46

10.8K 933 84
                                        

      

Naya masih bersikap seperti biasa di hadapan keluarga besar. Gadis cantik itu bersikap seolah tidak pernah terjadi apa pun tadi siang.

Abi sendiri masih berusaha untuk mengajak Naya berbincang, tapi gadis itu sepenuhnya mengacuhkan keberadaannya.

Hanya di hadapan seluruh keluarga besar, Naya akan menjawab pertanyaan Abi dengan sedikit. Tapi, jika hanya mereka sendiri, Naya akan kembali bersikap acuh.

"Nay," panggil Reva menatap Naya sedih.

Saat ini sudah sore dan semua sepupu Abi berada di ruangan yang sama dengan mereka.

Kedatangan Reva yang menatap sedih Naya membuat mereka bertanya-tanya dalam hati. Apalagi ketika melihat pipi kiri Reva yang merah seperti habis terkena tamparan.

"Aku benar-benar minta maaf soal tadi. Kamu salah paham soal aku yang pelukan sama Abi," ujar Reva dengan kepala tertunduk.

Suasana semakin hening mendengar perkataan Reva. Mereka masih menunggu hal apa yang akan terjadi selanjutnya.

Mereka cukup terkejut dengan perkataan Reva yang mengakui dirinya berpelukan dengan Abi.

"Tadi, aku hanya terbawa suasana karena menceritakan masalahku dengan Evan pada Abi. Aku enggak sadar waktu meluk Abi tadi." Reva berkata dengan ekspresi sedih yang menuai simpatik dari beberapa sepupu Abi.

Mereka mengira mungkin Naya salah paham dengan apa yang terjadi tadi. Dua sepupu Abi yang usianya sama dengan Naya bangkit berdiri menghampiri Reva dan berdiri di kedua sisi Reva.

"Lo enggak salah kok, Va. Kita tahu kalau kadang kita terbawa perasaan waktu curahkan isi hati yang udah lama di pendam. Dan, kadang enggak sadar dengan situasi." Vivi berkata dengan suara lembut sembari mengusap pundak Reva yang bergetar.

"Lo udah mau mengakui itu di depan kita semua, itu berarti lo benar-benar khilaf." Vera ikut menimbrung. Lalu, tatapannya beralih menatap Naya. "Dan buat lo, Nay, lo terlalu berlebihan dalam menyikap suatu masalah. Gue tahu, wajahnya Reva merah pasti karena tamparan lo, kan?" tuduhnya tepat sasaran.

Naya tak menanggapi. Gadis itu menguap lebar tanpa menutup mulutnya dengan tangan. Kemudian, tanpa menunggu waktu, Naya bangkit dari duduknya dan berdiri tegap di depan ketiga gadis yang menatapnya dengan tatapan tak terbaca.

"Udah selesai?" tanyanya, membuat Vera dan Vivi terbelalak akan reaksi Naya.

"Kok diam? Kalian udah benar-benar selesai 'kan? Kalau udah, biarkan gue yang bicara sekarang."

Suasana hening karena tidak ada sahutan yang berasal dari manapun hingga akhirnya keheningan terpecah ketika suara tamparan keras yang dilayangkan Naya tepat di pipi Reva membuat semua yang berada di sana terbelalak tak percaya.

"Naya!"

Vivi, Vera, dan bahkan Abi berseru terkejut melihat aksi Naya barusan. Sementara Reva yang menerima tamparan keras dari Naya terhuyung ke belakang dan jatuh tersungkur ke lantai.

"Hidup lo terlalu banyak drama dan gue lebih suka aksi." Naya menatap Reva datar, kemudian tanpa kata ia berbalik pergi keluar dari ruangan diikuti Sean dari belakang.

"Gue enggak tahu apa lagi yang lo rencanakan, Reva. Tapi, apa pun itu gue harap lo berhenti." Sean berucap ketika ia berada di depan pintu. "Karena kalau Naya udah bergerak, gue yakin, enggak akan lo yang hancur,  tapi juga semua anggota keluarga lo. Bahkan, Om Danu, om kandungnya sendiri."

Setelah itu, Sean berjalan keluar mencari tempat keberadaan Naya.

Abi tertegun mendengar kalimat Sean. Abi tidak tahu dari mana asalnya, ia merasa peringatan yang diberikan Naya pada Reva juga sebenarnya diberikan padanya.

MENGEJAR CALON PENGANTINCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang