Tamat
Ini kisahku dengan dia. Ini aku yang merasa asing namun diam-diam selalu dicintai. Ini kisahku dengan mereka. Ini aku yang mulai sadar bahwa aku hidup tidak sendirian. Ada mereka yang selalu berusaha menggapaiku meski aku selalu menghindarinya...
BERKAT teman Fajar yang mengajariku fisika semalaman, aku sedikit bisa mengerjakan soal-soal ujian terakhir dengan lancar.
Dihari terakhir ujian ini ada sesuatu yang membuatku terkesan. Bahwa sebuah kelulusan yang sedang dinanti oleh seluruh kelas dua belas adalah sebuah awal hidup yang sebenarnya. Mereka akan merasakan hidupnya yang benar-benar mandiri.
Disinilah aku berada. Ditengah lapangan bersama puluhan murid kelas dua belas yang sengaja tidak diperbolehkan pulang oleh kepala sekolah. Mengadakan apel dadakan, membahas acara kelulusan yang sudah diharapkan jauh sebelum ujian diadakan.
Semua kelas dua belas berbaris tak sesuai kelas. Mereka bebas mencari barisan sendiri. Lagipula ini hanyalah apel. Hanya cukup diam dan perhatikan. Alih-alih mendengarkan, semuanya nampak sibuk membicarakan soal kelulusan.
Entah kenapa, bukannya membahas ujian, mereka yang kelas dua belas malah membicarakan perkara lulusan akan memakai kebaya yang modelnya seperti apa. Merias diri disalon apa. Dan akan mengajak seluruh keluarganya. Pembicaraan itu heboh disetiap kelas yang waktu itu sempat aku lewati dalam keseharianku bersekolah.
"Kami memutuskan acara kelulusan untuk kelas dua belas akan jatuh pada tanggal 17. Itu artinya seminggu lagi untuk kalian bersiap-siap. Kalian berdoa saja agar kalian semua lulus. Kalian, 'kan masuk bersama maka keluarpun bersama juga. Benar tidak?" seru Pak Karta yang langsung membuat murid kelas dua belas bersorak heboh.
Aku tersenyum lebar melihat semua orang berbahagia dengan pengumuman diadakannya kelulusan. Aku ikut senang mendengarnya.
"Nanti kita nyalon ditempat yang sama, ya." ajaknya seraya tersenyum manis.
Aku terdiam melihat wajahnya. Dua hari lalu dia menangis hebat, kecewa dengan apa yang dilakukan Ibunya pada keluargaku. Tapi kesedihan yang begitu menyiksanya itu sudah tak nampak disorot matanya. Aku cukup lega dengan hal itu.
"Gue ikut aja, sih. Lagian gue nggak pernah nyalon." aku bergerak tak nyaman, merasa malu karena sebagai seorang cewek yang tak pernah berkunjung ke salon. Bahkan memakai make up saja nyaris tidak pernah.
Aku dan Kinan kembali fokus menghadap ke depan. Mendengarkan penuturan Pak Karta yang entah sampai kapan akan berhenti. Hingga sebuah dering ponsel disaku seragamku mengalihkan perhatian.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Dirma send picture.
Dirma : Hadiah dr gue wkwk :v
Dirma : Gausah mikir aneh², barusan gue minta Egar buat fotoin, hasilnya bagus kan? Gimana? Mau fto juga sama gue? Sebelum gue ngartis nih😃
Seketika wajahku tertekuk sebal. Masih saja dia mengirimi fotonya bersama Fajar. Tapi hatiku cukup senang melihat wajah mantanku yang selalu datar. Masih saja aku menyukai ekspresinya itu.
Zella : Gue fto sama lo? Yg ada ntar kameranya pecah😑
Ponselku kembali berdering. Ck! Itu cowok ada aja tingkahnya.
Dirma : Kok bisa pecah? Apa mungkin tuh kamera nggak kuat potret wajah gue yang ganteng ini kali yak😃
Zella : Aku tak pernah seserius ini padamu kawan😭 Dirma, kita bakal pisah nggak ketemu lagi, sehabis lulusan pasti lo udah nikah sm Maura kan huaaa😭😭
Ada jeda cukup lama ketika pesanku sudah terkirim beberapa menit lalu. Dirma belum terlihat akan membalasnya. Maka aku segera mematikan ponsel, kembali fokus menatap ke depan.
***
Keesokan harinya kelas dua belas sudah bebas. Sekarang apapun yang dilakukan tidak akan dilarang oleh guru. Mau bolos, mau ribut, mau bersenda gurau dimanapun juga akan dibiarkan.
Enaknya setelah ujian ya seperti ini. Aku sungguh menikmatinya. Saat ini aku sedang berada di kelas. Seperti hari-hari biasanya. Tidak ada yang istimewa.
Sayangnya tidak ada Kinan disampingku. Katanya ada urusan mendadak. Entahlah apa itu benar atau sekadar alasannya saja untuk menghindariku.
Mungkin Kinan belum sepenuhnya sembuh dari kesedihan yang menimpa hatinya.
Tanganku tergerak meraih ponsel yang berada didalam tas. Memainkan benda pipih itu untuk menghilangkan kebosanan.
Aplikasi pertama yang kutuju adalah instagram. Seperti biasa, aku hanya menggulir beranda. Karena semenjak putus dengan Fajar, tidak ada orang lain selain Dirma yang mengirimiku pesan.
Meski tidak sering, Dirma pasti muncul untuk menemaniku dikala kesepian.
Tiba-tiba sebuah foto membuatku menghentikan jemariku yang bergerak diatas layar.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
FajarvirendraAda sesuatu dibalik dirimu yang diam, kekhawatiran yang menjelma menjadi perhatian.
Sejenak aku menahan napasku. Aku merasa didalam caption-nya itu berkaitan denganku. Kalau iya, aku cukup senang. Karena baru kali ini dia membuat caption yang menyinggung diriku. Seironis itulah hidupku.
Entah kenapa jemariku tergerak untuk juga memposting sesuatu di instastory. Sudah lama sekali aku tidak membuat status.
Sudah berapa kali kubilang, aku masih disini, ditempat yang sama, meski tak lagi bersama.
Seandainya kami masih bersama, akan kuhabiskan sisa waktuku untuknya. Melewati lika-liku kehidupan. Duka nestapa akan sukar datang kalau kami terus berbagi kesempurnaan. Memberi kekuatan untuk menjalankan apa arti hidup yang sebenarnya.
Fajar
Tetaplah disana. Jangan pergi karena tak lama lagi aku akan kembali. Menceritakan kisah cinta yang belum lama terpendam oleh sang waktu.
-<<<FAJAR>>>-
Haloooww~
Aku mau ngasih info penting. Apa itu? Sebentar lagi cerita Fajar akan tamat. Mungkin beberapa eps nantinya akan terkuak semua rahasia yang membuat kalian kadang bingung dengan jalan ceritanya.
Tetaplah membaca, karena dengan membaca kalian akan bisa membaca hahaha:v