28

3.1K 344 42
                                    

"Lo bisa gak, hm... Gak usah terlalu dekat sama Jaehyun lagi sekarang?" Kak Doyoung melontarkan pertanyaan itu saat kita lagi makan di kantin, dia menggenggam erat tangan gue. Gue mengerjapkan mata berulang kali saat mendengar itu.

"Tapi, kan kak kalau dipikir-pikir Jaehyun itu sahabat gue. Terkadang gue suka refleks gitu deket ke dia, maklum lah kayak saudara sendiri," jelas gue baik-baik. Menjauhi Jaehyun itu hal paling mustahil dalam hidup gue.

"Ya, sih, gue ngerti. Gue gak mau terlalu ngekang lo juga, tapi gimana ya ini 'kan masalah hati. Jujur gue cemburu, lagian kita gak ada yang tau isi hati Jaehyun gimana. Gue cuma gak pengen gitu lo akrab sama cowok lain, rasanya nyess aja. Gue cuma pengen lo mandang gue aja sekarang," ungkap kak Doyoung dengan wajahnya yang merah padam. Ngegemesin banget sumpah, pengen gue karungin terus bawa pulang ke rumah jadiin guling kesayangan.

Gue spontan nyubit pipi kak Doyoung, "Ciee.. Yang cemburu," goda gue. Kak Doyoung cuma bisa tertawa kecil sambil mengusap-usap kepala gue.

Jaehyun pov

Mata gue memicing setiap melihat kak Doyoung memperlakukan Rose dengan romantis. Rasanya sih geli aja gitu. Gue dari tadi hanya sibuk mengaduk-aduk makanan.

"Btw si Rose sombong banget ke kita semenjak pacaran sama kak Doy," bisik Chanyeol yang mulai buka sesi gibah.

"Paan sih, jangan gibahin sahabat gue. Maklum lah, kan pacarnya kok lo yang sewot sih," gerutu Irene.

"Yang, aku dimarahin. Kamu gak kesel gitu?" adu Chanyeol ke Wendy. Wendy justru mendesis dan menjitak kepala Chanyeol, "Jangan urusin hidup orang, bisa?" dengus Wendy.

Irene hampir sakit perut melihat ekspresi Chanyeol yang bete banget setelahnya.

"Lo baik-baik aja Jae? Sekarang gue lihat lo sama Rose gak kayak lem sama perangko ahah," sahut Sehun.

"Biarin aja siapa yang peduli," sahut gue yang mendesis pelan. Gue gak ngerti kenapa gue merasa kesal tiap kali melihat kebahagiaan mereka.

"Udah Jae, gak usah lo pikirin. Bagus kan kalau dia berhenti ngusik hidup lo. Kita bebas mau ngapain," desis Taeyong.

"Gue duluan deh," pamit gue yang beranjak pergi.

"Jangan galau-galau kang," ejek Jisoo ke gue. Gue hanya mendengus pelan.

Dipertengahan jalan, gue melihat Rose. Gue menghampiri dia dan hendak merangkul dia untuk pergi ke kelas bareng.

"Eitttt!" sahutnya sambil menyilangkan dada di depan dada. Kayak gue mau ngapa-ngapain dia aja njerr. Rose menggelengkan kepalanya sambil bilang, "No, no, no!"

"Lo napa sih njing?" gerutu gue sebal.

"Kita udah gak boleh deket-deketan soalnya bukan muhrim," bisik gue sehingga hal itu ngebuat gue jitak kepala dia. Gue kesel sumpah. "Bahkan dari kak Doyoung, gue yang muhrim sama lo tolol. Lo lupa ya kalau gue suami lo? Itu tandanya kalau lo main dibelakang gue, lo berdosa dunia akhirat!" sinis gue sambil mendelik kesal.

Rose menahan tawanya, "Pernikahan kita 'kan cuma main-main doang, jan serius gitu ah!" cengirnya yang ngedorong lengan gue sambil tertawa cengengesan.

"Pokoknya jangan sentuh gue sebelum izin okay? Gue gak mau ngecewain kak Doyoung," ungkapnya yang kemudian bersiul-siul dan berlari-lari kecil menuju kelas. Gue menatap punggung Rose yang semakin menjauhi pandangan gue.

"Kenapa sih, Rose? Kita kok makin jauh aja. Gue gak pernah nyangka kalau kita bakalan jadi kayak gini."

Gue menghela nafas lirih dan melanjutkan langkah gue dengan gontai menuju kelas.

Nikah Muda [✔]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang