Sorry lama update. Mataku tambah parah gaes enggak bisa lihat layar lama-lama. Tapi tenang, insya Allah mulai saat ini aku bakal rajin up lagi.
Ohiya yang mau MENGEJAR CALON PENGANTIN BAGIAN KEDUA PART 11-20 UDAH ADA DI PLAYSTORE YA. Ini sebenarnya udah lama di google play tapi baru bisa kasih tahu sekarang
Satu lagi, aku enggak tau bagian kedua dari mengejar calon pengantin ini lucu apa enggak menurut kalian, tapi menurutku sih lucu banget. Aku kadang ngakak sendiri pas baca ulang 😀
Ingat, jangan lupa beli. Mengejar calon pengantin part PDKT Bagian dua.
Trimakasih.
Jika ada pilihan lain Naya tidak akan mau mengambil pekerjaan ini. Lebih baik ia tidur atau jalan-jalan ke luar negeri menghabiskan uang orang tuanya dari pada harus memata-matai artis sok ganteng, sok iya, dan sok lainnya yang membuat Naya jengkel sendiri.
Naya menutup wajahnya dengan koran yang ia pegang saat melihat Abi menoleh ke arahnya.
Saat ini mereka sedang berada di sebuah kafe terkenal yang terletak di daerah kemang. Naya sudah mengikuti Abi sejak pemuda itu keluar dari studio musik dan menuju kafe yang sepertinya tempat langganan pria itu.
Tidak ada aktivitas yang mencurigakan dari Abi membuat Naya curiga jika pria itu bisa saja menyadari kehadirannya.
Tapi, semoga saja tidak. Naya sudah melakukan penyamaran yang extra dan tidak mungkin Abi masih mengenalnya.
"Bi, itu kayaknya wartawan deh. Kok kayak mencurigakan gitu," ujar Darel menunjuk arah Naya dengan bibirnya.
Abi mengangkat bahu acuh. Wartawan atau bukan itu bukan urusannya. Jadi, selama ia tidak membuat skandal, wartawan tersebut tidak akan bisa mengulik apa-apa tentang kehidupannya.
"Biarin ajalah. Lagian itu orang enggak ngapa-ngapain dari tadi. Megang kamera atau hape juga enggak." Eric juga ikut menimpali dengan santai.
Kembali kelima pemuda tampan itu bercerita membahas soal Baim yang masih mau menolak perjodohan dari orang tuanya.
"Kenapa lo enggak cari pacar aja kalau gitu?" Daniel menatap sahabatnya yang terlihat frustrasi.
"Gue mau. Tapi, banyaknya cewek itu cuma betah selama seminggu sama gue. Habis itu gue diputusin gitu aja deh." Baim mengerang frustrasi dengan nasib buruk yang menghantuinya.
Dirinya sudah melakukan banyak usaha untuk bisa menolak keinginan orang tuanya. Namun, orang tuanya tetap keukeuh ingin ia menikah dengan sapi 10 ton tersebut.
"Lo masa 'sih enggak bisa gitu bujuk orangtua lo? Atau lo mogok makan aja sebagai aksi protes lo," saran Abi yang juga turut sedih dengan kesialan sahabatnya.
"Gue udah coba banyak hal. Mogok makan, mogok mandi, mogok bicara, mogok jalan, dan bahkan gue udah pura-pura kesurupan jadi kakek gue. Terus, hasilnya apa?" Baim menatap sahabat-sahabatnya satu persatu.
"Berhasil?" tanya ke empat pria itu kompak, membuat Baim menggeram dan ingin sekali memukul ke empatnya dengan sarung tinju.
"Ya kagak lah, Maemunah. Lo kira enyak sama babe gue bakal percaya gitu?"
Mereka saling tatap dan sama-sama menghela napas berat akan nasib Baim.
"Nasib lo agak enggak terkatakan," gumam Eric iba.
Sedetik setelah Eric mengucapkan kalimat ibanya, sebuah sepatu melayang dan jatuh tepat mengenai bagian punggung belakang Baim, membuat semua penghuni meja serentak menoleh menatap Baim terkejut.
"Apa-apaan, nih?"
Baim bangkit berdiri diikuti yang lain. Mereka menatap ke sumber asal yang kini tengah menatap mereka --tepatnya Baim-- dengan bengis.
"Oh, jadi elo yang nimpukin gue pakai batu? Ada masalah apa lo sama gue, heh?"
