46

2.7K 331 106
                                    

Jaehyun pov.

Hanya wajah terkejut yang bisa gue tunjukkan saat dipertemukan kembali dengan Rose. Dan lagi, gue merasa ini bukan waktu yang tepat untuk melihat wajahnya lagi. Gue gak nyangka dia bisa setega ini ninggalin anaknya selama bertahun-tahun.

"Jen... Jeno?" ulang Rose terbata-bata. Jeno menoleh menatap wanita itu dengan senyuman ceria di wajahnya. "Iya, tante. Nama aku Jeno. Kalau ini," ujarnya yang memberikan jeda pada ucapannya karena sibuk nunjuk ke arah gue, "Ayah aku, Jung Jaehyun. Ganteng seperti yang aku bilang 'kan, Tan?" kekehnya.

"Kalau nama tante siapa?" tanya Jeno antusias.

Gue mengalihkan pandangan saat mendengar Jeno memanggil Rose dengan embel-embel tante. Rasanya nyesek banget, padahal itu ibunya. Gue jadi gak tega ngasih tau anak gue kalau wanita itu adalah ibunya. Gue gak bisa melihat betapa terlukanya Jeno nanti kalau dia tahu Rose adalah ibu yang selama ini dia nantikan.

Kalau gue ada di posisi dia, jelaslah gue bakalan benci sama ibu gue sendiri. Masalahnya ini udah 5 tahun, dan menunggu selama itu bukanlah perkara yang mudah.

"Tante kenapa nangis?" tanya Jeno yang terheran-heran, gue lirik pemandangan didepan gue yang menunjukkan Rose sedang menangis sesenggukan sambil memeluk Jeno sangat erat.

"Rose, itu nama tante," ungkap Rose tertahan, di sela-sela isak tangisnya. Bisa gue lihat betapa erat Rose berusaha memeluk Jeno.

Beberapa menit setelahnya, suasana canggung. Rose memohon ke gue lewat tatapannya kalau dia pengen lihat Jeno lebih lama. Akhirnya kami berdua duduk bersebelahan di bangku taman sambil memperhatikan Jeno yang sedang asik bermain perosotan.

"Jeno.... Baik-baik aja, kan?" tanya Rose yang memberanikan diri untuk membuka percakapan, cuma sayang sasaran topiknya seketika membuat gue yang mendengarnya kesal. "Masih berani nanya?" sahut gue sinis. Terdengar Rose menghela nafasnya.

Hening lagi setelah dua untaian kalimat itu. Gue sibuk memperhatikan Jeno yang benar-benar terlihat bahagia saat menatap ke arah gue, tapi entah kenapa rasanya sekarang gue mau nangis.

"Kenapa sih, kamu bisa tega ninggalin Jeno selama 5 tahun? Kamu gak tahu kalau setiap hari dia nanya dimana ibunya?" ujar gue sendu. Bisa gue dengar nafas Rose tercekat.

"Jeno baik-baik aja kok, aku ngejagain dia dengan baik sembari nunggu kamu pulang. Sekali lagi aku minta maaf atas semua yang pernah terjadi, dan aku gak keberatan udah nungguin kamu selama 5 tahun meski itu jelas-jelas keterlaluan untuk Jeno. Sekarang kamu udah kembali, jadi bisa 'kan kita mulai dari awal? Setidaknya ini demi Jeno," ungkap gue seraya menggenggam erat tangan Rose sehingga membuatnya menatap gue serius.

"Walaupun kamu benar-benar keterlaluan udah ninggalin aku selama bertahun-tahun, aku masih mau memulainya dari awal. Kita jadikan apa yang pernah terjadi sebagai pembelajaran. Sekarang kita fokus ke Jeno, oke?" ujar gue lagi seraya mengusap air mata yang mulai berjatuhan ke pipi karena kalau bahas masalah Jeno, hati gue selalu terguncang. Perlahan gue menggenggam erat tangan Rose.

Gue gak ingin Jeno menghadapi waktu yang sulit seperti ini, tapi semuanya memang salah gue dan Rose. Namun, gue hanya bisa berharap setelah ini Jeno bisa bahagia.

"Apa kamu masih menunggu aku? Apa kamu gila?" balas Rose yang terkejut sembari menarik tangannya dari genggaman gue. Setelah mendengar hal itu, kening gue mengernyit. Gue lihat air mata Rose mulai berjatuhan, "Kamu bercanda, kan? Pasti selama 5 tahun ini kamu udah berhasil cari ibu pengganti buat Jeno? Karena selama aku pergi, jujur aja aku udah bahagia sama yang lain. Kamu juga gitu, kan?" ungkapnya dengan ekspresi wajah begitu yakin.

Demi apapun, gue kaget dengar penjelasan dia. Gue gak tahu harus memberikan ekspresi yang bagaimana. Sekarang gue hanya bisa tertawa gak percaya, "Apa kamu gila berani menjalin hubungan dengan pria lain disaat kita belum resmi berpisah?!" tanya gue sembari menaikkan volume suara.

Nikah Muda [✔]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang