26

245 27 17
                                        

Gema mengernyit heran, tidak biasanya sikap Shakeela seperti ini padanya. Berpapasan di koridor pagi ini, Shakeela hanya meliriknya sekilas. Tanpa menyapanya sama sekali. Ini seperti bukan Shakeela saja.

Tapi, ah, bodo amat. Gema tidak peduli. Terserah Shakeela saja mau bersikap apapun padanya. Selagi itu tidak mengganggunya, itu bukan masalah bagi Gema. Lebih baik Gema cepat-cepat masuk ke kelasnya saja.

Alangkah terkejutnya Gema, ada Jack sedang duduk di bangkunya sambil menyilangkan kakinya di meja. Cowok itu tersenyum lebar melihat kedatangan Gema.

"Ngapain lo disini?" tanya Gema tidak suka.

"Sinis amat, non. Santuy, santuy." Ujar Jack terkekeh.

"Kalo nggak ada urusan, mending pergi deh."

"Ada. Gue ada urusan sama lo, Gem. Makanya gue samperin lo di kelas."

"Ya udah, cepetan. Apa?" tanya Gema tidak sabar.

Jack melirik area kelas itu. Yang sudah ada beberapa anak selain mereka berdua. "Kita ngomong sambil makan aja yuk?"

"Nggak mau. Disini aja." Tolak Gema.

"Lo yakin? Ntar kalo lo malu gue nggak tanggung jawab ya?" cowok itu menyeringai yang akhirnya membuat Gema terpaksa menuruti cowok itu. Berbicara dengan Jack di kantin, sambil makan.

"Jadi lo mau ngomong apa?" tanya Gema sambil mengelap mulutnya dengan tissue usai menghabiskan tiga porsi nasi kucing lengkap dengan gorengannya yang membuat Jack geleng-geleng kepala.

"Gem, pacaran yuk?"

Seketika mata bulat Gema membulat maksimal. Sedetik kemudian, tawa Gema pecah. "HAHAHAHA, NGGAK!"

"Ayolah, Gem. Nggak seriusan kok. Cuma main-main."

"Hah?" Gema benar-benar tidak mengerti.

"Mantan gue jadian sama mantan lo. Jadi kita juga bisa jadian."

"Nggak mau!" tolak Gema mentah-mentah.

Jack terkekeh. "Yah, lo sadis banget sih. Nggak usah buru-buru juga, Gem. Lo pikirin aja dulu."

"Nggak mau ya nggak. Kalo gue pacaran sama lo, ntar nasib gue sama kayak Shasha. Makasih deh." Gema bergidik ngeri.

"Ya lo beda, Gem. Lo kan berani sama gue."

"Nggak ya nggak. Udah deh, jangan ngaco." Gema buru-buru membereskan makannya. Bersiap untuk pergi.

Mata Jack yang jelalatan melihat Genta masuk ke kantin. Melihatnya, Jack sengaja menahan tangan Gema. Memaksa cewek itu untuk kembali duduk. Lalu dengan kurang ajarnya, Jack sengaja menyentuh ujung bibir Gema dengan alasan ada sisa makanan di sana padahal tidak.

Baik Gema maupun Genta, sama-sama terkejut.

Gema langsug menepis keras tangan Jack yang seenaknya saja menyentuhnya.

Jack menyeringai. Namun seringai itu bukan dia berikan untuk Gema, melainkan untuk Genta yang menatapnya penuh emosi dari balik punggung Gema.

Gara-gara melihat Jack berduaan dengan Gema, Genta yang semula ingin sarapan jadi mendadak kenyang. Genta memutuskan untuk kembali ke kelas dengan perasaan yang tidak keruan. Marah, panas, kesal. Sampai kehadiran Shakeela di hadapannya tidak dia sadari.

"Pagi, Ta." Untuk kedua kalinya cewek itu menyapa Genta. Barulah Genta sadar dan mengangkat wajahnya.

"Ya."

Shakeela sedih. Sikap Genta masih cuek dan terkesan dingin seperti kemarin. Padahal menurut Shakeela, Genta tidak berhak bersikap seperti itu padanya setelah berpelukan dengan Gema di depan matanya. Harusnya Shakeela yang bersikap begitu. Namun apa daya, Shakeela tetap berusaha bersikap biasa saja di depan Genta.

GemaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang