantal sofa dan menatap sinis sahabatnya itu.

"Seinget gue, Darrel itu teman se-homo lo, Ric. Lo 'kan selalu berduaan terus sama dia."

Eric segera bergidik dan menatap tajam Abi. Enak saja dirinya di sebut homo. Dirinya masih menyukai perempuan bukan laki-laki!

"Abi, lo!"

"Apa? Lo mau gue kasih bogem? Ayo, sini." Abi berdiri menantang Eric yang terlihat mencak-mencak di tempat namun yang di tantang justru berlari ke kamarnya.

Bukan rahasia umum lagi jika Abi menguasi teknik taekwondo! Jadi, jika ingin selamat ia harus melarikan diri jika tidak ingin wajah tampannya babak belur di hajar Abi.

                   ****

MENGEJAR CALON PENGANTINCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang