54

2.5K 322 61
                                    

Kalian pasti mengerti bagaimana menghargai seorang penulis 😊

♡♡♡♡♡♡

Tubuh gue sukses membeku saat menyadari bahwa yang menjadi pusat perhatian semua orang adalah Jeno. Gue hampir jatuh saking merasa lemas dan Chanyeol senantiasa memegangi tubuh gue.

"Lanjutkan saja pernikahannya," ujar ayah Chanyeol sambil menatap gue dan Chanyeol lekat-lekat. Gue mengeratkan cengkeraman tangan gue pada lengan Chanyeol, Chanyeol yang mengerti membungkukkan badannya di hadapan kedua orang tuanya.

"Maaf ayah, ibu, kami tidak bisa melanjutkan pernikahan ini karena kondisinya tidak memungkinkan," ungkap Chanyeol penuh penyesalan. Gue segera berlari ke pusat keramaian kemudian tidak bisa membendung tangis gue saat melihat tubuh tak berdaya Jeno di dekapan Jaehyun. Wajah Jeno benar-benar terlihat pucat.

Chanyeol mengusap-usap lengan gue, "Kamu jangan cemas, kita atasi masalah ini sama-sama," ungkapnya yang berusaha menenangkan gue kemudian Chanyeol menerobos keramaian dan membantu Jaehyun untuk memberikan pertolongan pertama pada Jeno sebelum akhirnya ambulans datang dan membawa Jeno ke rumah sakit.

Jeno langsung di larikan ke ruang ICU. Air mata gue gak bisa berhenti, gue senantiasa berada di sisi ranjang Jeno sambil menggenggam tangannya erat-erat. "Jeno, kamu kenapa sayang? Bunda mohon, tolong buka mata kamu sekarang," isak gue pilu.

Beberapa perawat yang mengerek ranjang Jeno menuju ruang ICU tampak menatap gue bingung, tentu saja. Mana ada orang ke rumah sakit dengan busana pengantin, itu hal paling aneh di dunia. Gue gak bisa mikirin apapun selain tentang Jeno.

Langkah gue tertahan di ambang pintu ruang ICU, gue gak bisa masuk ke sana. Perawat melarang gue melakukannya meskipun gue kelihatan ngotot buat masuk.

Chanyeol menjadi dokter pendamping yang akan ikut menangani Jeno. Sebelum dia masuk ke dalam ruang ICU, dia memeluk gue sejenak dan meminta gue untuk bersikap tenang dan menghadapi semuanya dengan kepala dingin.

Setelah melihat pintu ruang ICU tertutup, gue merasa benar-benar lemas bahkan orang tua gue harus bergerak untuk menenangkan gue. Ayah gue menarik gue untuk duduk dan ibu gue senantiasa mengusap-usap punggung gue sekedar menenangkan pikiran gue yang kalut.

Gue menutup wajah gue dan menangis tersedu-sedu, takut memikirkan kemungkinan yang akan terjadi sebab itu pertama kalinya gue lihat wajah Jeno benar-benar pucat banget. Gak ada yang gak menunjukkan wajah khawatir saat ini, bahkan Jaehyun telah merosot ke lantai saat menyenderkan punggungnya di dinding dan menatap semuanya dengan tatapan kosong. Pria itu sudah lelah menangis, wajahnya terlihat benar-benar sembab.

Perlahan gue menengadahkan kepala gue saat melihat sepasang kaki yang berdiri di hadapan gue. Gue termangu saat melihat Jaehyun datang sambil menyerahkan sebuah paper bag ke hadapan gue, "Rose ada baiknya kamu ganti baju dulu," ungkapnya pelan dengan nada parau karena kami memang menangis hebat setelah melihat Jeno ambruk.

Gue menatap Jaehyun sendu, "Aku gak mau, aku takut kalau aku pergi dari sini nanti Jeno kenapa-napa," balas gue lirih. Jaehyun langsung menyahut, "Tapi kamu gak bisa pakai baju ini terus, Rose. Kamu gak akan merasa nyaman, justru nanti kamu semakin merasa stress dan nyusahin diri sendiri," sela Jaehyun sambil menatap gue dengan tatapan memohon.

"Iya Rose, apa yang Jaehyun katakan benar. Lo gak usah khawatir, kita ada di sini kok untuk memantau perkembangan Jeno," sahut kak Doyoung. Gue menghela nafas panjang kemudian mengambil paper bag itu.

Ibu gue hendak membantu gue pergi ke kemar mandi, tapi Jaehyun menahan langkah kami dan meminta izin untuk menemani gue. Kini pria itu menggendong tubuh gue.

Nikah Muda [✔]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang