🌍Rooftop🌞

148 20 4
                                    

"Tika!" panggil Arthik saat Tika akan ke kantin. Terlihat tambutnya sudah di jepit menggunakan jedai. Entah jedai siapa itu. 

"Apa?" kata Tika dan berbalik sedangkan ketiga temannya tetap berjalan menuju kantin.

"Kok rambut lo udah di jedai aja sih? Jedai siapa tuh?" tanya Arthik bingung.

"Ini jedainya Hana. Gue pinjem tadi, soalnya gerah banget. Abisnya iket rambut gue kan lo ambil." kata Tika sebal. Namun, apa yang di lakukan Arthik? Dia memegang jedai di rambut Tika, dan melepasnya. Membuat rambut Tika kembali tergerai indah.

"Ngapain di lepas lagi sih? Kan gue udah bilang, gerah." kata Tika tak terima.

"Kan gue juga udah bilang, lo cantikan di gerai."

"Ah susah ngomong sama lo." kata Tika lalu berbalik dan berjalan menuju kantin. Dengan sigap, Arthik langsung menyusul di sampingnya. Habislah, ikat rabutnya berada di Arthik. Sedangkan jedai Hana yang ia pinjam diambil pula oleh Arthik.

"Jangan marah dong. Mending makan." kata Arthik sambil menggenggam tangan Tika lembut.

"Lo tuh ya. Modus nya kebangetan." kata Tika.

"Kalo gue nggak modus, gue nggak bisa dapetin lo." kata Arthik gombal.

🌍🌞

Tika sedang mengikuti pelajaran dengan tenang. Ia memperhatikan pelajaran dengan saksama. Tiba-tiba, Hana yang disebelahnya bertanya,
"Lo perasaan tadi pinjem jedai gue deh. Kok rambut lo udah di gerai lagi?"

"Iya. Jedai lo diambil Arthik." kata Tika santai dan tetap memandang papan tulis.

"Apa?! Diambil Arthik?!" tanya Hana terkejut.

"Husttt. Ngapain sih lo teriak-teriak." kata Tika hampir berbisik.

"Hana! Tika! Ngapain kalian ngobrol waktu jam saya?!" tegur Pak Joko garang.

"Enggak Pak." bohong Tika yang sudah jelas-jelas ketahuan.

"Keluar dari kelas ini sekarang! Jangan masuk kalau jam saya belum selesai!" kata Pak Joko sambil menunjuk kearah pintu.

"Hah? Tapi Pak..." cengo Tika.

"Tidak ada tapi-tapian. Cepat kalian berdua keluar." kata Pak Joko garang. Tika dan Hana langsung melaksanakan titah Pak Joko. Caca dan Belva hanya bisa melihat dengan iba tak berani membela.

"Elo sih Han. Ngapain sih lo tuh teriak-teriak? Udah tau Pak Joko guru killer. Ngapain lo teriak-teriak kaget kaya gitu?" kata Tika setelah mereka keluar dan duduk-duduk di meja batu pada halaman kelas mereka.

"Gue kan kaget Tik. Yaudahlah emang nasib kita lagi apes kali." kata Hana.

"Sayang? Ngapain disini?" tanya Arthik yang sedang berjalan bersama ketiga temannya.

"Apaan sih lo? Jangan kaya gitu, gue geli." kata Tika risih.

"Ngapain lo didepan kaya gini? Nggak masuk kelas?" tanya Arthik lalu duduk disamping Tika.

"Gue dihukum sama Pak Joko. Suruh keluar kelas dan nggak ikut jam pelajarannya kali ini."

"Kenapa?" tanya Arthik sambil mengerutkan alisnya.

Bumi VS MatahariTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang