37

6.9K 742 34
                                        

                           

Naya menatap malas pada keramaian yang membuatnya harus berada di kediaman Om Danu, adik bungsu mamanya.

Ulang tahun neneknya Reva dirayakan besar-besaran dengan mengundang karyawan kantor yang saat ini di pimpin oleh Om Danu.

Naya dibuat heran sendiri dengan perayaan yang sebenarnya itu untuk apa? Sudah tua harusnya banyak sedekah dan berbuat amal. Bukan justru merayakan ulang tahun dengan mengundang sejagat raya demi mengharapkan kado yang diberikan tamu undangan.

Trik seperti ini Naya cukup paham dan tahu.

Ulang tahun yang ke tujuh puluh lima. Dua tahun lagi, Naya tebak pasti itu nenek-nenek tidak akan bisa merayakannya lagi. Paling juga nanti si nenek akan merayakannya di kuburan bersama teman-teman barunya.

Astagfirullah.

Tidak Sewajarnya Naya mendoakan hal sepele itu. Tapi mau bagaimana lagi jika wanita tua itu memang minta di doakan yang buruk-buruk.

"Lo kenapa di sini aja? Enggak mau gabung?" Sean menghampiri sepupunya dan menatapnya dengan sebelah alis terangkat. Sementara yang ditatap justru mendengkus membalas tatapan Sean dengan tatapan malas.

"Kalau bukan karena mama, gue enggak mungkin ada di sini. Harusnya gue ada di rumah sambil nonton Upin Ipin. Dari pada disini."

"Kok kayaknya enggak betah banget? Kenapa memang?"

"Lo kayak enggak tahu aja." Naya mendengkus menatap Sean sinis. Sean bukan pria tua pikun yang tidak tahu apa-apa tentang permusuhan Naya dengan keluarga istri om-nya itu.

Sean terkekeh sambil mengangguk paham. Pria itu kemudian mengambil posisi duduk di samping Naya seraya mengambil cake di atas meja.

Saat ini mereka berada di taman belakang rumah Om Danu. Taman yang terlihat luas sudah di hias sedemikian rupa untuk menampung para tamu undangan. Padahal Naya tahu betul jika tanah kosong ini sebelumnya berisi kebun singkong.

"Pacar lo enggak diajak kesini?"

Mendengkus sebal Naya menjawab, "bukan pacar. Tapi, calon tunangan. Dia ada jadwal manggung malam ini di nikahan anak pejabat."

"Wah, parah. Masa calon tunangan lo enggak datang? Padahal ini bisa jadi buat ajang pengenalan keluarga," ujar Sean menatap Naya yang tengah mengunyah cake.

"Keluarga mana?" Naya menatap aneh Sean. "Lagian juga nanti dia bakal dikenalin pas acara tunangan gue seminggu lagi."

"Minggu depan?" sahut Sean tak percaya. Naya mengangguk dua kali.

Sean terdiam begitu juga dengan Naya yang tak mengeluarkan suara lagi.  Hingga akhirnya suara obrolan terdengar tak jauh dari mereka saat ini berada.

Sebenarnya Naya tak akan peduli jika para gadis yang tengah berbincang itu membicarakan tentang hal lain. Tapi, jika itu menyangkut tentang dirinya, tentu saja Naya tidak akan tinggal diam.

Sambil menunggu obrolan gadis-gadis itu semakin memanas, Naya sendiri tengah mengasah tanduknya hingga tinggal menunggu waktu yang tepat untuk menyeruduk gadis-gadis kurang belaian itu dengan tanduknya.

"Gue enggak heran ya kenapa Evan lebih milih Reva. Secara 'kan gitu Reva cantik, baik, anggun, dan enggak sombong." Suara Janeta terdengar keras sehingga beberapa orang bisa mendengarnya.

"Iya. Reva itu pokoknya the perfect girl banget deh.  Bokapnya CEO di perusahaan, tapi dia enggak sombong. Beda banget sama sepupu dari ayahnya," sahut Vera mendukung ucapan temannya.

"Yah, namanya juga beda keluarga beda juga karakternya." Kali ini Helen yang buka suara.

Sabar Naya, batin Naya mencoba untuk tak terpancing.

Mereka sudah membawa nama keluarga dan itu membuat kesabaran Naya yang semula 95 persen kini sudah mulai menyusut  menjadi 80 persen.

"Hehe. Lo kayak enggak tahu aja sama keluarga itu. Kakaknya Om Danu dulu 'kan artis. Sekarang kurang terkenal. Jadi, tahu sendiri lah artis kehidupannya kayak apa." Vera berujar setengah mencibir.

"Beruntung banget tante Risa bisa punya suami seperti Om Danu yang punya kerjaan tetap. Mendidik putrinya dengan baik pula sampai bisa punya anak sebaik Reva,"  kata Janeta yang merasa iri dengan keluarga harmonis dari Reva.

Kali ini kesabaran Naya sudah memasuki angka 50 persen. Gadis itu mencoba untuk sabar karena ia masih memiliki kesabaran.

"Gue dengar-dengar dari Reva kalau bokapnya Naya bukan orang yang bertanggungjawab ya,  Len? Bokap dan nyokapnya pisah gitu karena enggak kuat dengan sifat nyokap Naya yang matre," celetuk Vera, teman Helen dan Reva. Helen sendiri masih sepupu Reva dari pihak ibunya. 

"Iya. Gue juga pernah dengar gitu, Len. Memang beneran?" celetuk Janeta penasaran.

"Enggak tahu lha ya. Kalian bisa menilai sendiri," sahut Helen tidak mengiyakan dan tidak menolak tuduhan tersebut.

"Hm. Menurut gue memang begitu faktanya. Selama ini yang gue lihat cuma nyokapnya yang selalu hadir. Bokapnya enggak ada tuh." Vera menyampaikan opininya. "Pantes nurun di anaknya. Emak sama anak sama-sama enggak benar. Sama-sama matre."

Kini kesabaran Naya sudah turun menjadi 0 persen.

Matanya berkilat tajam menatap gelas berisi minuman soda di atas meja. Naya bergegas menarik sebuah wadah yang bisa menampung air. Naya menumpahkan minuman sisa ke dalam wadah sebesar gayung kemudian Naya mengangkatnya seraya menghampiri ketiga gadis yang sibuk menggosip tentang dirinya.

Sementara Sean yang melihat aksi Naya menelan ludahnya serak. Sean tahu jika Naya adalah tipe gadis temperamen yang kadar emosinya hanya sebesar dua persen.

Segera dialihkan tatapannya pada sosok Naya yang melangkah anggun dan tidak menunggu waktu yang lama,  soda dalam wadah itu kini melayang dengan bebasnya membasahi ketiga gadis itu.

Dimanja sedari kecil karena merupakan putri satu-satunya, Naya memang selalu membalas perbuatan jahat orang padanya dengan tunai. Dan, hal itu tidak pernah membuat keluarga Naya terutama kakek dan neneknya marah.

Sean ingat dulu Naya pernah bertengkar dengan teman satu sekolahnya hingga membuat Naya mengambil batu dan memecahkan kepalanya. 

Masalah saat itu karena teman Naya mem-fitnah Naya dengan mengatakan jika Naya sering ke kelab dengan om-om. Tentu saja Naya marah saat itu dan mulailah aksi tengkar dan berakhir sebuah batu entah dari mana asalnya mendarat di kepala teman Naya.

Saat itu, papa Naya segera memarahi Naya habis-habisan dan menghukumnya tidak diizinkan keluar rumah setelah mendapat skorsing pihak sekolah.

Naya yang baru pertama kali menerima bentakan memutuskan untuk tidak keluar dari kamar. Setiap mamanya ingin membuka pintu atau berbicara dengannya selalu diacuhkan. Hingga tiga hari Naya tak keluar kamar, Nia memaksa tukang kebun dan satpam rumahnya untuk mendobrak pintu kamar Naya dan menemukan gadis berusia 16 tahun itu tak sadarkan diri. Selama sepuluh hari Naya tertidur tanpa membuka matanya hingga membuat kakek dan neneknya uring-uringan dan memarahi Nando di setiap ada kesempatan.

"Lo!" Sean tersentak ketika mendengar suara teriakan seorang gadis. Sean mengusap wajahnya sambil terkekeh bisa-bisanya ia justru nostalgia tentang Naya di masa lalu.

"Kenapa? Enggak suka kalau gue bungkam mulut dower lo semua dengan air soda?" Naya melempar wadah tadi seraya menatap tajam ketiga gadis itu.

MENGEJAR CALON PENGANTINCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang