Promo pdf judul
- My possessive senior
-, My wife is my life
- wife celebrity
- pengantin bajakan
- pengantin dadakan
- pengantin khayalan
- Losive.
Bonus Pdf mengejar calon pengantin 10part. Harga 150k untuk 7 pdf+bonus.
Kalau mau bisa pilih empat judul 100ribu.
Dengan aku kasih promo seperti ini aku harap kalian enggak beli dan terpengaruh dengan pdf sodakoh ya. Aku ngetik dan cari inspirasi enggak mudah. Kadang sedih kalau ada yang jual pdfku dengan harga 2-5k. Itu sakit saat tau karyaku dijual seharga itu.
Promo berhenti saat tanggal 5 November jam 12 malam. 5 november hari kelahiran dan kematian almh adikku.
Jarang up karena Lagi ada problem di dunia nyata yang bawaannya pengen banget buat aku pergi ke tempat yang tenang mungkin di dunia berbeda. Aish. Bahas apa ini.
Nitta
082379104223
Anaya melajukan mobil menuju kediaman Om-nya dengan kecepatan sedang.
Tujuannya kali ini adalah untuk meminta dibelikan sepatu keluaran terbaru Christian Louboutin. Karena Naya sudah membantu perusahaan sang paman satu minggu yang lalu tentu saja ia akan meminta imbalan.
Turun dari mobil Naya mulai berteriak di dalam rumah dan menggemparkan penghuninya.
"Om Putra oh Om Putra!"
"Astaga, Naya. Kamu anak gadis enggak boleh teriak-teriak seperti itu. Pamali, nanti kamu susah dapet jodoh," tegur Saina yang baru keluar dari dapur.
"Jodoh lagi, jodoh lagi yang disebut," dengkus Naya kesal.
Tangan lembut Saina bergerak mencubit perut Naya yang terbalut tanktop hitam dipadukan dengan outer putih sebatas paha dengan lengan pendek.
"Sakit, Tante," ringis Naya mengusap perutnya.
Tantenya ini adalah pencapit kepiting sejati. Cubitannya kecil namun rasanya seperti kulit akan lepas dari tulang.
"Rasain. Telinga tante juga sakit kok dengar suara kamu teriak-teriak," balas Saina memelototi Naya.
"Tante pendendam, ih."
"Kayak kamu enggak aja."
Naya berdecap malas. Berdebat dengan tantenya ini tidak akan habis jika ia tidak menghentikannya.
"Om Putra mana, Tan?" Naya mengedarkan pandangannya mencari dimana lokasi Putra saat ini berada.
"Kamu lihat dong, Nay, ini jam berapa," ujar Saina malas.
"Jam sebelas 'kan?"
"Ya menurut kamu kalau masih pagi gini biasanya om-mu di mana?"
"Kantor, Tan," jawab Naya yang masih belum menyadari situasi.
Saina bergeming tidak lagi menyahut dan menunggu Naya sadar hingga beberapa detik kemudian Naya menepuk dahinya pelan dan tersenyum polos menatap Saina.
"Kalau begitu aku pergi dulu, Tan. Jangan kangen aku ya!" Naya tersenyum lebar mengecup pipi Saina dan berbalik pergi meninggalkan kediaman Putra.
Saina menggeleng melihat tingkah Naya tidak seperti gadis yang baru di tinggal kekasih yang bertunangan dengan gadis lain yang tak bukan adalah sepupunya sendiri.
Namun, setidaknya mereka merasa lega karena Naya tidak begitu terpuruk ketika di tinggal Evan yang bertunangan dengan Reva, sepupunya sendiri.
Tiba di kantor sang paman tanpa menanyakan letak ruangan sang big bos, Naya segera masuk ke lift dan menekan tombol panel yang akan membawanya ke lantai tempat Putra berada.
"Om Putra! Yuhu Naya datang!" Naya berteriak di depan pintu dan sedikit terkejut mendapati sang panan tidak sendirian melainkan bersama dua orang yang tidak ingin ia lihat.
"Ah, Naya. Kamu di sini rupanya." Putra tersenyum menyambut kedatangan keponakannya.
Naya masuk dan duduk di sebelah Putra dengan senyum lebar dari telinga ke telinga tanpa memperdulikan dua orang lainnya.
"Kenapa kamu? Kok mencurigakan?" Putra menatap Naya penuh selidik. Pria paruh baya itu sudah terlalu hafal dengan tabiat putrinya ini.
"Om Putra." Naya mendekap lengan Putra dan tersenyum manis. "Ada Cristian louboutin keluaran terbaru loh."
Putra tersenyum teduh dan menggelengkan kepalanya. Naya dan shopping tidak bisa dipisahkan karena sudah diberi lem perekat yang sulit untuk dilepaskan.
"Ya sudah, nanti om transfer," kata Putra membuat Naya bersorak riang.
Meminta dengan orang tuanya sama saja dengan berusaha untuk mencubit telinga harimau. Namun, meminta dengan Putra, Naya mengibaratkan seperti dermawan yang begitu murah hati. Ah, Naya bahagia memiliki om sebaik ini! Pekik gadis itu senang.
"Ehem!" Seorang berdehem mengalihkan perhatian paman dan keponakan tersebut.
Evan, pemuda itu tersenyum tipis menatap Putra dan melirik sedikit pada Naya yang ia anggap sebagai parasit pengganggu penglihatannya.
Evan semakin ilfeel dengan Naya yang terlihat begitu matrealistis. Benar kata Reva jika Naya memang perempuan matre yang akan mengandalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.
Beruntung Evan segera sadar dan memutuskan hubungan mereka begitu saja. Evan dan Reva menjalin hubungan diam-diam selama tiga bulan terakhir dan segera melanjutkan ke jenjang yang lebih serius dengan mengikat hubungan pertunangan bersama Reva.
"Oh, maaf, Pak Evan, saya hampir lupa kalau kalian masih di sini." Putra tersenyum meminta maaf. "Proposal kerjasama yang Pak Evan ajukan nanti akan saya kaji terlebih dahulu dan akan saya infokan jika saya sudah membuat keputusan," tambahnya menatap Evan penuh wibawa.
Pria paruh baya itu tahu siapa pemuda di hadapannya saat ini. Pemuda inilah yang membuat keponakannya sakit hati.
"Baiklah kalau begitu. Saya sangat senang jika Pak Putra bisa menerima saya sebagai partner kerjasama kita," ucap Evan tersenyum manis.
"Iya, Om. Aku juga berharap om akan bersikap seperti partner kerja yang baik tanpa harus melihat jika Evan adalah tunangan aku," sambung Reva dengan senyum lembutnya.
Reva menatap Evan penuh cinta kemudian beralih menatap Putra dengan senyum lembut yang mampu membuat orang merasa senang.
"Kalau soal itu kamu tenang saja, Reva. Om selalu profesional dalam melakukan pekerjaan," timpal Putra santai.
Putra menyadari makna dari ucapan Reva barusan. Meski ucapannya ia balikan menjadi lebih lembut namun Putra tahu sekali jika Reva memperingatinya agar tidak melihat Evan sebagai mantan kekasih Naya yang sudah disakitin pemuda itu.
Putra mendengkus dalam hati. Untung Reva adalah keponakannya. Coba saja kalau bukan, sudah ia gilas bibir itu dengan papan nisan.
Jangan lupa beli pdfnya
KAMU SEDANG MEMBACA
MENGEJAR CALON PENGANTIN
Ficción GeneralDi tinggal kekasih yang sudah berpacaran selama satu tahun tidak membuat Anaya Bilqis begitu terpuruk karena ia menganggap pria yang bersamanya bukan jodohnya. Hingga akhirnya orangtua Naya berasumsi bahwa Naya gagal move on dan berniat mencarikan j...
