🌺🌺_SATU_🌼🌼
Kelopak matanya berkedip dua kali dengan ekspresi datar yang menghiasi wajah cantiknya.
Bola matanya mengedar melihat orang-orang yang berkumpul tengah tertawa dan bercanda ria dengan masing-masing kelompok.
Tubuh mungil berbalut gaun putih salju berdiri di ambang pintu gedung dan tidak ada yang memperhatikannya sama sekali.
Sosok tersebut dengan langkah ringan dan anggun melangkah perlahan mendekati kerumunan orang-orang yang berkumpul di tengah ruangan.
Angin sepoi-sepoi menerbangkan gaun seputih salju miliknya ketika ia melewati kipas angin salju yang tepat berada di sisinya.
Hingga langkah gadis itu berada di depan kerumunan, barulah orang-orang menyadari kehadirannya.
"Naya," panggil mama Naya ketika melihat sosok putrinya.
Nia, mama Naya melebarkan matanya tak percaya jika putrinya memiliki nyali besar untuk datang ke acara pertunangan sepupunya.
Naya meringkuk senyum dingin menatap dua sosok yang menjadi bintang untuk malam ini.
Dua sosok yang sudah mengkhianatinya dengan begitu kejam.
Mereka adalah Reva dan Evan, yang merupakan sepupu serta kekasihnya yang baru putus tadi siang.
"Halo, Sepupu. Selamat ya atas pertunangan lo dan Evan," ucapnya berdiri tepat di depan kedua sejoli itu. "Gue enggak pernah nyangka loh, kalau jodoh lo ternyata ada di depan mata," lanjut Naya terdengar tenang.
Lengan putih nan ramping itu terlipat di dada sembari menatap malas pada kedua sosok di hadapannya ini.
"Naya, kamu ternyata hadir."
Reva tersenyum lembut menatap sepupunya yang terlihat cantik darinya, membuat ia sebagai ratu dalam pesta tidak bisa untuk tidak merasa iri.
"Gue pasti hadir dong buat lihat pertunangan antara sepupu gue dan mantan pacar gue." Ucapan Naya menggemparkan seluruh tamu undangan yang hadir.
"Terima kasih kamu sudah mau hadir di hari bahagia kami," balas Reva dengan senyum manis. Reva menggeram dalam hati mendengar pernyataan Naya yang mempermalukannya di depan semua tamu.
"Lo cuma terima kasih karena gue hadir aja?" Naya menaikkan sebelah alisnya.
"Maksud kamu?" tanya Reva tak paham.
"Enggak, sih. Maksud gue, lo enggak mau ngucapin makasih gitu karena gue udah biarin kalian selingkuhan di belakang gue selama tiga bulan ini?" ulang Naya lebih jelas.
Semua tamu termasuk keluarga besar Naya menatap tak percaya. Bagaimana Naya bisa mengatakan hal-hal yang tidak seharusnya ia katakan di depan umum!
"Nay, kita udah putus. Tolong jangan mempermalukan tunanganku sejauh ini," ujar Evan yang sedari tadi diam. Tatapan pemuda itu menatap tajam Anaya seolah memperingati gadis itu untuk berhenti mengatakan omong kosong.
"Kita putus tadi siang, dan malamnya lo merayakan pesta pertunangan," gumam Naya menatap Evan malas.
Tatapan Naya beralih menatap tantenya yang merupakan adik ipar dari mamanya. Senyum Naya tersungging begitu melihat sang tante yang bernama Risa menatapnya tajam.
"Tante dan om kayaknya mendukung banget ya anaknya merebut pacar sepupu sendiri. Tradisi, eh?" Naya terkikik sembari menggelengkan kepalanya.
Wajah Risa memerah geram mendengar sindiran keponakannya. Namun, wanita paruh baya itu tidak bisa berbuat apa-apa karena masih ada Nia di sekitarnya.
"Gue kesini bukan mau cari keributan. Gue di sini cuma mau jadi saksi atas kebahagiaan kalian berdua dan saksi setelah kalian hancur nanti," ujarnya setelah menghentikan kekehannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
MENGEJAR CALON PENGANTIN
Fiksi UmumDi tinggal kekasih yang sudah berpacaran selama satu tahun tidak membuat Anaya Bilqis begitu terpuruk karena ia menganggap pria yang bersamanya bukan jodohnya. Hingga akhirnya orangtua Naya berasumsi bahwa Naya gagal move on dan berniat mencarikan j...
