SEBELAS

7.6K 767 25
                                        

JANGAN LUPA BUAT BELI e-book YANG SUDAH NANGKRING DI PLAYSTORE YA GAES. DIANTARANYA
-PENGANTIN BAJAKAN
-PENGANTIN KHAYALAN
-PENGANTIN DADAKAN
-MY POSSESIVE SENIOR
- MY WIFE IS MY LIFE
- WIFE CELEBRITY
- LOSIVE
Ps: Semua e-book ada ekstra part-nya dengan jumlah berbagai macam.  Ada yang 10++ ada yang 10--


Suara telepon terdengar dari dalam tas yang masih melekat di tubuh gadis itu.

Tangan Abi bergerak pelan membuka resleting tas dan mengambil ponsel tersebut hingga terlihat siapa yang menghubungi ponsel gadis itu.

Prissy Indo call

Kening Abi mengernyit melihat nama yang tertera di layar ponsel. Tak ingin berada dalam situasi yang membingungkan saat ini Abi memutuskan untuk mengangkat panggilan tersebut.

"Nay, lo di mana 'sih lama banget? Toiletnya apa udah pindah ke  hongkong?"

Terdengar suara gadis lain menyapa indra pendengaran Abi ketika sambungan telepon di angkat.

"Ini gue Abi. Teman lo pingsan di lantai atas gedung ini. Lo kesini aja." Abi memutuskan panggilan telepon dan menunggu hingga teman gadis itu datang.

Mata tajam Abi menatap wajah putih bersih dengan pipi sedikit chubby gadis itu. Alis melengkung sempurna seolah di hias seorang make-up artis ternama, bibir yang di oles gincu merah muda, bulu mata lentik nan panjang serta rambut panjang sebatas dada.

Gadis di hadapannya memang sangat cantik meski dengan dandanan ala kadarnya saja.

Abi ingat dengan jelas jika gadis ini adalah gadis yang ia berikan bunga tadi dan juga gadis yang ia lihat tidur dengan pulas ketika konsernya tengah berlangsung.

Abi juga tidak tahu mengapa di antara banyak penggemar yang berada di bawah panggung ia justru memberikan satu tangkai bunga pada gadis itu.

Tak berselang lama, Nindy, salah satu asisten Abi melangkah masuk dan mendesah lega karena menemukan keberadaan sang artis.

"Syukurlah Bang Abi ternyata di sini.  Saya dari tadi nyari Bang Abi ke mana-mana," ucapnya penuh semangat. Lalu tatapan Nindy beralih pada sosok Naya yang tengah tertidur pulas membuat Nindy membeku sesaat. "Dia siapa, Bang?"

"Gue enggak kenal." Abi menyahut acuh. Kemudian tatapannya beralih menatap Nindy sejenak dan memerintah Nindy untuk mengambil minyak angin beserta air putih.

Tanpa protes Nindy menuruti perintah Abi. Tak selang berapa lama dua orang gadis dengan wajah panik membuka pintu ruangan dan tertegun melihat seseorang yang berada di dalamnya.

"Pit, coba lo cubit gue sekarang, Pit," pinta Prissy menatap Abi penuh binar.

"Buat apa?"

"Buat meyakinkan gue kalau gue lagi enggak mimpi."

Alify mengangguk paham. Tangannya terulur membentuk capitan kepiting dan menarik kulit mulus bagian lengan milik Prissy.

"Auh!" Prissy menjerit dan memelototi Alify. "Sakit, Pit!"

"Kan, elo yang nyuruh gue tadi," balasnya menatap Prissy polos.

"Gue 'kan cuma buat kata-kata melankolis biar menghanyutkan suasana," kata Prissy melotot tak terima.

"Lo ngomong apaan 'sih?  Enggak paham gue."

Prissy menginjak kakinya di lantai kemudian bergerak maju mendekati Naya yang terbaring di atas sofa.

"Nay, bangun. Udah mau pulang kita. Lo ngapain tidur di sini?" Prissy mengguncang tubuh Naya sedikit keras dan tidak mendapat respons.

"Dia pingsan."

Prissy dan Alify serempak menoleh menatap Abi dengan kening mengernyit.
"Kenapa?" tanya keduanya kompak.

Namun, Abi hanya mengangkat bahunya pura-pura tak tahu. Lagi pula tidak mungkin kan ia mengatakan pada kedua gadis itu kalau sahabat mereka pingsan karena melihat sesuatu.

"Coba, Pit, lo bangunin si Naya. Kita udah mau pulang ini. Entar nyokapnya panik kalau tahu Naya pingsan," kata Prissy menyuruh Alify.

"Siap!"

Alify tersenyum lebar dan mulai membuka sepatu yang ia kenakan lalu mengarahkannya ke Naya hingga membuat kening gadis itu mengernyit.

"Udah mau sadar dia," bisik Alify. Segera setelah itu ia kembali memakai kaus kakinya agar Naya tidak marah.

"Mh …." Naya mengerjap matanya menatap sekeliling. "Gue di mana?"

"Lagi di neraka," sahut Prissy santai. "Lo masih di gedung Naya. Ngapain 'sih lo pake acara drama pingsan segala. Kan, kita khawatir sama lo," ucap Prissy mengomeli panjang lebar.

"Gue pingsan?" gumamnya pelan. Satu detik kemudian Naya mengingat apa yang terjadi sebelum ia jatuh tak sadarkan diri.

"Ah!" teriaknya bangkit dari sofa mengejutkan Prissy, Alify, serta Abi.

"Lo kenapa sih, Nay?" Alify menatap Naya heran.

"Kita harus pergi dari sini secepatnya. Gue tadi lihat kepala tuyul!" teriak Naya sambil bergidik ngeri.

MENGEJAR CALON PENGANTINTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang