HAPPY READING
Seorang lelaki paruh baya memasuki gerbang sekolah diikuti seorang sekretarisnya di belakang, wajahnya terlihat serius membuat orang orang yang melihatnya termangu beberapa saat.
Lelaki itu memasuki ruang bk disana sudah ada wanita paruh baya bersama anak laki lakinya yang tengah duduk santai
"Saya boleh masuk? ", suara berat pria itu mampu membuat seisi ruangan menatapnya.
Aksa yang melihat papanya berdiri tak jauh darinya hanya bisa mendengus, "Drama menjijikan lagi.. ", ujarnya pelan sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Guru yang tadi menatap tajam Aksa, sekarang teralihkan, karena terpesona dengan ketampanan yang dimiliki oleh papa Aksa.
"Boleh, silahkan duduk, pak.. ", walaupun sudah pernah melihat sebelumnya namun sang guru BK masih terkagum kagum dengan wajah tampan milik kepala keluarga Matteo itu.
Setidaknya semua orang mengetahui dari mana gen topcer si kembar berasal dari mana lagi kalau bukan dari si ayah.
Ares duduk di samping Aksa yang masih santai tidak menghiraukan Ayahnya, "Jadi Aksa melakukan apa? ".
Mama dari Loren terlihat menyikut anaknya dan kembali tersenyum melihat Ares, "Mm, anak bapak tidak melakukan apa apa, anak saya disini salah, yang ngajak berantem anak bapak..."
"Kalau gitu, Aksa tidak berbuat salah kan.. ".
Wanita paruh baya itu menggaruk tenggkuknya yang tidak gatal, "Iya pak, ini salah anak saya yang berbohong... "ujarnya lagi sambil tersenyum, Loren menyikut lengan mamanya.
"Maaa..", katanya pelan dengan nada merajuk.
"Diam bentar Ren! ", ancamnya, setelah itu kembali tersenyum menatap Ares yang berekpresi datar.
"Saya dengar anda duda benar.. ".
Ares terlihat, tidak menyukai arah pembicaraan ini, "Kenapa, anda menanyakan hal itu kepada saya. ".
Aksa juga tidak suka arah pembicaraan ibu Loren, lelaki itu mengalihkan pandangannya menatap tajam wanita paruh baya itu, "Maaf bu, kalau anda ingin mendekati ayah saya, anda salah besar, pertama saya tidak ingin punya mama seperti ibu, kedua kembaran saya juga pasti memiliki pendapat yang sama dengan saya, terkhir papa saya juga pasti seleranya tidak seperti ibu..".
Ares menyikut lengan anaknya, "Aksa your language ".
"That True dad.. ", Ares kembali menghela nafasnya anaknya Yang satu ini sifatnya sangat mengcopy dirinya terlalu frontal Dan seenaknya.
"Maaf buk.. "
"Ngak masalah saya mengerti pak, kalau anaknya ganteng kayak gini pasti ada saja kekurangannya".
Ares mengambil kartu namanya di saku jasnya Dan meletakannya di atas meja, "ini kartu nama saya, kalau semisalnya ibuk ingin minta ganti rugi saya akan mengantinya berapapun itu, kalau gitu saya permisi.. ".
Ares berjalan keluar diikuti Aksa, diluar sudah ada Aiden Yang menatap tajam saudara kembarnya Yang masih saja santai, "You see.. ", ujar Aksa sambil tersenyum sinis.
"Yaa, kali ini gue setuju sama Lo... ", Aiden terlihat risih setelah menjawab pertanyaan Aksa.
Bagaimana tidak setelah mereka keluar dari ruangan konseling orang orang memandang mereka tanpa henti, siapapun yang dipandang seperti itu pasti tidak lah nyaman.
"Pa Aiden ke ruang osis dulu..", Ares mengangguk, mengiyakan.
Aiden berjalan cepat hingga menghilang dari balik koridor. Sekarang Ares berbalik menatap putra sulungnya dengan tajam.
KAMU SEDANG MEMBACA
𝗠𝘆 𝗗𝗲𝗺𝗼𝗻 𝗣𝗿𝗶𝗻𝗰𝗲♕︎✔︎|𝗥𝗲𝘃𝗶𝘀𝗶
Ficção Adolescente[FINISH ] Proses Revisi [16+] Jika berkenan bisa follow saya sebelum membaca makasih.. ❝𝚈𝚘𝚞 𝚖𝚞𝚜𝚝 𝚝𝚘 𝚋𝚎 𝚖𝚢 𝚙𝚛𝚒𝚗𝚌𝚎𝚜𝚜 𝚗𝚘𝚠, 𝚝𝚘𝚖𝚘𝚛𝚛𝚘𝚠, 𝚊𝚗𝚍 𝚏𝚘𝚛𝚎𝚟𝚎𝚛❞ Namanya Aksara Matteo si laki laki kejam dan sangat serakah...
