[17+ CONTENT : MOHON BIJAK DALAM MEMILIH BACAAN]
Kenalin, nama gue Roseanne Park. Gue punya sahabat cowok yang awet bangetㅡJung Jaehyun, dan kita ibarat lem sama perangko. Gue sama Jaehyun udah klop banget, jadi gak jarang kalau sampai di kira saud...
"Aaaaaaaaa~" Jaehyun memainkan sendoknya layaknya pesawat mainan, berniat nyuapin gue. Sebenarnya lapar tapi ogah ah makan makanan dari cewek yang di incar Jaehyun.
"Gue gak laper, nahan aja sampai istirahat. Gue 'kan mau launch bareng kak Jun, heheh," cengir gue yang langsung di cibir Jaehyun.
"Jangan lupa lo ntar kita ke rumah bunda," kata Jaehyun mengingatkan gue untuk datang ke rumah karena Jung Somi, bunda Jaehyun menyuruh mereka datang untuk dinner keluarga. Katanya sih ada yang mau di bicarain.
"Iya ah, bawel," decak gue bersungut-sungut. "Masalahnya kalau gak di ingetin lo bisa lupa waktu," sahut Jaehyun yang tau kalo gue mau main pulang sekolah nanti bareng geng gue.
****
Gue menghela nafasnya berulang kali, ini kenapa jadi kayak gini anjir. Padahal gue dah senang pas dengar bel buru-buru ke kantin tapi malah ngelihat kak Jun lagi makan bareng seorang cewek gatau siapa.
Mood gue hancur seketika saat mulai duduk di sebelah cewek itu. Gue natap dia sejenak, kelihatannya dia akrab sama kak Jun.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Sekali lagi maaf ya atas insiden memalukan itu," sesal Jun yang menatap Rose ramah.
"Lo apain anak orang hah?" ketus cewek disebelah Gue, dia natap gue. "Lo gak apa-apa, serius?" tanyanya dengan tatapan khawatir. Gue tertawa renyah dan mengangguk.
"Hati-hati lain kali cuk," kata cewek itu ke kak Jun. "Apa sih, Eunbi," decak kak Jun yang cemberut. Di sini tuh kesannya gue jadi obat nyamuk kedekatan mereka berdua.
Setelahnya, gue gak memutuskan untuk masuk kelas tapi merenung di perpustakaan sambil menatap ke luar jendela. Sampai kesadaran gue kembali saat menyadari ada orang yang nutupin kontak sinar matahari ke gue, dia duduk di jendela.
Saat gue menoleh, gue melihat Jaehyun dan terdengar bunyi cekrek. Jaehyun menahan tawanya, kelihatan senang banget saat berhasil ngefoto komuk gue.
"Kurang ajar lo, ya!" marah gue yang hendak melihat foto itu tapi Jaehyun ngangkat tangannya tinggi-tinggi. "Lo sih ngelamun," ledeknya yang kesenangan.
"Sini, gak!" ancam gue, tapi Jaehyun malam nunjukin wajah menantangnya. Gue yang lagi gak mood bertengkar pun pergi, tapi sebelum itu mau mengembalikan buku ke rak dan gak sampai.
"Dasar pendek," sahut Jaehyun yang berdiri di belakang gue dan ngerampas buku yang ada di tangan gue buat di susun ke rak. Setelahnya gak tau kenapa posisi kita justru saling berhadapan kayak gini, malah dekat banget.
"Minggir lo!" ketus gue, tapi Jaehyun justru mendekatkan wajahnya dan menatap gue gak kayak biasanya. Anjir kok gue mendadak gak bisa ngomong.
"Lo ganti parfum, ya?" tanyanya.
"Memangnya sepenting itu ya, njing? Gue kira lo mau apa," lega Rose yang hendak pergi, tapi Jaehyun menarik tangannya. "Bentar-bentar ada bulu mata jatoh tuh," kata Jaehyun yang ngebantu gue.
Tapi, orang lain ngiranya kita mau ciuman kali sampai Naeun menjatuhkan bukunya secara tidak sengaja. Tadinya dia pengen naruh buku di rak.
"Ehh, Naeun? Makasih ya, makanannya. Enak banget loh," puji Jaehyun, gue yang mendengar itu mau muntah tau gak. Ketara banget modusnya.
Naeun yang awalnya agak sedih kelihatannya mulai bahagia karena Jaehyun memujinya.
Jaehyun noleh ke arah gue saat gue memeluknya dari belakang dan memaksanya jalan. "Nyok masuk kelas," kata gue lalu menatap Naeun sejenak, gila sih gue kaget tuh anak kayak menatap gue sinis secara terang-terangan.
"Masa aku di tatap sinis sama gebetan lo, gak sudi ya gue kalau dia jadi ipar gue," curhat gue yang nunjukin wajah paling sendu. "Bagus dong? Tandanya dia ada rasa 'kan sama gue, berarti usaha gue gak sia-sia 'kan? Yes!" girang Jaehyun. Kan anjing, bagaimana dia bisa berpikiran sangat positif coba?
Tapi anehnya lagi kenapa sih gue selalu peduli Jaehyun dekat sama cewek yang mana? Kayaknya otak gue dah konslet deh.
****
Schedule jalan-jalan hari ini tuh karena Irene mau cari kado buat Baekhyun yang besok bakalan ultah.
Gue tersenyum girang saat melihat gantungan babi yang sering gue kasih ke Jaehyun saat dia ulang tahun di masa kanak-kanak. Dia selalu protes karena setiap ultahnya pasti yang gue ingat adalah babi, katanya dia 'kan ganteng masa pikiran gue malah keinget babi. Kan tai, kesal Jaehyun.
Terus gue ngelihat gelang couple, jadi inget kemarin gelang Jaehyun baru putus karena gue mainin. Jadi, gue memutuskan untuk membelinya.
Tapi, tiba-tiba gue mendengar obrolan yang membuat gue tertarik.
"Wah, jadi kau benar-benar menyukai kak Jaehyun, Naeun?"
"Sudah ku duga, sih."
"Semangat, ya."
"Tapi, masalahnya sahabatnya selalu nempel sama kak Jaehyun sampai ngebuat gue pengen banget musnahin dia," ungkap Naeun.
"Gue juga gak sudi tuh kalau Jaehyun jatuh ke tangan orang kayak lo," sahut gue mencibir tapi yang gak gue sangka Naeun ngedorong gue cukup keras sehingga kaki gue yang keseleo kemarin sakitnya jadi terasa lagi.
"Lo tuh benalu di kehidupan kak Jaehyun, mendingan berhenti deh," desis Naeun.
"Hubungan kita lebih dari yang lo tau, lo yang harusnya ngejauh njing," ujar gue kasar dan balas ngedorong dia. Tapi, entah kenapa Jaehyun jadi ada disini. Dia tiba-tiba masuk dan menolong Naeun.
"Rose, lo jangan gitulah," ujar Jaehyun agak kesal.
"Lo nuduh gue?" kaget gue kemudian menyeringai kecil, "Gue gak bakal ngedorong kalau dia gak mulai duluan," sinis gue.
"Iya, Jae. Jelas-jelas Naeun yang ngedorong Rose duluan. Woy, njing ngaku lo!" umpat Jennie kesal.
"Lo gak percaya sama gue?" lirih gue yang kemudian meninggalkan toko itu. Gue menatap gelang yang ada di genggaman gue, terus mau gue buang tapi pergerakan gue tertahan di udara.
Gue gak nyangka Jaehyun gak percaya sama gue padahal dia udah kenal gue sejak lama, itu sih yang ngebuat gue sakit hati.