Pagi ini Gema sarapan di rumah dikarenakan Guruh pulang. Tidak seperti biasanya, Gema kali ini banyak diam. Bukan karena sariawan atau apa sih, karena Gema sedang malas saja bicara dengan anggota keluarganya.
"Kamu kenapa, Nak? Diem terus? Uang jajannya kurang?" tanya Guruh menggoda.
"Iya nih. Gema pengen mobil." Jawab Gema asal sambil memasukkan nasi ke mulutnya.
"Eh, mobil? Emang kamu udah lancar nyetir?" tanya Guruh lagi ragu.
"Belum sih. Tapi kalo udah punya sendiri pasti Gema bisa kok."
"Jangan ah. Kamu masih di bawah umur, Gema." Sahut Sabila.
"Gesang juga dulu dapet mobil pertamanya pas umur 16. Umur Gema sekarang kan juga 16. Harusnya boleh dong." Ujar Gema membela diri.
Sabila dan Guruh jadi saling tatap.
"Ya, ya, Gema cuma becanda kok. Nggak beneran." Ucap Gema akhirnya setelah melihat kedua orang tuanya tampak bingung dan ragu. Mendengar Gema bicara begitu, kedua orang tuanya jadi merasa lega.
"Oh iya, ngomong-ngomong ulang tahun, sebentar lagi Shasha ulang tahun kan?" wajah Sabila langsung sumringah membahas tentang Shakeela. Hal ini jelas terlihat di mata Gema yang diam-diam mengamati.
"Kapan?" tanya Guruh menimpali.
"Sebulan lagi, Om." Jawab Shakeela sopan.
"Sayang, berhubung ini ulang tahun kamu yang ke-17, kamu mau dirayain dimana? Di rumah aja? Atau mau di hotel?" tanya Sabila menawarkan.
"EHEM!" Gema sengaja berdehem dengan keras. Membuat Sabila dan Guruh maupun Shakeela jadi memperhatikan dirinya. "Gema berangkat duluan." Pamit Gema menyudahi acara sarapannya.
"Loh, loh, Gema, sarapan kamu belum habis, Nak..." ujar Guruh namun tidak Gema dengarkan.
"Anu, Shasha juga berangkat dulu ya, Tante, Om." Berbeda dengan Gema yang tidak menyalami kedua orang tuanya, Shakeela terlihat sangat sopan. Menyalami Guruh dan Sabila satu per satu.
"Hati-hati ya, sayang. Kalo udah sampe sekolah, kabarin Tante." Ucap Sabila lembut.
"Apa kamu sadar kenapa Gema bertindak seperti tadi?" tanya Guruh setelah hanya ada dia dan istrinya saja di ruang makan. Sabila terdiam. "Itu karena kamu! Bukankah sudah kita bicarakan hal ini sejak lama? Jangan terlalu memperlihatkannya di depan Gema!" Guruh terlihat benar-benar marah. Sampai-sampai sendoknya dia banting ke meja hingga menimbulkan suara.
"Maaf, Mas. Aku hanya nggak bisa menahan diri. Lagipula, sampai kapan aku harus me—" ucap Sabila pelan sambil menunduk.
"Aku tau! Aku tau! Tapi tolong perhatikan juga Gema! Gema anak kita!" seru Guruh kemudian akhirnya ikut pergi meninggalkan Sabila seorang diri.
⚡
"Gema," panggil Shakeela sambil berlari kecil menghampiri Gema yang berada di depannya. "Gema... kamu marah ya?" tanyanya setelah berhadapan dengan Gema.
Gema diam, membuang muka.
"Maaf kalo aku—"
"Nggak usah urusin gue. Urusin aja tuh, acara ulang taun lo sebulan lagi sama Mama!" ketus Gema sambil menyetop bus yang lewat. Tanpa mengajak Shakeela naik bersamanya, Gema terus masuk ke dalam bus, memilih tempat duduk yang menurutnya nyaman. Bodo amat dengan Shakeela. Sudah lama juga dia tidak berangkat bareng dengannya. Tidak tau deh, dengan apa selama Rusman ikut Guruh, Shakeela pergi naik apa ke sekolah. Gema tidak peduli.
Mendapat perlakuan seperti itu dari Gema, membuat Shakeela sedih. Cewek itu berjalan pelan menuju ke halte terdekat dari rumahnya. Lalu duduk di besi yang melintang seraya berpikir bagaimana caranya membuat Gema tidak marah lagi padanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Gema
Genç Kurgu(COMPLETE) Bercerita tentang Gema yang nyaris kehilangan segalanya yang ia punya setelah kedatangan seseorang bernama Shakeela.
