Jam sudah menunjukkan pukul 1 dini hari. Semua penghuni sudah terlelap di alam mimpi membuat tidak ada suara apa pun yang terdengar kecuali lolongan anjing dan suara jarum jam.
Suara jendela yang terbuka terdengar dengan keras, membuat Reva yang masih berada di dalam mimpi tersentak dari tidurnya.
Gadis itu mengucek matanya sebelum menatap lurus ke arah jendela yang terbuka lebar.
"Mungkin aku lupa menutup jendela," gumam Reva setengah menggerutu.
Dengan malas-malasan, gadis itu turun dari tempat tidur dan melangkah ke arah jendela yang terbuka lebar.
Reva berdiri di depan jendela, menatap ke sekitar dan tidak melihat sesuatu yang mencurigakan. Gadis cantik itu menarik jendela yang terbuat diri bingkai kayu dan kaca dan menutup rapat jendela hingga angin tidak akan bisa untuk sekadar mengganggu tidurnya lagi.
Reva kembali ke tempat tidurnya. Gadis itu baru saja merebahkan tubuhnya kembali, namun suara dentuman kembali terdengar dan kali ini berasal dari jendela satunya.
Kamar Reva memang memiliki dua lubang jendela dan mungkin jendela satunya juga ia lupa menguncinya.
Reva kesal dan tidak berniat untuk menguncinya. Reva berniat melanjutkan kembali tidurnya, namun kali ini suaranya kembali terdengar.
"Apaan 'sih? Enggak ada angin atau hujan. Kenapa pintu pada bergerak begini," gerutu Reva kesal.
Tidak ingin membiarkan suara berisik yang mengganggu tidurnya, Reva memilih bangkit dan mulai berjalan ke arah jendela.
Gadis itu baru saja akan menarik jendela kaca yang terbuka, namun pergerakannya terhenti ketika sesuatu yang dingin menyentuh tangannya.
Perasaan takut mulai menghantui pikiran Reva ketika sesuatu yang dingin itu merayap di atas tangannya. Belum lagi harum bunga melati mulai tercium dan jaraknya sangat dekat dengan Reva saat ini berada.
Reva menggigit bibir bawahnya menatap lurus ke depan tepatnya ke arah pohon pisang yang berjejer tak jauh dari kamarnya berada. Kebetulan kamar Reva mengarah ke kebun kecil yang berada di samping vila.
Jantung Reva berdebar tak nyaman. Sesuatu yang dingin masih tetap bertahan di telapak tangannya, matanya menatap lurus ke pohon pisang di mana ada mata merah dengan wajah pucat dan menyeramkan juga tengah menatapnya.
Reva memberanikan diri menatap takut dingin di tangannya. Ekspresi gadis itu semakin membeku ketika melihat sesuatu yang dingin itu adalah tangan dari sosok yang tak kalah menyeramkan dari sosok yang di dekat pohon pisang.
"Argh!"
Reva berteriak. Segera ia menarik tangannya menjauh dari si tangan dingin hantu, sementara hantu wanita itu menatap lurus dan datar ke arahnya.
Wajah rusak dengan mata kosong. Rambut hitam panjang berantakan, dan tak lupa dengan daster putih yang menutup tubuh si kunti.
Reva semakin histeris hingga tanpa sadar tangannya menggores paku yang menempel di jendela dan mengeluarkan darah.
Reva berlari berniat untuk keluar kamar. Ketakutan gadis itu semakin menjadi ketika mendengar suara kuntilanak terkikik sehingga tidak sadar tubuhnya bukan melewati pintu tapi justru menabrak pintu.
Benturan keras membuat kepala Reva pusing dan tubuhnya jatuh ke lantai. Tidak kuat menahan rasa sakit di kepala, Reva akhirnya jatuh tak sadarkan diri.
Sementara di luar sana, Alify sebagai hantu yang menyentuh tangan Reva terkikik melihat Reva yang sudah tak sadarkan diri. Gadis itu kemudian mendekati kedua temannya yang bersembunyi tak jauh di luar kamar Reva yang kebetulan kamar Naya berada dekat dengan kamar Reva.
KAMU SEDANG MEMBACA
MENGEJAR CALON PENGANTIN
Ficción GeneralDi tinggal kekasih yang sudah berpacaran selama satu tahun tidak membuat Anaya Bilqis begitu terpuruk karena ia menganggap pria yang bersamanya bukan jodohnya. Hingga akhirnya orangtua Naya berasumsi bahwa Naya gagal move on dan berniat mencarikan j...
