Tepat pada pukul 10 pagi akhirnya rombongan keluarga Naya tiba di sebuah vila besar dengan interior mewah yang mampu membuat siapa pun yang melihat untuk pertama kali akan berdecap kagum.
Naya menatap datar bangunan luas dan besar tepat di hadapannya. Tidak ada riak kagum atau terpana melihat bangunan milik keluarga besar Abi karena ia pun memiliki hal yang serupa dan tak kalah mewah serta megah yang berada di daerah lain. Vila pribadi miliknya adalah hadiah ulang tahun dari grandma dan grandpa-nya saat Naya berusia 18 tahun.
Jadi, ia tidak akan bersikap kampungan seperti yang dilakukan sepupunya itu.
Lihat saja, Reva, Anjani, dan Diro, terus menatap kagum bangunan tinggi berlantai 5 di hadapannya.
Sementara Risa, mama mereka tetap bersikap anggun dan tenang. Padahal Naya tahu sekali jika mata tantenya itu sudah berubah menjadi warna hijau ketika melihat vila besar keluarga Abi.
Naya juga menduga jika ulat dalam jantung Risa mulai menggeliat melihat betapa kayanya calon suaminya Naya. Ah, Naya mendesah puas melihat keluarga tante Risa akan mati karena rasa iri padanya.
"Ini vila keluarga besar kamu, Bi?" Naya bertanya menatap Abi yang berdiri di sebelahnya. Suaranya sedikit keras membuat semua penumpang yang baru turun dari mobil otomatis mendengar suaranya.
"Bukan keluarga besar. Tapi, punya papa yang memang biasa digunakan untuk kumpul keluarga." Abi berkata dengan senyum manis yang menghiasi wajahnya.
"Oh." Naya mengangguk. "Berarti keluarga kamu itu kaya raya dong ya? Wah, beruntung banget aku kalau jadi nikah sama kamu," ucapnya tersenyum manis.
"Harta keluarga bukan cuma punya aku aja, Nay. Tapi, bagi dua sama kakak aku," jelas Abi.
"Enggak apa-apa dong. Tapi, yang pasti keluarga kamu kaya raya dan banyak uang. Kalau kita jadi nikah, aku mau lho dibuatkan tempat spa khusus untuk aku," katanya panjang lebar. Sementara Abi hanya tersenyum saja menanggapi ucapan Naya. Abi tahu saat ini Naya tengah dalam mode 'memancing' emosi dan rasa iri dengki beberapa orang yang berada di sekitar mereka.
"Ayo, semuanya masuk." Abi segera mengajak anggota keluarga Naya untuk masuk ke dalam.
Mereka melangkah masuk dan di depan pintu sudah ada Bams dan Juwita yang menyambut mereka dengan ramah.
Mereka masuk dan duduk di sofa yang tersedia, sementara anak-anak dipersilakan untuk duduk di ruang tengah dimana ada banyak sofa yang berjejer dan banyak pula anggota keluarga Abi yang lain.
Naya berbincang santai dengan Abi sembari menunjukkan kemesraan mereka yang duduk di sofa yang sama. Kebetulan sofa yang mereka duduki muat untuk tiga orang dengan Naya di tengah sementara di sisi kiri Naya ada Abi dan di sisi kanan ada Reva.
"Ya ampun, Sayang. Aku beruntung banget deh punya kamu. Udah ganteng, baik, dan yang pasti kaya raya lagi," ujar Naya pelan. Meski terdengar pelan, namun Reva yang duduk di sebelah Naya punya telinga cukup normal untuk mendengar ucapan gadis itu.
"Ganteng, baik, dan kaya, semua yang milik aku, akan jadi milik kamu juga," balas Abi tak mau kalah. Tangannya bergerak mengusap kepala Naya seolah tengah mengusap anak kucing.
Naya memelototi Abi tanpa dilihat Reva. Gadis cantik itu tidak suka diperlakukan seperti kucing oleh Abi.
"Ugh. Gemesnya." Naya tersenyum dengan mata melotot seraya mencubit hidung Abi cukup kuat sebagai pembalasan.
Keduanya berbincang dan saling menggombal satu sama lain begitu juga dengan anggota keluarga yang lain hingga tak menyadari jika seseorang tengah menahan amarah yang terpendam di hati.
Orang itu adalah Reva yang menahan rasa iri serta dengki melihat tingkah Naya seolah tengah memanasinya.
Reva benci terkalahkan. Gadis cantik yang memiliki usia yang sama dengan Naya bertekad untuk menghancurkan Naya hingga berkeping-keping.
******
Jika itu orang lain, mungkin saja Reva akan bisa mengalahkan orang itu. Tapi, itu adalah Naya. Seorang Naya Thalea tidak akan mudah dikalahkan hanya dengan permainan licik seperti yang dilakukan Reva saat ini.
Reva dengan sifat sempurnanya membantu beberapa bibi dari Abi memasak bahkan menata menu makanan di atas meja panjang yang terletak di sebuah ruangan luas dalam vila.
Sejak sore hingga menjelang makan malam Reva terus membantu tanpa henti sehingga membuat wanita-wanita yang menjadi keluarga besar Abi mengagumi kecekatan Reva dalam berurusan dengan dapur.
Pujian tak henti dilayangkan para wanita paruh baya sehingga membuat Reva diam-diam merasa bangga atas prestasi yang ia dapatkan.
Ini baru permulaan dan Reva akan menciptakan imaje yang lebih dan lebih baik lagi agar posisinya ada di atas langit sementara Naya akan menetap di bumi.
"Reva rajin sekali ya. Sayang saja anak tante enggak ada yang seusia sama Reva. Adanya yang masih muda semua," ucap Rasty, adik dari ibunya Abi.
Reva tersenyum malu-malu mendengar pujian yang dilontarkan padanya. Gadis cantik itu berujar, "ah, enggak kok, Tante. Aku cuma terbiasa membantu mama di rumah kalau lagi enggak sibuk bekerja."
Rasty semakin kagum mendengar ucapan Reva. Gadis di hadapannya sangat lemah lembut dan memiliki kepribadian yang mampu memikat orang untuk menyukainya.
"Tante suka deh sama sifatnya Reva. Beruntung banget cowok yang akan menjadi suami kamu nanti," kata Rasty yang langsung disanggah Reva.
"Sayang banget, Tante. Enggak ada cowok yang benar-benar mau sama aku." Reva tersenyum lembut menyaksikan para wanita kini beralih menatapnya bingung.
"Kenapa bisa begitu?" Salah satu bibi Abi bertanya tak mengerti.
"Yeah, mungkin karena para pria hanya menatap wanita dari fisiknya saja?" Reva tersenyum dan menatap ragu-ragu wanita di depannya.
"Ya enggak gitu juga kok. Banyak laki-laki yang harus memperhatikan sifat dan sikap perempuan saja." Rasty menyanggah. "Cantik tapi kalau enggak bisa bikin puas perut suami, buat apa?"
Reva tersenyum puas. Dengan ini ia bisa menunjukkan pelan-pelan sifat dan sikap Naya yang akan sangat berbeda dengan apa yang ditunjukkan padanya nanti.
KAMU SEDANG MEMBACA
MENGEJAR CALON PENGANTIN
General FictionDi tinggal kekasih yang sudah berpacaran selama satu tahun tidak membuat Anaya Bilqis begitu terpuruk karena ia menganggap pria yang bersamanya bukan jodohnya. Hingga akhirnya orangtua Naya berasumsi bahwa Naya gagal move on dan berniat mencarikan j...
