25

7.3K 704 10
                                        

Jika sudah tidak sabar membaca di sini kalian bisa beli di google playstore ya 💕💕💕💕

Naya menatap datar pria yang tengah duduk di hadapannya. Pria yang tiba-tiba sudah duduk di ruang kerjanya sejak beberapa menit yang lalu.

"Setahu gue, artis itu punya banyak kerjaan dan enggak nganggur kayak lo," cibir Naya membuka pembicaraan.

"Buat lo, gue kurang-kurangin jadwal padat gue, Nay. Gue enggak mau calon pengantin gue itu rindu sama gue. Dosa entar," ujar Abi dengan ekspresi polosnya.

"Gue justru enggak berharap lo ada di sini." Naya memutar bola matanya malas. "Lo udah beberapa hari ini nongol terus di depan gue. Enggak bosan?"

Abi tersenyum lebar. Pria itu mengambil tangan Naya yang ada di atas meja kemudian menggenggamnya erat.
"Sama lo, gue enggak pernah bosan, Nay. Gue justru senang kok. Gue enggak masalah kalau lo ada di sekitar gue."

"Tapi gue yang bermasalah. Gue bosan lihat muka lo tiap hari. Usus gue udah kuning gegara lihat tampang enggak ganteng lo." Naya memutar bola matanya malas. Berbicara dengan Abi, ia harus mempunyai stok kesabaran yang ekstra.

"Ah, Naya. Lo kok sweet banget 'sih? Mau cium ketek gue?" Abi tersenyum aneh membuat Naya menghentakkan tangannya kesal.

Suara ketukan pintu membuat Naya dan Abi segera menghentikan obrolan absurd mereka.

Naya berteriak memerintahkan si pengetuk untuk masuk.

"Mbak Nay, di luar ada Mbak Reva dan Mas Evan yang mau ketemu. Gimana?"

Rosa tersenyum menatap Abi yang berada di dalam ruangan bosnya itu. Namun, senyum gadis itu seketika itu memudar ketika mendengar sapaan Abi yang terdengar menjengkelkan baginya.

"Halo calon Nyonya Baim."

"Mas Abi apaan 'sih? Saya enggak sudi nikah sama laki-laki nyirnyir itu. Lebih baik saya menggadis selamanya daripada punya laki kayak dia. Hiii." Rosa bergidik ngeri membayangkan ia akan menjadi istri Baim.

Tidak! Rosa tidak mau dan tidak akan pernah mau.

"Baim udah ngomong sama orangtua lo dan mereka setuju."

"Enggak. Saya enggak akan mau nikah sama orang yang jenis kelaminnya enggak jelas kayak temannya Mas Abi. Amit-amit."

"Heh, jadi kenapa lo berdua yang ribut 'sih?" Naya memelototi Abi dan Rosa secara bergantian. "Ros, suruh si dua curut itu masuk," perintah Naya yang segera diangguki Rosa.

Tak lama Reva dan Evan masuk dengan tangan saling bergandengan membuat Naya mencibir dalam hati.

"Ada perlu apa?" tanya Naya ketika mereka semua sudah duduk di sofa dalam ruangan Naya.

Reva menelan ludahnya gugup ketika ia duduk tepat di hadapan Abimana Ralluque. Pria tampan yang menjadi idolanya saat ini. Astaga Reva tak menyangka ia bisa duduk bersama Abi meski ia harus menelan kekecewaan ketika melihat sosok Abi yang duduk tepat di samping Naya.

"Kita di sini mau minta buatkan gaun pengantin untuk pernikahan kita," ujar Evan datar. Matanya menatap tak suka pada Naya yang masih bersikap biasa saja ketika berhadapan dengannya.

Evan maunya Naya kecewa atau menangis melihatnya bersama sepupunya sendiri. Tapi, lihat, gadis itu bersikap seolah Evan adalah orang asing.

Sebenarnya Evan tidak setuju dengan pendapat Reva yang ingin dibuatkan gaun pengantin oleh Naya. Namun, ia tidak bisa menolak jika itu permintaan Reva sendiri.

"Boleh. Tapi, kalian pasti tahu 'kan kalau bayaran untuk jasa di butik gue ini enggak murah?"

"Kita tahu seberapa matre lo jadi cewek," sahut Evan sinis.

"Wes, slow bro. Calon pengantin gue bukan perempuan matre ya. Kalau pun kata matre itu bagi gue cuma buat cowok miskin yang kekurangan uang. Masa iya, biayain cewek ke salon aja kita harus hitung-hitungan," sela Abi menatap Evan tak terima. "Beb, kalau lo perlu apa-apa atau mau buat beli skincare yang paling mahal sekalipun, lo bilang gue aja. Soalnya gue itu tipe cowok royal sama calon pengantin." Abi tersenyum lebar sembari mengecup pipi Naya membuat gadis itu ingin rasanya mencubit bibir jahat Abi.

Namun, yang dilakukan Naya justru tersenyum manis sambil mengusap lembut wajah Abi.
"Thanks, Beb. Lo memang calon laki terbaik deh buat gue. Enggak itung-itungan sama gue." Naya tak mau kalah mengecup pipi Abi dengan mesra.

Evan dan Reva kompak mendengkus secara bersamaan. Entah mengapa ada rasa tidak suka ketika Evan melihat kemesraan dua sejoli di hadapannya.

"Ah, iya. Gue panggilin dulu tim gue buat rancangan gaun pengantin kalian," ujar Naya kembali ke sikap profesional.

"Tapi, aku maunya kamu, Nay, yang merancang gaun buat resepsi dan akad nikah aku, bukan tim kamu," sela Reva ketika melihat Naya tengah mengutak-atik ponselnya.

Naya mendongak menatap Reva dan Evan secara bergantian. Gadis itu kemudian tersenyum penuh arti.

"Sorry, Rev, gue enggak bisa bikin gaun punya lo. Entar gue serahkan sama tim gue aja. Kebetulan tim gue ini adalah desaigner profesional yang karya mereka udah banyak diakui," ujar Naya dengan senyum profesional yang mengandung racun.

"Apa karena kamu belum bisa relain Evan menikah dengan aku?" Mata Reva melirik Abi yang berada di dekatnya. Kemudian tatapannya kembali tertuju pada Naya yang kini tengah tertawa.

"Ya ampun, memangnya Evan udah berjasa banget ya sama hidup gue sampai lo kira gue susah move on?" Naya terkikik sebentar sebelum melanjutkan kalimatnya yang terjeda. "Gue bukan bucin kali, Rev, yang gegara mantan pacar dipungut sepupu sendiri langsung gagal move on karena trauma. Hidup gue enggak se-drama itu kali," celoteh Naya dengan raut santai seolah Evan bukanlah hal berarti dalam hidupnya.

Reva mengepal tangannya masih dengan senyum lembut yang mencoba ia pertahanankan. Naya selalu tahu cara membalas ucapannya dengan kalimat yang menyakitkan.

"Oh, terus kenapa bukan lo aja yang buat gaun pengantin buat calon istri gue?" Kali ini Evan buka suara karena tidak tahan lagi mendengar kalimat Naya yang menyentil egonya.

"Karena sebulan ini gue bakal sibuk ikut Abi konser di beberapa daerah. Sabtu besok aja gue harus ikut Abi ke Lampung karena dia ada konser di sana," sahut Naya santai tanpa kebohongan sama sekali.

"Ah, lo memang calon pengantin gue yang paling pengertian, Nay. Gue udah enggak sabar mau ajak lo otw ke pelaminan," ujar Abi bersemangat. Pria itu tidak menyadari jika perut Naya sudah bergejolak ingin muntah.

¤¤¤¤

MENGEJAR CALON PENGANTINCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang