35

6.9K 691 19
                                        

Naya membuka kelopak matanya ketika mendengar suara dering yang berasal dari ponsel miliknya. Tangannya bergerak meraba di samping bantal guna mengambil benda kecil berisik yang sudah mengganggu tidur nyenyaknya.

"Hm." Suara deheman Naya disambut kekehan dari seseorang di seberang sana.

"Masih tidur, Beb?"

"Hn."

"Yah, padahal gue mau ajak lo nemenin gue lagi ke studio punya gue mau, ya?"

Naya diam sejenak berusaha untuk mengingat suara si penelepon. Penasaran dengan siapa yang menghubunginya, Naya membuka matanya sedikit untuk melihat nama pemanggil yang ternyata berasal dari Abi.

"Gimana, mau enggak?"

"Enggak. Gue sibuk," tolak Naya langsung.

"Yah, gimana dong. Gue udah nunggu lo di bawah." Suara Abi terdengar lirih. "Gue enggak mungkin 'kan pergi dari rumah ini tanpa lo?"

"Gue sibuk. Lo kalau mau jalan, jalan sendiri aja deh. Serius, gue ngantuk dan masih mau tidur."

"Kalau gue enggak mau?" tantang Abi setengah memaksa.

"Bodo amat."

Naya mematikan sambungan telepon dan menutup tubuhnya dengan selimut. Naya berharap Abi tidak menghubunginya lagi. Gadis itu bisa tersenyum senang di dalam hatinya karena nyatanya Abi tidak menghubunginya.

Lima menit Naya bergelut dalam tidur nyenyaknya, sampai akhirnya gadis itu merasakan elusan lembut pada kepalanya yang tak tertutup selimut.

Kening gadis itu mengernyit berusaha untuk menepis elusan di kepalanya yang berakhir sia-sia.

Naya membiarkannya begitu saja elusan pada kepalanya hingga akhirnya elusan tersebut berubah kala hidung Naya di tekan hingga membuatnya tak bisa bernapas.

Spontan Naya membuka kelopak matanya. Gadis itu terbelalak lebar ketika melihat seringaian pria yang ingin ia hindari.

"Lo--"

"Morning, Beb. Kayak gini ya wajah lo bangun tidur. Cantik dan mengemaskan." Abi tersenyum lebar, membuat Naya segera mendudukkan dirinya dan bergerak menjauh dari pria macam Abi.

"Lo ngapain di kamar gue?" ujar Naya ketus. Matanya memicing menatap Abi dengan tatapan tajam khasnya.

"Jemput bidadari yang lagi tidur," sahut Abi santai. "Sekarang gue minta lo mandi terus lo temenin gue ke studio sebentar, terus latihan vokal, terus kita pergi deh cari cincin buat pernikahan kita," kata Abi terdengar santai.

"Cincin pernikahan?" Kening Naya mulai mengernyit tak paham.

"Iya, Nay. Cincin pernikahan kita. Kita akan menikah dua bulan lagi. Orangtua kita juga udah sepakat," sahut Abi polos.

"Sinting." Naya mendesah dengan wajah frustrasi. "Gue lagi mikir gimana caranya biar perjodohan ini batal. Dan ini?" Naya menatap Abi dengan mata melotot bengis.

Naya sebenarnya bohong jika ia lagi mencari cara untuk putus. Naya hanya ingin melihat reaksi Abi seperti apa. Naya hanya seorang perempuan yang merasa senang jika dikejar lawan jenisnya.

Naya tidak mungkin membatalkan perjodohan ini dan berakhir dengan menjadi bahan cemoohan Reva serta Risa. Oh, tentu saja Naya tak akan membiarkan hal itu terjadi.

Melihat reaksi Abi yang hanya tersenyum lebar, membuat Naya waswas. Senyum Abi lebih mirip dengan psychopath gila yang menemukan mangsa empuk.

"Gue enggak keberatan buat perkosa elo sekarang, Nay. Lo suka dengan ide gue ini?" katanya tanpa menghilangkan senyum iblisnya.

Segera saja setelah mendengar kalimat Abi, Naya mendorong kepala cowok itu hingga terjungkal jatuh dari atas tempat tidur.

Naya bergegas turun dan berlari meninggalkan Abi yang tertawa lebar melihat tingkah Naya yang dianggap menggemaskan.

MENGEJAR CALON PENGANTINCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang