Suara ketukan pintu terdengar dari luar, membuat Naya yang tengah merebahkan tubuhnya menggeliat malas. Namun, ia tetap memilih untuk tidak bangkit dari posisinya.
Tidak hanya suara ketukan, tapi juga bel terus berbunyi. Rasa malas Naya membuatnya acuh pada sang pengetuk. Itu tidak mungkin Abi, karena pria itu sendiri bisa masuk dan keluar sesuka hatinya ke dalam kamar mililnya.
Naya menebak, jika bukan asisten Abi yang menurutnya sok berkuasa itu, itu sudah pasti Bramasta.
Naya menguap dan perutnya sudah merasa lapar. Abi sedang melakukan meet and greet dan sudah pasti pria itu sibuk.
Dengan malas, Naya bangkit dari posisi rebahannya, mengambil dompet dan ponselnya. Lalu, setelah itu ia melangkah ke pintu keluar dan menemukan sosok yang sudah ia prediksi masih berdiri di depan pintu kanarnya.
Naya memutar bola matanya malas. Namun, sosok yang tak lain adalah Bram justru menegakkan tubuhnya menatap Naya dengan ekspresi lega.
"Kenapa?" tanya Naya singkat. Dia sedang tidak dalam mood baik untuk basa-basi.
"Hah, syukur lah kamu sudah keluar, Nay. Aku udah nunggu kamu dari satu jam yang lalu." Bram mendesah melihat Naya keluar dari pintu kamarnya.
"Enggak ada yang suruh," gumam Naya malas. "Kenapa datangi gue? Ada perlu apa? Langsung to the point aja." Naya menatap Bram tak minat.
Naya tak suka dengan pria yang masih mencium ketiak ibunya macam Bram ini. Tidak ada keberanian dan cenderung pasrah dengan apa yang diperintahkan mamanya. Naya tidak suka dengan pria yang tidak bisa memegang prinsip seperti Bram.
"Aku mau bicara sama kamu di tempat lain. Aku mau kita menyelesaikan masalah kita yang dulu," ucapnya tegas.
Naya tak menolak. Gadis itu mengibaskan tangannya setuju. Sambil memegang ponsel dan mengetik sesuatu di layar, Naya terus berjalan menuju pintu lift dengan Bram yang mengikuti dari samping.
"Ngabarin Abi?" celetuk Bram menatap Naya dari samping.
"Mmm." Naya mengangguk singkat sebagai responnya.
Bram terdiam. Tidak mengucapkan sepatah kata lagi sampai mereka tiba di restoran yang masih berada dalam satu wilayah dengan hotel tempat Naya menginap.
"Lo mau ngomong apa?" Naya mendongak menatap Bram yang duduk di hadapannya.
Mereka baru saja menyelesaikan makan mereka dan Naya sudah tidak sabar untuk menanyakan tujuan Bram datang menemuinya.
Gadis itu ingin cepat-cepat kembali ke kamar dan merebahkan tubuhnya kembali ke tempat tidur.
Naya menguap malas. Matanya berkedip karena rasa kantuk yang menghampirinya.
"Soal hubungan kita di masa lalu," ujar Bram memberitahu.
"Hm?" Naya menatap Bram malas. "Kenapa masih bahas masa lalu? Gue dan lo udah lama enggak di jalan yang sama sudah sejak beberapa tahun yang lalu," tandasnya sambil menyeruput minuman dalam gelasnya.
"Aku tahu soal itu. Awalnya aku enggak terima kamu putuskan aku, tapi setelah berbulan-bulan, aku akhirnya menyadari kalau memang aku bukan yang terbaik buat kamu." Bram tersenyum miris. "Andai dulu aku punya keberanian buat menantang mama dan memperjuangkan kamu, mungkin kita enggak akan seperti ini," lirihnya.
Naya hanya diam tak merespons ucapan Bram. Bagi Naya dulu ya dulu dan sekarang ya sekarang. Tidak akan merubah keadaan.
"Aku minta maaf karena dulu pernah menjadi lelaki lemah yang enggak bisa melindungi kamu," ungkap Bram lirih. "Aku harap walau kita enggak bisa jadi pasangan kekasih, kita masih bisa jadi teman 'kan?" tanya Bram mulai tersenyum. Ia sudah meng-ikhlaskan semuanya dan mungkin ia dan Naya memang tidak berjodoh.
KAMU SEDANG MEMBACA
MENGEJAR CALON PENGANTIN
General FictionDi tinggal kekasih yang sudah berpacaran selama satu tahun tidak membuat Anaya Bilqis begitu terpuruk karena ia menganggap pria yang bersamanya bukan jodohnya. Hingga akhirnya orangtua Naya berasumsi bahwa Naya gagal move on dan berniat mencarikan j...
