27

7.2K 645 8
                                        

Jika sudah tidak sabar membaca di sini kalian bisa beli di google playstore ya 💕💕💕💕

                          ____

Sore harinya Abi benar-benar  membawa Naya ke pantai pasir putih yang terletak tak jauh dari hotel tempatnya menginap.

Suasana sore yang tidak terlalu ramai membuat Naya dan Abi lebih leluasa berjalan di pinggir pantai. Sesekali Abi terlihat merapikan rambut hitam Naya yang bertebangan oleh angin.

Pantai saat ini memang tidak terlalu ramai oleh wisatawan yang datang, namun tidak terlalu sepi juga. Jika ada hari besar seperti tahun baru atau Idul fitri tiba, maka pantai-pantai tersebut akan ramai pengunjung. Bahkan, terkadang tidak bisa bergerak atau berenang dengan leluasa karena sangking banyaknya pengunjung.

Abi sebenarnya ingin membawa Naya menuju pantai lain yang memiliki keindahan tak kalah menakjubkan dari pantai ini, namun jarak dari hotel tempat mereka menginap lebih jauh dari pantai pasir putih hingga membuatnya hanya membawa Naya kesini.

"Beb, mau berenang enggak? Gue sewa ban ya buat lo. Mau 'kan?" tawar Abi yang segera ditolak Naya.

"Gue bisa berenang."

"Tapi gue enggak mau lihat lo cape,  Beb. Tunggu sini ya gue sewa ban dulu."

Tanpa menunggu persetujuan Naya, Abi memutar tubuhnya mencari tempat jasa penyewaan ban.

Abi menyewa sebuah ban berukuran besar dengan warna kuning bermotif bebek. Jasa sewa cukup mahal padahal ini hari biasa, bukan hari libur.

"Ish, kenapa harus pakai ban segala sih?" sungut Naya sembari tetap menerima ban pemberian Abi.

"Biar lo enggak cape, Beb. Gue dorong dari belakang ya?" Abi tersenyum lebar membuat Naya bergidik seraya memutar bola matanya.

Naya memasukkan tubuhnya ke dalam lubang ban dengan Abi yang terus tersenyum menatap Naya yang tampak mengemaskan dimatanya.

"Ya ampun, Beb, lo benar-benar imut deh kalau bawa ban kuning gini. Berasa pengen bawa lo ke kamar sesegera mungkin."

Abi menampilkan cengirannya ketika melihat Naya memutar tubuhnya dan menatapnya dengan sengit.

"Gue enggak akan mempan kalau cuma dirayu pakai mulut bau kentut naga macam lo," sinisnya sebelum berbalik memasuki tubuhnya ke dalam air laut.

"Yah, sia-sia dong gue kuliah di Harvard kalau jurus rayuan gue enggak mempan," ujar Abi dengan bibir mengerucut kesal.

"Enggak nyambung, ih."

Abi terkekeh seraya mengikuti langkah Naya menuju air yang sedikit dalam.

Naya bergerak santai dengan Abi yang mendorong ban gadis itu dari belakang. Keduanya asyik berenang hingga hampir ke tengah dengan ditemani ombak kecil yang bergerak.

"Besok pulang dari  gue show, kita bakal ke Pesawaran, Nay. Gue mau ajak lo ke pantai-pantai indah disana terus gue bakal tunjukkin ke elo lokasi buat spot snorkling," ujar Abi sembari terus mengayuh kakinya di dalam air.

"Jauh enggak?" tanya Naya pura-pura tak minat. Tempat mereka ini saja bagus-bagus, mengapa ia harus mengeluh dengan jarak jika ia bisa dapat melihat keindahan alam.

"Lumayanlah. Kira-kira 2 sampai tiga jam," sahut Abi terdengar acuh. "Tapi, sebelum pergi kita harus cari oleh-oleh dulu buat orang rumah," ujarnya seraya menarik Naya ke pinggir pantai.

"Oleh-oleh apa?"

"Keripik dengan variasi rasa." Abi menjawil hidung Naya gemas. "Lo belum pernah ke Lampung?" Sebelah alis Abi terangkat naik menatap Naya yang mencibik bibirnya tanpa suara.

"Gue biasa liburan ke luar negeri," balasnya angkuh.

"Wah, kalau gue lebih suka di dalam negeri. Banyak daerah yang belum gue kunjungi. Lo tahu, Nay, keindahan dan pemandangan panorama alam di Indonesia enggak kalah deh sama yang di luar negeri."

"Lo kayaknya tahu banget tentang keindahan Indonesia? Sering tour keluar kota?" Naya menyipit matanya menatap Abi curiga.

Saat ini kedua sejoli itu tengah duduk di salah satu batu karang yang terdapat di pinggir pantai. Ban kuning tadi di letakkan begitu saja di samping Naya. Sementara Abi duduk di sebelah gadis itu seraya memperhatikan matahari yang akan terbenam.

"Sering. Bagi gue bekerja sembari berlibur itu menyenangkan." Abi menatap Naya dengan senyum lebar di wajahnya. "Apalagi saat ini gue happy banget karena kali ini gue enggak cuma ditemani asisten dan manajer gue, tapi juga elo, calon pengantin gue," tambahnya, membuat Naya yang hampir jinak kembali memasang ekspresi banteng mengamuk.

"Back to crazy," lirih Naya menatap lurus ke depan. Ombak terus menyerang batu karang tempat mereka duduk saat ini. Beruntung mereka sudah selesai main airnya. Jika tidak, mungkin mereka akan diterkam oleh ombak-ombak nakal.

                      🌺🌺🌺

MENGEJAR CALON PENGANTINCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang