Sudah download Mengejar Calon Pengantin part pertunangan belum? Kalau belum, download ya. Harga 12k 😀
"Wah, kamu hebat banget ya enggak ter-intimidasi sama Cillia. Biasanya cewek yang di intimidasi sama Cillia pasti pada nangis."
Naya memutar kepalanya ke sisi kanan dan menemukan seorang wanita yang sepertinya sudah melihatnya ber-argumen dengan Cillia sejak awal.
"Saya bukan. Lagian kenapa harus ter-intimidasi sama orang model begitu?" sahut Naya acuh.
Wanita bernama Deea itu tersenyum dan mengulurkan tangannya berniat untuk berkenalan dengan Naya.
"Saya Deea pakai E double. Kamu?"
Tak ingin dianggap angkuh dan sombong meski itu kenyataannya, Naya mengulurkan tangannya membalas jabatan tangan Deea.
"Naya."
"Udah lama pacaran sama Abi?" tanya Deea tak menutupi rasa penasarannya.
"Enggak. Baru-baru ini aja."
Deea mengangguk paham. Tidak ada obrolan lagi diantara keduanya. Fokus mereka saat ini tertuju pada Abi yang tengah bernyanyi diiringi musik orkestra.
"Suara Abi bagus. Dia memang punya bakat di bidang bernyanyi," komentar Deea Membuat Naya menatapnya.
"Mbak suka sama dia?" Naya bertanya langsung sehingga membuat Deea tersentak kemudian terkekeh sendiri mendengar ucapan Naya.
"Kalau suaranya jujur saja saya suka. Tapi, kalau orangnya enggak lah. Saya sudah punya suami dan anak yang sudah SMA," jelas Deea secara rinci.
"Kirain suka sama dia," sahut Naya acuh.
"Ya ampun." Deea menggeleng dan terkekeh sebentar. "Saya mana suka berondong. Saya suka suami saya."
Naya mengangkat bahunya acuh. Suka atau tidaknya itu bukan urusannya. Hal yang terpenting adalah tidak ada yang mencoba memasuki hubungan mereka.
Status Naya sebagai tunangan Abi pasti sudah menyebar di kalangan keluarga mamanya dan mungkin sudah sampai ke telinga Reva dan Risa. Jika calon suami Naya direbut lagi, bisa-bisa kedua ibu dan anak itu akan tertawa lebar.
Naya tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Meski tidak ada perasaan untuk Abi, bukan berarti Naya akan memberikan celah sedikit saja pada pelakor untuk bergerak.
Dua jam menemani Abi latihan tidak begitu terasa oleh Naya karena ia juga menikmati musik yang disuguhkan.
Naya dan Abi akhirnya memutuskan untuk keluar studio dan masuk ke dalam mobil setelah berpamitan dengan beberapa temannya.
Tujuan mereka kali ini adalah sebuah restoran tempat dimana mereka bisa mengisi perut lapar mereka.
"Mau makan dimana?" Abi menoleh menatap Naya yang duduk tenang di sampingnya.
"Terserah. Dimana aja yang penting enak," sahut Naya datar.
"Lo manis banget tahu enggak, Nay, kalau diam begini."
"Gue dari kecil memang sudah manis dan cantik. Jadi, gue enggak akan kaget kalau lo muji gue gini," sahut Naya terlalu percaya diri, sampai membuat Abi terkekeh.
"Selain cantik dan manis, lo juga humoris ya, Nay." Abi kembali memuji Naya dan menunggu respons dari gadis itu.
"Gue memang sempurna."
"Astaga!"
Abi terus berusaha untuk berceloteh agar Naya tidak bungkam. Meski Naya menjawab pertanyaannya singkat-singkat, tapi tak apa. Abi benar-benar merasa terhibur dengan tingkah lucu gadisnya itu.
Ah, Abi jadi tak sabar untuk segera menikah dengan Naya, batinnya berujar senang.
Setibanya di restoran yang mereka tuju, keduanya melangkah masuk dan berpapasan dengan Evan dan Reva yang juga berniat untuk masuk ke dalam restoran.
"Naya, kamu juga makan di sini?" sapa Reva ramah.
"Enggak sih. Kita di sini mau main golf," sahut Naya dengan ekspresi serius. Sudah tahu orang datang ke restoran untuk makan, masih saja bertanya, cibir batin Naya.
Reva tersenyum canggung mendengar jawaban Naya. Matanya kemudian melirik Abi yang berada di samping Naya. Ada rasa tak suka melihat pria itu justru menatap Naya tanpa mengalihkan perhatiannya sedikit pun.
"Ah, kalau begitu bagaimana kalau kita makan bersama saja?" tawar Reva pada Abi dan Naya.
Sadar jika dirinya ditatap oleh Reva, Abi memfokuskan tatapannya pada sosok Evan dan Reva.
Di tatapnya sepasang kekasih di hadapannya dengan sebelah alis terangkat.
"Terserah aja sih. Gue ikut apa kata calon pengantin gue," ujarnya tersenyum manis. Tangan Abi terangkat memeluk pinggang ramping Anaya dan membawanya masuk. Pria itu menarik kursi untuk Naya dan memperlakukan gadis itu seperti ratu.
Hal itu tak luput dari perhatian Reva dan Evan yang entah mengapa tak begitu menyukai interaksi keduanya.
"Yank, makan sepiring berdua dong. Mau ya?" pinta Abi dengan ekspresi melas.
"Kenapa begitu? Kamu enggak ada duit buat bayar makanan kita?" Naya menaikkan sebelah alisnya menatap Abi dengan tatapan lembut. Hal yang harus ia lalukan jika berada di dekat Reva dan Evan.
"Bukan enggak punya duit, Beb. Tapi pengen romantis aja sama kamu. Boleh, ya?" Abi mengecup hidung mancung Naya membuat gadis itu merona. Hal yang bahkan tidak pernah Evan dan Abi lihat sebelumnya.
Evan mengepalkan tangannya di bawah meja melihat kemesraan mantan kekasihnya dengan pria lain. Tapi, kembali lagi teringat jika Naya bukanlah gadis baik-baik membuat kepalan tangannya melemas begitu saja. Evan tidak menyukai Naya lagi. Itu yang dirafalkan Evan sepanjang mereka menyantap hidangan di atas meja.
Hal serupa pun terjadi pada Reva yang tengah mengepalkan tangannya tak suka melihat Naya dan Abi bermesraan.
Panas hatinya membara, membuat Reva bangkit dari duduknya. Gadis itu pamit izin ke toilet yang langsung diangguki oleh Evan.
Melihat Reva pergi ke toilet, Naya pun ikut izin pada Abi dengan alasan ingin merapikan riasannya.
"Hati-hati, Beb," pesan Abi sebelum Naya melangkah jauh.
Naya mengacungkan jempolnya sebagaimana jawabannya.
Saat memasuki toilet khusus perempuan, Naya segera berjalan ke kaca dan berdiri di samping Reva.
"Ah, gue ini beruntung banget tahu enggak. Putus dari cowok modelan Evan, eh sekarang gue dapat yang kelas kakap," ucap Naya seraya mengeluarkan pondation miliknya dari dalam tas. "Lebih ganteng dan tajir dari tunangan lo, Va." Manik mata Naya melirik Reva sebentar sambil terkekeh ringan.
"Dan lo pikir lo bangga?" sahut Reva sinis.
Naya tersenyum sinis. Gadis itu merapikan riasan wajahnya. Kemudian memasukkan kembali peralatan make up ke dalam tas miliknya.
"Kalau lo tanya gue apa gue bangga bisa dapetin cowok tajir bin terkenal. Maka jawaban gue adalah iya. Iya, gue bangga karena bisa ngelepehin sampah dan nelan berlian." Naya kini berdiri dengan posisi menghadap Reva yang terlihat mengepalkan tangannya.
Naya mendekatkan wajahnya di depan wajah Reva. Gadis itu kemudian berujar sinis, "karena seorang Ratu selamanya akan berpasangan dengan raja. Beda hal dengan selir yang cuma bisa mungut bekas ratu."
Naya meniup wajah Reva sebelum berbalik pergi meninggalkan Reva yang menatapnya penuh kebencian.
KAMU SEDANG MEMBACA
MENGEJAR CALON PENGANTIN
Ficción GeneralDi tinggal kekasih yang sudah berpacaran selama satu tahun tidak membuat Anaya Bilqis begitu terpuruk karena ia menganggap pria yang bersamanya bukan jodohnya. Hingga akhirnya orangtua Naya berasumsi bahwa Naya gagal move on dan berniat mencarikan j...