Baim menggulung lengannya, berjalan beberapa langkah hingga berdiri tepat di depan gadis yang diduga sebagai pelaku pelemparan.
Tatapan semua orang kini beralih menatap sebelah kaki yang terduga pelaku dimana tidak ada sebelah sepatunya, membuat mereka yakin jika gadis di depan mereka inilah pelakunya.
"Sepatu, Im. Bukan batu," bisik Eric yang berdiri di sisi Baim.
"Ah, what ever!" Baim mengibas tangannya tak perduli. "Yang gue perdulikan sekarang ini, kenapa cewek kuntil ini nimpuk gue pakai sepatu. Lo ada masalah apa sama gue, heh? Cewek enggak laku yang jomblonya tahunan?" Baim menekan setiap kalimat yang keluar dari mulutnya. Menatap gadis di depannya seolah siap untuk menerkamnya.
"Gue enggak terima." Cewek itu berujar lantang dengan tangan yang ia letakkan di kedua sisi pinggul kanan dan kirinya.
"Enggak terima soal apa? Soal lo yang gue tolak mentah-mentah waktu itu?" Baim tak kalah ganas melototin gadis di depannya.
"Ulala. Kapan gue ditolak sama lo? Kapan gue nembak lo? Cowok modelan kayak lo yang enggak ada macho dan ganteng sama sekali bukan tipe gue."
"Lo--"
Baim gemas menarik rambut gadis yang sudah menjadi musuhnya sejak dua tahun yang lalu. Sedangkan gadis itu tak mau kalah ia ikut menjambak rambut Baim.
Terjadi aksi saling jambak diantara keduanya yang segera dipisah oleh Abi dan Darrel. Sementara Eric dan Daniel berada ditengah-tengah berusaha memisahkan jarak diantara mereka.
"Stop!" Abi berteriak berusaha untuk memisahkan keduanya dan berakhir sia-sia. Karena kedua orang tidak tahu malu itu terus memberontak dan tidak ingin mengalah satu sama lain.
"Dasar cowok banci lo. Mulut dan sikap lo itu kayak perempuan yang kehilangan perawan!" Gadis itu berteriak membuat semua yang ada di kafe menutup telinga meraka.
"Lo yang cewek enggak laku. Mana ada cowok normal yang mau sama cewek buntet dan enggak glowing kayak elo. Semua cowok itu suka cewek dengan body aduhai macam Kylie Jenner. Bukan kayak papan pengiris bawang kayak lo!"
Baim tak mau kalah. Pria itu tanpa malu berteriak seperti ibu kost yang menagih uang sewa kost. Hal tersebut membuat semua yang berada di dalam ruangan tercengang sementara sahabat-sahabat Baim berusaha untuk menahan malu mendengar ocehan unfaedah dari sahabat mereka ini.
Ini adalah salah satu penyebab hubungan Baim tidak bertahan lama karena mulut Baim yang tidak pernah di rem selalu membuat para kekasih atau mantan kekasihnya tersinggung dan sakit hati, lalu pergi meninggalkan Baim.
"Idih! Masih mending ya gue ini enggak pacaran yang menjauhkan gue dari dosa. Dari pada elo? Cowok yang suka pacaran tapi juga suka ditinggal pasti lagi sayang-sayangannya." Gadis itu tak mau kalah mengejek Baim. "Lo itu enggak ada bedanya sama gue. Bedanya lo selalu ditinggal dan gue enggak pernah!"
"Ah, Kuntil lo!" Baim berniat untuk menjambak rambut panjang gadis itu yang berakhir sia-sia.
"Woy, stop. Rosa lo mingkem sekarang!"
Suara toa milik Naya yang sedari tadi memperhatikan keributan dari jauh akhirnya memecahkan suasana ricuh tersebut.
Naya melangkah memasuki area perkelahian dan berdiri di tengah-tengah kedua kubu, sementara yang lain berjalan ke sisi pinggir dan menatap Naya takjub, terutama Abi.
Abi tidak menyangka Naya ada di kafe yang sama dengannya, membuat pria itu tersenyum-senyum sendiri.
KAMU SEDANG MEMBACA
MENGEJAR CALON PENGANTIN
General FictionDi tinggal kekasih yang sudah berpacaran selama satu tahun tidak membuat Anaya Bilqis begitu terpuruk karena ia menganggap pria yang bersamanya bukan jodohnya. Hingga akhirnya orangtua Naya berasumsi bahwa Naya gagal move on dan berniat mencarikan j...
