BAGIAN TIGA

31 4 0
                                    

KUTATAP lekat foto Fajar yang kupotret lima bulan lalu saat kami jadian

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

KUTATAP lekat foto Fajar yang kupotret lima bulan lalu saat kami jadian. Dia menyatakan perasaannya langsung di rumahku. Malam itu mesra sekali, tapi tidak bertahan lama. Fajar bilang dia sangat mengantuk. Ketika dia sibuk mengucek matanya, aku langsung memotret wajahnya yang paling menggemaskan saat itu. Untungnya dia tidak sadar.

Ya, lima bulan sudah berlalu. Hubungan kami hampir setengah tahun. Hampir sekali. Tinggal menunggu beberapa hari lagi maka hubungan kami sudah berumur setengah tahun. Tentunya aku sangat senang. Diluar sana banyak sekali orang yang menginginkan aku putus dengannya. Ternyata banyak orang yang tidak suka akan hubungan kami. Terutama Dirma. Dia orang pertama yang secara terang-terangan ikut mencampuri urusan pribadi kami.

Dirma. Aku tidak tahu apa yang kamu inginkan. Pergi kemana kamu selama dua tahun itu? Membiarkanku dalam rasa ini sendirian. Jujur saja, aku sudah mengikhlaskan semuanya yang pernah terjadi. Yang faktanya aku sendiri yang berjuang mendapatkanmu.

Tapi kenapa sekarang, Dirma? Saat aku sudah memiliki pacar sepertinya kamu tidak terima. Padahal pacarku temanmu. Apakah kamu merasa kehilangan aku? Kurasa kamu tak perlu untuk merasakan kepergianku. Ada Maura yang harus kamu jaga. Kalau ada waktu untuk kita berdua ingin sekali aku mengungkapkan semuanya tapi tidak tahu kapan. Kalau ditanya soal rasa, iya aku masih punya. Tapi tak sedalam dulu.

Maafkan aku.

Ada Fajar pacarku. Cowok paling menyebalkan yang pernah ada tapi dia sudah berhasil membuatku melupakanmu. Memang awalnya jahat dengan menjadikan Fajar sebagai pelampiasan tapi kuakui aku sudah terlanjur berpindah hati.

Maafkan aku.

Segera kuhapus air mataku. Tak terasa sudah lima belas menit aku di kamar mandi. Seharusnya sekarang aku berada di kelas. Baiklah, kusimpan ponselku di saku rok abu-abu ini.

Ketika baru saja menginjakkan kaki dibibir pintu keluar, sebuah tangan menarikku kasar.

Fajar?

Bukankah dia tidak berangkat?

"Kamu berangkat." kataku. Dia tak menggubris, tetap melanjutkan jalannya dan aku hanya mengikuti kemana dia menarikku.

Sampai di belakang sekolah tempatnya nongkrong bersama teman-temannya namun kala itu sepi, Fajar menyudutkanku ditembok.

"Apa yang lo lihat?" tanyanya tajam pun juga tatapannya.

"Kamu menatapku,"

"Apalagi?"

"Kamu mengurungku,"

"Terus?"

"Aku kangen kamu, Fajar. Aku kangen!" jawabku seraya memeluknya seerat mungkin. Mencium kuat aroma tubuhnya yang maskulin. Aroma parfum yang tak pernah sekalipun aku melupakannya.

Fajar membeku. Aku merasakannya. Dia terdiam oleh suara tangisanku yang lirih namun perih.

"Kamu cuek! Kamu jahat! Kamu nggak mau ngehargain aku sebagai pacar kamu! Ingat, Fajar, hubungan kita hampir setengah tahun tapi kamu nggak ada niatan buat bahagiain aku. Kenapa? Apa aku kurang cantik? Aku kurang sempurna di mata kamu? Tolong jawab!"

"Gue mau kita putus."

DEG

DEG

Putus?

Aku tidak salah dengar, bukan?

"Apa?"

"Iya gue mau kita putus. Kurang jelas?"

"Maksud kamu putus yang bagaimana?"

"Kita putus ya putus. Masa lo nggak paham?"

"Fajar!"

"Terus kita balikan biar gue bisa mengulang dari awal lagi. Boleh, 'kan?"

Astaga. Jantungku hampir lepas mendengar kata putus darinya yang ternyata dia sedang mengerjaiku rupanya.

Oalah.

"Selamat hari valentine, Zella sayang."

Aku tidak tahu harus berkata apalagi intinya Fajar itu manusia paling brengsek yang memiliki banyak cara untuk membuatku bahagia dan sedih dalam satu waktu. Awalnya jika ini bukanlah prank, aku yakin sekali wajah rupawan Fajar yang setiap malam terbayang akan bobrok setelah tanganku ini memukulnya.

"Kok nggak ada cokelat?" tanyaku heran, mencari-cari apakah Fajar sedang menyembunyikan bungkusan cokelat. Seharusnya hadiah hari valentine adalah cokelat, dimana makanan itu?

"Apa harus ada cokelat?" dia berbalik tanya dengan wajah dingin andalannya.

"Aku nggak meminta kamu bawa cokelat sih, tapi biasanya hari valentine pasti berhubungan dengan cokelat."

"Salah. Yang bener itu berhubungan dengan hari kasih sayang. Apa belum cukup kasih sayang yang selama ini gue berikan?"

"Kasih sayang?"

"Gue males bertengkar, Lala."

"Kamu anggap selama ini kita pacaran penuh dengan kasih sayang, iya?"

"Lala,"

"Lalu bagaimana dengan air mataku setiap malam? Itu namanya kasih sayang?"

"Gue nggak mau bahas ini!"

"Terserah kamu, aku lelah." seharusnya ini tidak terjadi. Aku benci pada diri ini yang mudah menangis. Pertengkaran yang kuinginkan seharusnya tak berakhir dengan air mata. Seharusnya aku bisa kuat seperti dikala aku bertengkar dengan Dirma. Namun ini sungguh berbeda.

"Lo itu kenapa sih? Kenapa lo bersikap seolah-olah gue yang paling salah disini, paling kurang ajar dan lo yang benar. Kalau kebanyakan ngungkit masalah sepele mending jauhin aja gue, kelar kan?"

"Aku hanya minta kamu bersikap layaknya pacar, Fajar, aku hanya minta itu, nggak lebih. Apa sulitnya?"

"Yang selalu menyulitkan gue itu lo!"

"Menyulitkan bagaimana? Kamu tahu aku selalu bersabar terlebih saat kemarin seharian nggak ada kabar sama sekali, dimana letak kesulitannya?"

"Please, stop thinking about me!"

Akhirnya aku menutup mulut setelah dirasa cukup banyak mengeluarkan semua keluh kesah yang telah lama membusuk didalam rongga dada. Fajar menatapku penuh kebencian, sebelum pergi, dia menyempatkan memukul tembok disebelah kepalaku kuat hingga aku dibuat terkejut dan hampir berteriak.

"I prefer you in the past. Always smiling when we meet accidentally. I miss those memories." bisikku lirih dengan suara bergetar menahan isak tangis yang memaksa untuk dikeluarkan.

"Forget it!"

Dan saat itulah tangisanku semakin menjadi. Kakiku hampir lemah tak kuat menahan beban tubuhku hingga aku terperosot dan terduduk diatas rerumputan.

Sesakit itukah mencintai seseorang?

Ada apa denganmu, Fajar?

Baru beberapa menit lalu dia mengucapkan hari valentine tapi berakhir dengan pertengkaran. Tadinya aku mengumpulkan kalimat untuk membahas keluh kesahku padanya tapi dia sepertinya menolak keras untuk menerima topik ini.

Apakah aku salah?

Semakin kesini terasa semakin sakit. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Lelah memang tapi status kami masih berpacaran maka aku harus bersikap layaknya seorang pacar.

-<<FAJAR>>-

FAJAR [Tamat]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang